7 Darah Perawan

7 Darah Perawan
Harus Bijak!


__ADS_3

Kalau ada penghargaan untuk seorang gadis yang bisa melakukan segala hal secara kilat, maka Jelita dan Juwita layak dijadikan sebagai kandidat yang pantas menerima penghargaan itu.


Entah bagaimana, barangkali mereka memasang tangga panjang di belakang tembok tinggi yang memagari villa itu hingga tahu-tahu kedua gadis berambut pirang itu berjalan menghampiri kami dari arah tembok tinggi di belakang sana. Dan tiba-tiba, secara kilat pula, mereka berdua melepaskan dress cantik dari tubuh mereka yang indah.


Yeah, entah sejak kapan, penampilan keduanya yang dulunya terkesan tomboy dan agak-agak urakan, sekarang malah terlihat begitu feminin. Mereka tampak begitu cantik dan sangat mempesona. Tapi sayang...


Ya Tuhan, aku ternganga menyaksikan ketelanjangan mereka yang tanpa malu dan tanpa melihat situasi, mereka melepaskan pakaian begitu saja dan tanpa berdosanya mereka memamerkan tubuh yang indah itu di hadapan kami.


Aku nyaris tidak menyadari bagaimana reaksi Ak Jaka dalam beberapa detik saat kedua gadis berambut pirang itu tiba-tiba ada di villa yang kami tempati. Karena ketercenganganku sendiri, aku tidak tahu apakah Ak Jaka terkesima pada tubuh telanjang mereka yang begitu mempesona, apakah itu membuatnya meneteskan air liur, atau malah membuatnya merasa jijik? Entahlah. Yang kusadari, Ak Jaka telah memalingkan pandangan dari ketelanjangan kedua gadis pirang itu ketika ia bertanya, "Siapa kalian?" Ia mendekap bagian depan tubuhku ke dadanya. Bermaksud melindungi dadaku yang telanjang. Praktis aku pun cepat-cepat membenahi bra-ku dan menaikkan kembali bahu dress-ku ke pundak, menutupi dadaku yang terbuka.


"Oh, dengan mudahnya kamu melupakan kami." Mereka berdiri di ujung kolam untuk meregangkan tubuh sebelum akhirnya ikut menceburkan diri ke dalam air.


Oh, *hit!


Aku kaget bukan main. "Hei!" teriakku yang ditelan suara ceburan tubuh mereka yang terhempas, menembus permukaan air. "Apa-apaan kalian? Kurang ajar!"


"Diamlah, Gadis Kecil! Kami kemari hanya untuk menagih janji."


"Janji apa?" gumamku dan Ak Jaka bersamaan, mengernyitkan dahi.


"Janjimu untuk memuaskan kami." Ia menatap tajam kepada Ak Jaka.


Yang ditatap menggeleng-geleng kebingungan. Di saat itulah aku menangkap segala hal: bahwa Jaka yang bersamaku benar-benar tidak mengenali kedua gadis pirang itu, reaksi bingung yang tersirat di wajahnya bukanlah berupa sandiwara, yang berarti dia memang suamiku, Jaka Pradana dan dia benar-benar memiliki saudara kembar yang wajahnya sama persis dengan dirinya. Dan, aku juga mengerti pada janji yang ditagih oleh kedua gadis itu.

__ADS_1


"Kami sudah menyelamatkanmu dari kakek kami dengan mengatakan bahwa Batu Pemikat Jiwa yang asli berada di tangan Dukun Kubro. Kami juga tidak mengatakan kepadanya bahwa kamulah yang sudah memperdaya kami dan mengikat kami di belakang villa waktu itu. Apa kamu ingat? Jadi sudah sepantasnya kamu menepati janjimu kepada kami. Puaskan kami sekarang."


Ak Jaka mengumpat marah. Ia menggeram dengan menyebut nama Prasetya. "Maaf, tapi kalian salah orang."


Kedua gadis itu saling melirik dengan dahi mengernyit bingung.


"Yang kalian cari adalah saudara kembarku. Jaka Prasetya. Bukan aku. Aku Jaka Pradana yang asli."


Mereka tidak akan percaya, pikirku.


"Jangan membodohi kami."


"Aku tidak membodohi kalian. Aku tidak berbohong."


"Baiklah. Terserah kalau mereka tidak percaya." Ak Jaka meraih ponselnya yang tadi ia letakkan ke tempat semula, menghubungi dan memerintahkan pengawal yang berjaga di depan untuk segera ke halaman belakang. "Silakan, kalian bisa pergi dari sini," ujar Ak Jaka setelah menutup telepon. "Aku tidak punya urusan dengan kalian berdua. Tolong pergilah."


Juwita mendengus. "Sombong sekali! Dasar pria tidak tahu diuntung! Kamu bersandiwara di hadapan kami dan tidak menepati janji. Kami tidak bisa menerima penolakan ini!"


Kedua gadis itu berang. Dan itu artinya gawat. Yang mampu mengalahkan mereka itu Jaka Prasetya, entah bagaimana dengan Jaka Pradana.


"Sabar, sabar," kataku menengahi, persis pada saat itu para pengawal berhamburan ke halaman belakang. "Tidak masalah kalau kalian tidak percaya kepada kami. Tapi pria ini suamiku. Kuharap kalian mengerti dan menghargaiku sebagai istrinya, dia bukan pria bebas yang bisa berhubungan *eks dengan wanita lain. Tapi kalau kalian sedang kepingin berhubungan *eks, coba tawarkan diri kalian kepada mereka."


Kesepuluh pria gagah yang berdiri di pinggir kolam membelalakkan mata. Atau sudah terbelalak sedari tadi? Eh?

__ADS_1


"Apa-apaan ini?" Ak Jaka menggeram dan aku mendelikkan mata kepadanya. Lalu aku berbisik bahwa aku tidak ingin kami terlibat pertikaian dengan kedua gadis pirang itu sebab kakek mereka adalah sosok tua yang sangat sakti. Dia akan selalu menolong dan membela kedua cucunya.


Untunglah Ak Jaka mau mengerti. Sungguh aku tidak ingin berurusan dengan kedua gadis itu apalagi dengan kakeknya yang memiliki tenaga dalam luar biasa itu. Sebongkah batu yang keras saja bisa hancur oleh kekuatan tangannya, dan, daun-daun pohon langsung berguguran hanya dengan satu hentakan kakinya, apalagi P-nya suamiku. Bisa-bisa telurnya pecah dan segala jenis bulu di tubuhnya tidak berguna lagi untuk menunjang ketampanannya jika ia terkena hantaman kakek berjanggut putih itu. Seorang pria sejati, meski ia tampan dan gagah, ia tidak akan merasa hidup tanpa kejantanan yang menunjang kehidupannya. Aku tidak ingin suamiku menjadi korban dari ketajaman lidah kedua gadis pirang yang ahli memfitnah itu.


Yeah, untunglah Ak Jaka benar-benar bisa mendengarkan kata-kataku.


Kedua gadis pirang itu kembali saling melirik. Ada tanya dan jawab dalam tatapan mereka.


"Silakan, Girl," kataku. "Tapi tolong jangan ada pemaksaan. Hanya jika pria-pria gagah ini bersedia. Oke?" Lalu aku berpaling kepada para pengawal itu. "Ini bukan perintah, dan kami juga tidak akan melarang. Silakan bagi siapa saja yang bersedia untuk saling memuaskan hasrat dengan mereka. Pastikan saja hanya ada kepuasan, bukan kekerasan. Bisa dipahami?"


Dengan menggenggam tangan Ak Jaka, kutarik ia keluar dari kolam dan meninggalkan halaman belakang.


Ini gila, pikirku. Aku tidak menyangka aku akan berhadapan dengan kedua gadis pirang yang sangat berbahaya itu. Kalau mereka tidak dihadapi dengan baik, mereka pasti sudah mencopot dan menanggalkan kejantanan suamiku dari tempatnya.


Aku menggeleng-geleng. Jangan sampai hal itu terjadi. "Tolong pastikan mereka tidak berbuat kekerasan kepada gadis-gadis itu, Ak," pintaku pada Ak Jaka saat kami masuk ke dalam villa menuju kamar di lantai atas. "Kalau ada yang bersedia memenuhi hasrat mereka, pastikan saja mereka membuat gadis-gadis itu senang dan akhirnya mereka bisa pergi sendiri dari sini. Pokoknya jangan membuat mereka marah dan tersinggung, ya. Atau mereka akan menyadukan yang tidak-tidak pada kakek meraka. Mereka itu ahlinya dalam memfitnah orang. Mereka itu berbahaya."


"Memangnya seberapa hebat kakek kedua gadis itu?"


Hah! Pertanyaan yang bagus! Sekarang aku malah menyengir konyol. "Bayangkan, sebongkah batu saja bisa hancur hanya dengan kekuatan tangannya. Apalagi kalau dia meluma* onderdil milikmu. Ugh! Pasti ngilu. Jangan sampai dia melakukan itu. Biar aku saja."


"Tentu saja. Dengan senang hati. Silakan, lumatlah aku dengan bibirmu. I'm yours, Baby."


Ugh! Dasar pria! Dia malah kegirangan.

__ADS_1


__ADS_2