
Satu bulan kemudian....
Setelah semua proses memperbaiki kekacauan yang telah terjadi akibat ulah saudara kembarnya benar-benar usai, Ak Jaka memutuskan untuk segera kembali ke kota dengan membawaku serta bersamanya. Dengan senyum bahagia kami pun berpamitan pada Mang Zulfikar sekeluarga.
Sekarang keadaan sudah tenang. Jaka Prasetya sudah mempertanggungjawabkan semua kesalahannya. Meski pada awalnya terpikirkan oleh para gadis hamil itu untuk menolak dan ingin melaporkan kembaran suamiku itu ke polisi, akhirnya mereka setuju juga setelah mendengar ancaman Ak Jaka yang berniat berubah pikiran: tidak akan bertanggung jawab pada kehamilan mereka seandainya mereka meminta Prasetya menebus kesalahannya di balik jeruji besi, mereka pun berpikir ulang dan akhirnya menerima pernikahan itu. Mereka lebih butuh jaminan hidup untuk diri mereka dan janin yang ada di rahim mereka ketimbang menghukum Jaka Prasetya. Pada akhirnya kembaran suamiku itu menikahi Puspa Sari, Arumi, Cinta, dan Yunita, plus satu gadis lagi. Bonita.
Meeski tidak hamil, gadis gemuk itu juga diperistri oleh Jaka Prasetya. Sebab, ternyata gadis itu juga sempat diperdaya. Prasetya membohonginya dengan mengatakan bahwa dirinya adalah perawan ke-tujuh yang nantinya akan dinikahi untuk menggantikan posisi Luna. Ternyata Bonita perawan ke-enam, bukan yang ke-tujuh. Karena rasa bersalahnya pada gadis itu, Prasetya pun memutuskan untuk bertanggung jawab, menebus kesalahannya kepada Bonita.
Tentu saja, Bonita tidak mungkin menolak.
Sedangkan Luna, nasibnya... entahlah. Baik atau tidak itu tergantung dari sudut pandang mana orang menilainya. Di satu sisi memang dia yang menolak dinikahi oleh Prasetya sejak ia mengetahui bahwa pria itu adalah Jaka Pradana yang palsu. Dan di sisi lain juga, Puspa Sari, Arumi dan Cinta kompak mengajukan syarat: mereka tidak ingin bermadu dengan Luna sebab mereka semua menilai Luna adalah gadis yang jahat karena turut andil dalam mengorbankan mereka untuk ritual tujuh darah perawan itu. Itu pula yang membuat mereka lebih memilih dan mendukung Prasetya menikahi Bonita. Sebab dengan begitu, Prasetya tidak bisa menikahi Luna karena dirinya dan Bonita adalah dua bersaudari dari satu ayah.
Sejujurnya, keadaan ini mengancam pernikahanku dan persaudaraan Ak Jaka dan Prasetya. Gadis cantik yang kukira lugu itu ternyata seperti perisai yang tajam. Entah sengaja atau tidak, dengan kesadaran ataukah akibat depresi, ia menggunakan kondisinya yang menyedihkan untuk membuat Ak Jaka merasa iba dan berharap akan menikahinya. Dia bahkan sempat berniat ingin bunuh diri dengan memotong nadi di pergelangan tangannya.
Jujur, aku kasihan pada gadis itu. Tapi, yeah, rasa iba itu tidak akan membuatku merelakan suamiku untuk dirinya. Sekalipun aku berhutang budi padanya. Tidak akan. Aku hanya punya rasa iba, namun bukan rasa bersalah. Seandainya suatu hari ia nekat bunuh diri lagi dan mati, itu adalah kesalahannya sendiri. Bukan kesalahanku dan bukan pula kesalahan Ak Jaka.
Yeah, Kawan, ini bukanlah kisah dalam sinetron. Untuk apa dirimu mengorbankan hatimu sendiri dan hati suamimu demi hati yang bahkan tidak memikirkan perasaanmu dan perasaan suamimu? Jangan menyakiti dua hati demi satu hati yang lain. Jangan korbankan kebahagiaanmu dan pernikahanmu hanya demi keegoisan orang lain. Karena menurutku, ketika kau mempertahankan milikmu, kau bukanlah orang yang egois. Sebab kau bukan mengambil hak orang lain. Kau hanya mempertahankan milikmu dan apa yang menjadi hakmu. Namun bila seseorang mengecapmu egois. Maka biarlah, jadilah egois. Katakan: "Aku memang egois. Aku tidak ingin berbagi suami dengan wanita lain."
Dan lagipula, terlepas apa pun yang terjadi pada diri Luna, suamiku tidak akan bersedia membagi cintanya. Dia hanya akan menjadi milikku seorang. Dan hanya aku yang akan selalu menjadi istri satu-satunya. Bukan hanya demi aku, Ak Jaka mengabaikan Luna juga demi saudara kembarnya. Tidak boleh lagi ada hal yang memicu keretakan dalam persaudaraan mereka.
Dan omong-omong tentang aku dan Prasetya, aku telah memilih untuk menceritakan pertemuan pertama kami itu kepada Ak Jaka. Toh, sama seperti yang dialami oleh gadis-gadis lainnya, aku pun terpedaya dan mengira bahwa pria itu adalah Jaka Pradana yang asli. Dengan bijaknya, Ak Jaka memaklumi apa yang terjadi kepadaku. Mau bagaimanapun, aku beruntung karena aku selamat karena secara tidak langsung, kedatangan Wenny saat itu telah menolongku.
Dan tentang gadis itu, Wenny, dan kesalahannya: adalah satu-satunya hal yang sampai saat ini masih kurahasiakan dari Ak Jaka, juga dari semua orang. Aku tidak ingin apa yang keluar dari mulutku menjadi kesalahan. Sebab aku tidak tahu secara pasti bagaimana kejadian yang sebenarnya. Bagaimana kalau ternyata Mentari-lah yang lebih dulu menyerang Wenny dan gadis itu hanya membela diri dan malah tak sengaja menyebabkan kematian Mentari? Wenny memang bersalah karena menjadi penyebab Mentari kehilangan nyawa. Tapi biarlah, walaupun suatu saat rahasia itu terbongkar, setidaknya itu bukan dari mulutku.
Keadaan sudah tenang saat ini, dan harus dinikmati. Ak Jaka membawa kami semua ke kota dan tinggal di rumah yang berbeda. Sebuah rumah besar telah disiapkan oleh Ak Jaka untuk adik kembarnya dan kelima iparnya. Sedangkan aku dibawa pulang ke rumahnya. Menjadi Nyonya rumah satu-satunya.
"Baiklah," ujar Ak Jaka setibanya kami di depan rumah mewah bertingkat itu. "Ruangan pertama yang harus kamu lihat adalah kamar tidur kita. Jadi... aku harus menutup matamu sampai kita berada di dalam kamar. Oke?"
Aku mengernyitkan dahi dengan bibir mencebik. "Haruskah?"
"Tentu saja."
Tanpa bisa kubantah, sebelum kami masuk ke dalam rumah, Ak Jaka menutup mataku dengan kain hitam yang memang sengaja ia siapkan. Aku jadi penasaran, ada apa? Apa iya karena sebegitu spesialnya ruang kamar itu sampai ruangan itu yang mesti kulihat pertama kali? Lalu, seperti apa kamarnya?
__ADS_1
"Ingat," bisik Ak Jaka di telinga. "Jangan buka penutup matamu sebelum aku mengizinkan. Aku tidak perlu mengikat kedua tanganmu, kan?"
Aku memberengut. "Ya," kataku, lalu Ak Jaka menggendongku tiba-tiba, membuatku memekik.
"Rileks, Sayang. Kujamin kamar kita akan membuatmu sangat bahagia."
Iyuuuuuh...! Aku tersenyum-senyum. Apa yang dia persiapkan?
Dari pergerakan yang kurasakan saat berada dalam gendongannya, aku dapat mengira bahwa kamar kami ada di lantai atas. Dapat kurasakan ketika Ak Jaka membawaku menaiki tangga. Dan ketika kami sampai dan memasuki ruangan, seketika pintu tertutup dan aroma wewangian langsung menyapa penciumanku.
“Taraaaaa...!” ucap Ak Jaka sambil melepas kain hitam itu dari mataku. Seketika mataku membelalak.
Aku terperangah menatap ke sekeliling. “Ya ampun, indah sekali, Ak!" teriakku senang.
Kamar itu didominasi warna ungun muda yang begitu lembut. Tirai, seprai, bantal dan selimut, begitu juga karpet berbulu yang menutupi lantai yang berkeramik putih, senada dengan warna putih langit-langit kamar. Ada beberapa tangkai bunga mawar berwarna pink dan putih di nakas kecil di sisi kanan dan sisi kiri ranjang, dan sebuah cermin super besar menempel pada dinding, sekitar satu meter di sisi kepala ranjang. Aku menautkan alis dan menatap Ak Jaka.
Yang ditatap hanya tersenyum penuh arti, lalu membawaku ke depan cermin. Aku tahu, aku tidak perlu bertanya apa maksud dari penataan barang-barang di kamar ini. Kenapa ada cermin sebesar itu di sisi kepala ranjang, dan kenapa ada karpet berbulu lengkap dengan toughage dan se* pillow di lantai, persis di tengah-tengah ruangan.
Aku mengerti semuanya.
“Selamat datang di rumah kita," bisik Ak Jaka. "Aku mencintaimu. Aku sangat mencintaimu," diucapkannya kata-kata itu dengan penuh penekanan sementara kedua tangannya melingkar sempurna di pinggangku.
Aku tersenyum, masih dengan rona merah di wajahku. "Aku juga sangat mencintaimu," kuucapkan kata-kata itu dengan penekanan yang sama. Lalu Ak Jaka balas tersenyum. Kemudian kepalanya menunduk dan ia mencium leherku.
Mataku membulat, aku bisa melihat dengan sangat jelas pantulan di dalam cermin. Bayangan di mana bibir Ak Jaka bergerak pelan menyusuri setiap jengkal kulitku. Dan wajahku kian memerah. Terlebih...
Dia membuka kemejanya, dan dengan mudahnya pula pria itu menarik turun ritsletingku hingga dress yang kukenakan terlepas.
Oh Tuhan… aku menunduk malu, tak sanggup menatap bayangan di cermin itu. Belum polos sepenuhnya saja rasanya semalu ini. Bagaimana kalau...?
Ah, malu!
"Sempurna," kembali Ak Jaka berbisik dengan suaranya yang sexy -- sesexy tubuhnya yang menempel hangat di kulitku.
__ADS_1
Aku gemetar, dengan jari-jemarinya Ak Jaka membelaiku, menelusuri lekuk perutku, membuatku teringat sesuatu....
Yeah, sesuatu yang hari ini ingin kuberitahukan kepadanya.
"Ak?"
"Emm? Ada apa, Sayang?"
"Emm... ada yang ingin kukatakan."
"Apa itu?
Aku tersenyum. Kuraih tangan Ak Jaka dan menempelkannya di perutku. "Kurangi intensitas bercinta kita, ya? Ada yang harus kita jaga di dalam sini."
"Emm?" Praktis kening Ak Jaka mengerut. Bingung. "Kamu bilang apa tadi?" Sekarang wajahnya berubah ceria. Mulai mengerti. "Maksud... maksudmu apa?" Sebelah alisnya terangkat, dan senyumnya merekah. "Kamu...?"
Aku mengangguk. Kembali tersenyum.
"Kamu hamil?"
"Hu'um, testpack-nya positif."
"Serius?"
Uuuuuh... senyum bahagia itu kian mengembang sempurna.
"Terima kasiiiiiiih...!" Ak Jaka mengangkat tubuhku dan memutar-mutarku sambil meneriakkan kebahagiaan.
Membuatku memekik. "Berhenti, Ak...," teriakku. "Nanti aku jatuh...."
Dia masih saja tertawa saat menurunkan aku dari gendongannya. "Aku sangat bahagia. Sangat, sangat bahagia. Terima kasih." Dipeluknya aku erat-erat dan diciumnya aku berulang kali. Lalu tiba-tiba ia bersimpuh, membelai dan menciumi perutku, kemudian berbisik, "Kamu anugerah terindah dalam hidup Papa. Seperti Mama, kamu juga yang paling berharga dalam hidup Papa. Yang sehat, ya, Sayang. Papa menantikanmu."
Tepat pada saat itu air mataku menetes. Aku bahagia. Amat sangat bahagia.
__ADS_1
Gadis sebatang kara ini tidak sendirian lagi.
Terima kasih, Tuhan. Aku bersyukur untuk kisah cintaku yang sempurna, sangat indah dan bahagia. Terima kasih....