7 Darah Perawan

7 Darah Perawan
Rindu Berkarat


__ADS_3

Tak lama setelah kejadian heboh di depan rumahku, walau berada di dalam kamar yang nyaman, lama-lama aku merasa gelisah sendiri. Aku duduk di tepi ranjang yang empuk, lalu berbaring, dan sesekali kembali berdiri di belakang satu jendela, memandang ke luar ke arah pekarangan yang dipenuhi berbagai bunga yang tengah berkembang. Di tengah taman tiba-tiba seolah muncul bayangan sosok Oom Jaka. Melambaikan tangan ke arahku. Tersenyum.


Aku sampai tersentak. "Ya Tuhan, pertanda apa ini? Kenapa bayangannya mendadak muncul seperti itu?"


Aku menjauhi jendela. Lalu melangkah kembali ke tempat tidur. Di sudut ranjang, tergeletak serangkaian mawar merah dalam buket yang indah. Aku telah beberapa kali melihat bunga-bunga itu. Semua bunga yang ada dalam buket besar itu selain bagus dan memiliki warna merah yang indah juga menebar bau harum yang semerbak. Aku tersenyum mengingat pria yang memberikan buket bunga itu untukku. Dia tidak pernah memberiku bunga sebelumnya, sekali pun tidak pernah. Dan sekarang dia memberiku buket bunga mawar, warna merah pula.


"Kata orang mawar merah itu sebagai tanda cinta. Apa itu artinya dia mencintaiku?" Aku tersenyum sendiri, dan mulai berangan....


Tapi angan-angan itu segera membuyar ketika ponselku berdering. Ada panggilan telepon masuk, panggilan video dari Wenny. Ada apa dia menelepon? Hatiku jadi bertanya-tanya.


Klik!


Sambungan telepon video terhubung.


"Halo, Wulan," Wenny menyapa.


"Ya, Wen?"


"Kamu melihat kehebohan di depan rumahmu tadi?"


"Ya," kataku. "Tapi aku tidak berani keluar. Takut jadi sasaran celurit Nek Aluh."


"Ya, sama," kata Wenny. "Aku juga tidak keluar karena takut. Nek Aluh kalau sudah marah tidak terkendali. Dia jadi tidak waras."


"Hu'um," sahutku. Sama sepertimu. Seperti yang kamu lakukan pada Mentari. Kamu bahkan lebih tidak waras lagi, sampai-sampai kamu bisa kalaf dan melenyapkan nyawa orang lain.


"Jadi, Wulan, bagaimana sekarang? Kan tadi sepertinya mereka ingin ke rumahmu, tapi terhalang. Otomatis lain kali pun akan seperti itu, kan? Kamu pun pasti takut keluar rumah, khawatir malah bertemu dengan Kang Jaka yang satunya, jadi bagaimana kalian bisa bertemu untuk menyelesaikan masalah?"


Huft, aku menggelengkan kepala, aku sendiri pun bingung. "Entahlah," kataku pada Wenny. "Melihat situasi sekarang, rasanya Oom Jaka pun sulit untuk berkeliaran."


"Nah, itu, kalian sama-sama dalam situasi yang sulit."


"Ya, aku tahu. Tapi mau bagaimana lagi? Aku tidak berani keluar demi rasa aman."


"Bagaimana kalau kamu saja yang keluar? Mereka tinggal di villa Kang Aji. Nanti aku yang akan mengantarmu."


Hmm... itu sama berbahayanya untukku. Aku mana berani lagi berduaan saja denganmu. Aku takut mati.


"Wulan?"


Huft, selama ini Wenny memang baik padaku. Tapi tetap saja, sekarang berhubungan baik dengannya memiliki risiko tinggi. "Entahlah, Wen. Lagipula dengan alasan apa aku harus menemuinya, ya kan?"


"Dengan alasan cinta."


Eh?


"Kok kamu... bilang begitu?


Ah, kurasa wajahku bersemu merah. Seperti pucuk daun merah yang baru bertunas.


"Sudahlah, aku tahu kamu mencintainya."

__ADS_1


"Wen...."


"Jangan bohong, Girl...."


"Sudah dong, Wen. Jangan menggodaku."


"Sejak kapan, sih?"


"Wenny...."


"Baiklah, baiklah. Jadi sebenarnya hubungan kalian berdua sudah sejauh mana? Sudah terikat atau punya status yang jelas?"


Euw... aku menghela napas dalam-dalam. "Boro-boro, Wen...."


"Ya ampun...."


"Sudahlah. Tidak usah dibahas."


"Perlu, dong! Sekarang aku tanya padamu. Apa kamu pernah mengatakan isi hatimu pada Kang Jaka? Apa dia tahu kalau kamu mencintainya?"


Sepasang mata cokelat-ku memandang lekat-lekat pada gadis di layar ponselku, seolah membesar dan berbinar. Di dalam hati aku berkata: Aku memang tidak pernah berterus terang pada Oom Jaka. Tidak mungkin seorang gadis mendahului membuka isi hatinya. Namun... mungkin ketidak tahuan ini membuat Oom Jaka bersikap biasa padaku. Tapi sekarang lebih rumit, sekalipun dia tahu, aku mesti bertindak hati-hati. Karena belum pasti, bukan, siapa yang menyatakan cinta kepadaku dan kunyatakan cinta kemarin itu? Oom Jaka Pradana yang asli atau kembarannya?


"Kebisuanmu memberiku jawaban."


Aku mengusap wajahku. "Kamu benar, Wen. Aku memang tidak pernah mengatakan isi hatiku padanya. Sekarang semuanya sudah kasip. Biar tetap kupendam entah sampai kapan."


"Aku bangga melihat ketabahanmu, Lan."


"Suara apa itu?"


Waduh, gawat. Jangan sampai Wenny bertanya-tanya soal ponsel itu. Semoga dia tidak tahu tentang ponsel itu. Kalau tidak, dia akan salah paham padaku dan mengira aku memanfaatkan kebaikan pacarnya. Gawat. Aku berdeham. "Ada telepon masuk di ponselku yang satunya."


"Uuuh... dari siapa ituuuuuu?"


Dari Kang Aji. Nomor Kang Aji yang tertera. Bisa mati aku kalau Wenny tahu. "Dari Kang Solihin," dustaku.


"Ayo buruan angkat. Itu pasti dari Kang Jaka."


Aku mengangguk. "Ya," kataku. "Aku tutup dulu telepon darimu, ya."


"Baiklah. Bye, Wulan."


Uh, akhirnya, selesai juga pembicaraanku dengan Wenny.


Well, aku segera menolak panggilan telepon dari nomor Aji. Aku tidak boleh menerima telepon dari nomor itu. Mana tahu nanti Wenny menelepon nomor telepon pacarnya itu dan tahu saluran telepon pacarnya sedang sibuk, bisa-bisa dia berpikir negatif bahwa nomor baruku dan ponsel baru itu khusus untuk menelepon dan menerima panggilan telepon dari Aji. Aku khawatir Wenny tidak mau mendengarkan penjelasan dari siapa pun.


Please... kalau ini Oom Jaka, telepon aku dengan ponsel Kang Solihin saja. Itu akan lebih aman. Aku mohon... telepon aku. Segera.


Permintaanku terkabul. Ponselku berdering dengan panggilan masuk dari nomor Kang Solihin. Dengan cepat aku menerimanya.


"Halo?"

__ADS_1


"Halo, Neng. Punten...?"


"Ya, Kang, ada apa, ya?"


Huh! Gara-gara saling melontarkan kata-kata yang tidak baik tadi pagi, aku dan Kang Solihin jadi sama-sama merasa tidak enak. Kikuk.


"Anu, ada yang ingin bicara."


"Siapa?" tanyaku, pura-pura tidak tahu namun sebenarnya amat sangat berharap. Ayo, katakan....


"Kang Jaka, Neng. Kalau Neng Wulan bersedia, Kang Jaka mau bicara dengan Neng Wulan. Apa boleh?"


Aaaaah... ingin menjerit hatiku. "Ya, boleh," sahutku. Bahkan aku sudah menunggu.


Detik berselang, tanpa mendengar apa pun, aku tahu ponsel itu sudah berpindah tangan.


"Hai...."


Oooh... seketika ada yang meletup-letup di dalam dada. Hatiku berdebar-debar begitu mendengar suaranya. Persis seperti setiap kali nenek menekan menu loudspeaker saat Oom Jaka meneleponnya dulu.


"Hai."


"Ini saya, Jaka."


"Em, ya."


Lalu hening....


"Wulan?"


"Ya?"


"Soal tadi siang...."


"Aku minta maaf. Aku tidak bermaksud...."


"Saya yang harus minta maaf. Kamu pasti sangat ketakutan begitu melihat saya tadi. Emm... saya sudah mendengar...."


"Aku sudah mendengar semua penjelasan... Oom... tadi. Aku tahu kalau tadi ada keributan di depan rumah. Maaf... karena aku tidak berani keluar."


"Oh, tidak apa-apa. Tentu saja, kamu harus tetap di dalam rumah. Akan bahaya buatmu kalau tadi kamu keluar mengingat kondisi kakimu yang cedera. Bisa-bisa kamu kena sabetan celurit."


"Ya. Celurit karatan," candaku, membuat Oom Jaka di seberang sana tertawa. Dan aku bahagia bisa mendengar suara tawa itu lagi. Suara tawa yang amat sangat kurindukan.


"Ya, karatan," gumam Oom Jaka. Saat itu aku khawatir sekali, aku takut dia mengira bahwa aku telah mengejek dirinya dan usianya. Tapi tidak, sebab berikutnya dia malah berkata, "Seperti kerinduanku padamu. Sudah berkarat-karat. Sangat berat. Aku merindukanmu, Wulan. Aku sangat merindukanmu."


Demi Tuhan, kembang-kempis dadaku. Seperti akan mati lalu dipindahkan ke surga.


"Kalau begitu datanglah," isakku. Aku mulai menangis. Ada rasa yang mengharu-biru. "Aku juga sangat merindukanmu...."


Datanglah....

__ADS_1


__ADS_2