7 Darah Perawan

7 Darah Perawan
Lari!


__ADS_3

Sakit hati membuatku mengambil keputusan lain. Aku ingin meninggalkan desa dan pergi ke kota untuk kuliah dan sekalian mencari pekerjaan. Aku harus move on, kataku kepada diriku sendiri. Sambil menangis semalaman, aku sudah memikirkan semuanya dengan matang.


Keesokan paginya, melihat sebuah mobil hitam terparkir di halaman rumah tetangga sebelah, aku pun melangkahkan kaki ke sana, bermaksud mengembalikan kunci duplikat rumah itu. Dengan memberanikan diri, aku menghela napas panjang dan melangkah masuk, saat itulah tiba-tiba terdengar suara seorang perempuan yang seolah sudah tidak asing lagi.


Cinta, gadis muda cucu tetangga depan rumah ada di rumah itu. "Kalau harapan berubah menjadi kekecewaan, memang hebat akibatnya. Tapi tenang saja. Akang hanya sedang menghadapi ujian berat. Ujian itu akan berubah menjadi malapetaka jika Kang Jaka memang berbuat apa yang dikatakan oleh gadis-gadis itu kemarin."


"Siapa yang bicara?" gumam pria yang sekarang menjadi bajingan di mataku.


Dalam kagetnya, pria dewasa itu memalingkan pandangannya. Di hadapannya berdiri seorang gadis tinggi semampai berkulit putih. Pakaiannya yang berwarna biru gelap dan berbahan kain tipis membuat kecantikannya tambah menonjol. Rambutnya yang panjang tergerak melambai-lambai ditiup angin dari kipas yang berputar-putar di langit-langit ruangan.


"Gadis yang cantik," ujar Oom Jaka perlahan setengah berbisik. Pria itu tersenyum semringah.


Tentu saja dia tidak bisa menahan diri, pikirku. Kemunculan si Cinta cucunya Nek Aluh sangat mengembirakan dan mampu menghibur hati Oom Jaka. Kenapa juga aku harus peduli? Aku harus melupakan Oom Jaka. Aku tidak boleh cemburu.


"Akhirnya ada juga tetangga yang mengunjungiku. Terima kasih, ya. Aku bersyukur kamu berada di sini," kata Oom Jaka, lalu dia teringat pada ucapan gadis bernama Cinta tadi. "Kata-katamu tadi, apakah kamu sudah lama berada di sini dan mendengar...?"


Gadis itu mengangguk. "Aku mendengar semua yang dikatakan dua gadis berambut pirang itu kemarin. Aku juga mendengar apa yang diucapkan gadis bernama Mentari," katanya sambil tersenyum. Senyuman yang benar-benar memikat dan membuat hati Oom Jaka seakan sejuk hingga kemarahannya dan kejengkelannya benar-benar lenyap.


"Kamu... kamu mempercayai apa yang mereka katakan?"


Gadis itu kembali tersenyum. "Akang tidak boleh bertanya seperti itu. Tapi Akang justru harus membuktikan bahwa Akang tidak melakukan apa yang dituduhkan mereka kepada Akang."


"Mereka bertiga menuduhku. Aku sendirian. Fitnah mereka dalam waktu singkat tentu akan tersebar luas di wilayah ini. Sebelum aku bisa membuktikan diriku tidak berbuat keji, namaku sudah tercemar tidak karuan."


Ya Tuhan, apa maksudnya? Kenapa sekarang aku seolah tidak mengenali pria itu? Dia pandai sekali bersandiwara.


"Itulah hidup. Ketulusan kasih tidak selalu muncul cerah di mana-mana. Sesekali redup, bahkan bisa pupus oleh hal-hal yang tidak terduga. Apalagi jika Akang tidak bisa membuktikan diri Akang benar-benar bersih."


Kembali merasa jengkel, pria itu mengumpat. "Aku bersumpah!" Dia menggelengkan kepalanya. "Percuma saja! Siapa yang mau percaya!"


"Ssst...!"

__ADS_1


Astaga, aku terkesiap. Sungguh berani gadis itu menggoda Oom Jaka. Bukannya malah waspada dan mencari tahu tentang kebenaran gosip yang sedang beredar, dia malah begitu berani menghimpitkan dadanya kepada pria itu.


"Sesungguhnya aku tidak peduli pada gosip itu. Aku percaya pada Akang."


Si pria mengangkat alis. "Sungguh? Dan ini...? Apa maksudnya?"


"Akang mengerti maksudku." Cinta menurunkan ritsleting gaunnya dan membiarkan gaunnya terlepas, jatuh di atas kaki. "Aku datang kemari untukmu."


Srettt....


Gadis itu benar-benar menantangnya. Dia membuka ritsleting celana jins Oom Jaka yang ternyata tak ada pembungkus apa pun lagi di dalam bagi seonggok... sesuatu. Sesuatu yang perkasa.


Gadis itu dengan sigap berjongkok lutut di hadapan sang pria impianku, mantan pria impianku. Dia tersenyum, menggenggam apa yang ada di depan matanya dan memasukkannya hingga mencapai kerongkongan.


Argggggggh...!!!


Mereka sama-sama menikmati momen itu. Oom Jaka bahkan sampai mendesis tak tertahan, mengeran* tak karuan. Begitu menikmati.


Gadis cantik itu segera menurut. Sekarang di depan mata dan kepalaku, Oom Jaka menghimpitkan gadis cantik itu ke meja makan berbahan jati yang dicat hitam mengilat, meja tua namun jelas masih begitu kokoh, kemudian membaringkannya di atas meja.


"Kamu datang ke sini untukku?"


"Yeah. Hanya untukmu."


"Apa yang kamu maksud termasuk hal ini? Jika iya...?"


Gadis itu sudah mengangkan*. Membuka interval kakinya di hadapan Oom Jaka. Dengan cengiran menjijikkan, pria itu menarik lepas sutra tipis yang Cinta kenakan.


"Well...." Satu jari pria itu memeriksa ke dalam diri gadis itu. "Kamu perawan," katanya sambil menyengir kesenangan setelah pemeriksaan yang ia lakukan, dengan jemari membelai demi sebuah *angsangan, membuat Cinta menggelia* bak cacing kepanasan. Dia *endesah. *esahan yang membuatku merinding dan berkeringat menyaksikan adegan itu di depan mata.


Ya Tuhan. Ya Tuhan. Ya Tuhan. Lututku lemah. Tak bisa lari. Dan rasa penasaran malah terus menahanku di tempat.

__ADS_1


Suasana di dalam sudah begitu panas. Aku melihat sendiri, Oom Jaka pun sudah tak mengenakan apa pun untuk menutup diri. Lalu ia menghunjam. Membenamkan setengah diri kepada gadis itu. Menekan. Berusaha terus menekan. Berusaha...


Ah, kau tahulah maksudku. Mataku terus awas, nyalang menyaksikan ketika kejantanan itu berusaha merenggut keperawanan Cinta. Dan...


"Akaaaaang...!!!"


Jeritan Cinta membuatku ngilu. Ngilu....


Deru napasku sama kuatnya seperti kedua insan di dalam sana, di dalam ruang makan itu. Namun aku terus berusaha menutup mulutku dengan kedua telapak tangan.


"Terima kasih, Cinta...."


Si gadis sudah tak berdaya. Tak sadarkan diri. Sementara si pria menarik kursi, menghempaskan diri. Ia duduk di hadapan kelembutan surga yang sudah ia cicipi kemanisannya.


Belum. Belum sepenuhnya. Sebab... sebab pria itu memejamkan mata, lalu seperti berdoa -- tidak, mungkin lebih tepatnya membaca mantra, kemudian...


Benar seperti yang dikatakan oleh sepasang gadis pirang itu, Oom Jaka... dia... menjilati darah perawan gadis itu dari *emaluannya yang terluka. Dari selaput dara yang sudah terkoyak karena kejantanan dan kegagahannya.


"Well, sekali lagi terima kasih, Gadis Cantik." Pria itu tersenyum, kemudian ia mencabut sehelai rambut halus dari *elangkangan gadis itu, mengecupnya, kemudian menaruhnya di atas telapak tangan yang terbuka. "Akhirnya, ya. Ini yang ke-empat. Tinggal tiga darah perawan lagi, maka ritualku akan genap. Tujuh darah perawan yang akan selalu membawa keberuntungan."


Tuhan... dadaku bergemuruh. Sungguh, aku tidak salah mendengar? Oom Jaka yang kukenal sebagai pria dari kalangan atas, kaum intelek, menganut ilmu hitam?


"Oke, JP. Simpan dulu benda keramat ini ke dalam dompetmu."


Kaki kursi berdecit, beradu dengan lantai saat pria itu bangkit dari duduknya, dan persis di saat itu aku tak sengaja mendesis karena gigi sensitifku merasa ngilu mendengarnya.


"Hei, siapa di sana?"


Gawat! Aku ketahuan! Lari! Lari! Lari idiot! Lari!


Terseok-seok, kakiku yang gemataran kupaksakan untuk berlari secepat mungkin!

__ADS_1


__ADS_2