
Acara akad telah usai. Segalanya telah terpenuhi, baik dalam urusan administrasi dan penandatanganan dokumen-dokumen pernikahan, penyampaian nasihat pernikahan, dan pembacaan doa-doa. Dan, rangkaian acara pagi itu diakhiri dengan acara sungkeman, yang mewarnai perasaan haru bahagia penuh doa. Namun, jauh dalam sanubariku, ada sedikit perasaan sakit yang menyayat hati ini, yaitu tatkala kusadari aku tidak memiliki keluarga dari pihakku. Tidak ada orang tua yang di mana harusnya aku bersujud, sungkem kepadanya. Aku si anak yatim piatu yang menyedihkan. Dan persis pada saat itu aku bertanya-tanya, apakah di negeri seberang sana ayahku punya keluarga? Kakek, nenek, paman, atau bibiku? Yeah, yang kumaksud itu selain keluarga istri pertama ayahku.
Kau tahu, mungkin dukaku saat ini sama besar dan sama dalamnya seperti yang dirasakan oleh anak-anak yatim piatu yang tinggal di panti asuhan. Menurutku, ibaratnya itu "tali silsilah" atau "runtutan identitas" mereka seperti sudah terputus dengan jelas sejak mereka dititipkan ke panti asuhan. Kalau aku bagian dari mereka, kalau aku seorang anak yatim piatu yang besar di panti asuhan, barangkali aku tidak akan bertanya siapa keluarga kandungku. Aku akan berpikir sebagaimana masyarakat berpikir tentang mereka: yatim piatu berarti tidak punya orang tua, dititipkan di panti asuhan berarti tidak punya keluarga. Sebatas itu. Maka aku tidak akan mau memikirkan dari mana asal-usulku. Tapi, kenyataannya hidupku ini bagaikan tanaman pohon yang sudah mati, bagian atas yang tak lagi bertunas, tanpa dahan dan ranting-ranting yang baru, tapi jika aku ingin menggali ke dalam tanahnya, mungkin aku masih bisa menemukan akarnya. Seperti itulah seandainya aku mencari tahu siapa ayahku sebenarnya, barangkali aku akan menemukan kakek, nenek, paman, bibi, atau siapa saja keluarga ayahku. Tapi sayang, karena statusku sebagai anak hasil dari perselingkuhan, aku tidak punya keberanian untuk melakukan hal itu. Aku takut menerima penolakan, mungkin aku tidak akan pernah dianggap. Malang, itu yang pantas kukatakan kepada diriku sendiri.
"Berhentilah menangis," bisik Ak Jaka setelah kami selesai sungkeman pada tetuah keluarganya lalu langsung disibukkan dengan menerima salaman dan ucapan selamat dari para tamu undangan dalam antrean yang panjang. Ak Jaka memahami alasan air mata yang kembali menetes itu. "Kamu punya aku sekarang. Kamu tidak membutuhkan yang lain, ya kan, Sayang?"
Aku mengangguk tegas, mengusap air mata yang entah sejak kapan hadir di pelupuk mata. "Ya," kataku. "Aku tidak akan menangis."
"Bagus. Setelah antrean panjang ini selesai, kita mesti cepat-cepat pergi ke kamar."
Eh?
Hahaha! Aku nyaris terbahak kalau saja tidak berusaha menahan diri mengingat ada banyak orang yang sedang bersalaman dan berfoto dengan kami.
"Dasar tidak sabaran!" ledekku.
Dan benar saja, begitu antrean itu selesai, dan dirasa kami sudah cukup banyak mengambil foto bersama keluarga, Ak Jaka langsung menarikku ke kamar.
"Maaf, Kang, fotonya belum selesai. Sekarang kita ambil foto di sini, ya," kata si fotograper yang mengintili kami ke kamar bersama Kang Solihin dan Teh Husna.
Yeay! Sekarang waktunya berpose mesra!
Aku amat sangat antusias. Tapi sayang, Ak Jaka begitu kaku. Huh!
Ya, walau aku tahu hasilnya akan kurang memuaskan karena ekspresi Ak Jaka yang begitu kaku, tetap saja, jeprat-jepret kamera terus berlanjut.
Seusai berfoto, Kang Solihin dan Teh Husna mengajak kami keluar dari kamar untuk makan siang bersama dengan keluarga besar mereka.
__ADS_1
"Duluan saja, nanti kami menyusul," ujar Ak Jaka.
Lagi-lagi dia membuatku tertawa. Dasar modus....
"Nggak, nggak, nggak," protes Kang Solihin. "Dasar modus kamu, ya. Nanti malam kan masih ada banyak waktu buat kalian berduaan."
Aku mengulum senyum. "Aku sih terserah. Mau keluar sekarang hayuk, kalau mau nanti ya oke. Terserah, aku ikut saja bagaimana maunya suamiku."
Ckckck! Aku kena ledek.
"Duh... mentang-mentang sudah sah, ya...."
"Iya, dong, Teh. Aku kan istri yang berbakti."
"Prikitiw! Ampun deh mesranya pengantin baru." Kang Solihin terkekeh-kekeh.
"Sudah, ya...." Kang Solihin menyeret paksa Ak Jaka keluar dari kamar, diikuti Teh Husna yang juga menarikku. "Daripada kalian berdua diprotes oleh semua orang. Ayo, cepat."
Well, daripada berdebat lebih lanjut dan sepertinya Kang Solihin dan Teh Husna tidak membiarkan kami berdua terus di dalam kamar, kami pun mengikuti mereka ke ruang makan.
Di luar rumah, suara orgen tunggal bergema mengiringi suara biduan yang menyanyi, menghibur para tamu undangan yang tengah menikmati santap siang.
"Nah, ini dia pengantin kita," kata Bi Fatma, lalu ia menarikku dari sisi Teh Husna dan membawaku ke antara keluarga besarnya, termasuk keluarga para besannya, keluarga dari pihak Teh Husna, atau besan dari keluarga besannya.
Memang mestinya seperti ini, pikirku. Semakin banyak anak yang menikah, semakin banyak keluarga yang ikut terikat -- termasuk antar besan, yang akhirnya bisa disebut sebagai besan juga. Tapi dengan menikahiku, keluarga ini tidak menambah besan baru. Hanya ada aku, tanpa siapa pun.
"Mulai lagi," protes Ak Jaka dalam bisikan. "Jangan menangis. Aku tidak mau istriku meneteskan air mata."
__ADS_1
Aku tersenyum. "Ini air mata bahagia," kataku balas berbisik. "Aku... aku senang punya keluarga besar. Terima kasih," kataku.
"Ya, Sayang. Tapi bahagianya pakai senyuman saja. Jangan pakai air mata, oke? Daripada kamu menangis, lebih baik kamu banyak-banyak berdoa, semoga Tuhan memberikan banyak anak untuk kita dalam kurun waktu dua belas tahun."
Hah? Aku menyeringai. "Maksudnya bagaimana? Kamu mau aku hamil terus dalam kurun waktu dua belas tahun?"
Dia menyengir lebar. "Ya. Tidak perlu pakai KB."
"Buset, Ak. Kalau aku hamil terus tiap tahun, bisa punya selusin anak, dong? Gimana ngurusnya?"
Ya ampun, dalam hati aku meminta sepertiganya saja. Empat anak cukup.
"Jalani saja, Sayang. Seberapa yang Tuhan beri, kita terima. Kalau setiap tahun diberi, Alhamdulillah."
Bibirku maju dua senti. "Aamiin...," kataku. "Tapi aku akan memakai KB untuk enam bulan setiap pasca melahirkan. Rahimku harus istirahat, bukan? Dan anak kita butuh ASI ekslusif minimal enam bulan."
"Baiklah. Deal."
Kami berjabat tangan.
"Eleh-eleh... obrolan kalian jauh pisan. Belum juga malam pertama sudah bahas soal anak," komentar Kang Solihin membuat kami berdua memerah karena malu.
Oh, ya ampun, aku dan Ak Jaka bicara berbisik-bisik, tapi Kang Solihin malah bicara sebegitu kencang sampai semua orang mendengar.
"Apa itu bahas-bahas soal malam pertama?" goda Bi Fatma. "Nantilah, Jaka. Tunggu malam...."
Duh... pengantin baru malah jadi bahan bulan-bulanan keluarga.
__ADS_1
Merah padam wajah kami berdua. Malu....