
"Jelita! Juwita! Di mana kalian, cucu-cucu durhaka?" suara kakek berjuba hitam menggema dari kejauhan, diselubungi hawa amarah.
Mendengar suara itu, di bawah sana, di halaman belakang villa, si Jaka yang baru saja hendak membukakan ikatan tali dari pergelangan tangan si cantik Juwita, seketika tersentak dan cepat-cepat meraih boxer-nya, sambil buru-buru mengenakan boxer-nya dia berkata, "Jangan beritahu kakek tua itu kalau batu hitam itu sudah kembali ke tanganku. Aku mohon, tolong." Dia nampak gusar.
"Mudah saja," sahut Juwita. "Tapi wajib ada imbalannya. Bagaimana?"
Pria itu, yang sekarang tengah berkutat memunguti pakaiannya tersenyum konyol. "Mudah saja. Lain kali akan kupuaskan kalian lagi," ujarnya. "Aku pergi dulu."
Pria itu langsung menghilang entah ke mana setelah menutupi tubuh telanjan* kedua gadis itu dengan jubah yang ia bentangkan secara asal, sedangkan ia sendiri melarikan diri dalam keadaan hanya mengenakan boxer.
Di saat bersamaan, suara si kakek kembali menggema dari kejauhan. Persis di saat itu aku cepat-cepat mengarahkan teropong jarak jauh ke arah tebing, si kakek berjuba hitam sudah muncul dari pinggir tebing dengan sebuah tonggak hitam dengan besi runcing hitam mengilat di ujungnya.
Di bawah kamarku, kedua gadis itu tengah berdiskusi dalam bisikan rendah yang tak dapat kudengar dengan jelas. Lalu, ketika si kakek sudah lebih dekat, kedua gadis itu mulai pura-pura menangis.
"Jelita... Juwita...," teriak si kakek ketika melihat kedua cucunya terbaring di tanah dengan kedua tangan terikat, dan dengan tubuh telanjan* yang hanya ditutupi dengan jubah yang dibentangkan begitu saja. "Apa yang terjadi pada kalian?" Dia bergegas mengahampiri kedua cucunya, melemparkan tonggak besinya dan melepaskan ikatan tangan mereka. "Siapa yang melakukan ini pada kalian?"
Kedua gadis itu saling melempar pandang, lalu si Juwita menjawab, "Dukun Kubro, Kakek. Dia sudah melecehkan kami."
"Apa? Kurang ajar!"
Aku menggeleng-gelengkan kepala. Hanya karena kenikmatan yang diberikan si Jaka, kedua gadis itu membohongi kakek mereka sendiri dan malah memfitnah orang lain.
"Ya, Kakek," sahut Jelita, kedua gadis itu duduk tegak dan menahan jubah di dada. "Kami melihat dukun jelek itu memegang batu yang sama dengan yang kami berikan kepada Kakek. Saat kami mencoba merebutnya, kami malah kalah dan dia... dia melecehkan kami, Kek."
__ADS_1
Dua mata si kakek berjuba hitam membeliak. Dia berdiri, dari mulutnya menggembor teriakan dahsyat. Ketika kakinya menghentak tanah, daun-daun dari pohon di atasnya berguguran. Aku lekas bersembunyi ketakutan. Menghindar dari jendela.
"Biadab! Berani dia melecehkan cucu-cucuku. Akan kuhabisi dia!"
Kuberanikan diri mengintip lagi.
Sekujur tubuh si kakek berjuba hitam bergetar menahan amarah.
"Kurang ajar! Dia telah memperkosa cucu-cucuku dan mengikat mereka seperti binatang, lihat saja, tidak akan aku ampuni dia! Manusia jahanam! Tega sekali dia berbuat sekeji ini pada dua cucuku! Akan aku cari dia sekarang juga! Akan kulumat dengan kedua tanganku!"
Kedua cucunya masih pura-pura terisak. "Kami berniat baik, Kakek. Kami ingin merebut batu hitam itu untuk kami serahkan kepada Kakek. Tapi kami kalah, dan malah kami diperlakukan sekeji ini. Dia menghajar dan memperkosa kami. Menurutnya kami berdua punya kelaianan, menebar aib dan kekejian di mana-mana. Jadi katanya kami pantas menerima hukuman berat dan harus diperlakukan secara keji pula. Padahal dia sudah tua. Rasanya menjijikkan sekali. Rasanya... rasanya seperti diperkosa olehmu, Kek. Hati kami sakit sekali. Perbuatannya menjijikkan."
Kakek berjuba hitam itu mengernyitkan kening. "Dasar dukun cabul! Aku tahu kalian memang mengidap penyakit tidak wajar. Yang tidak bisa disembuhkan. Tapi itu tidak bisa dijadikan alasan untuk melecehkan kalian."
"Benar, Kakek. Dia kejam sekali," isak Jelita.
"Benar, Kakek. Kakek harus segera bertindak."
"Ya, Kakek. Ambil batu hitamnya juga."
"Oh ya, soal batu hitam. Jadi batu yang asli ada padanya? Sialan!"
Kedua gadis saling melempar senyuman.
__ADS_1
"Kalian berdua kembalilah ke rumah. Aku akan mencari dukun cabul itu sekarang juga." Si kakek memgambil tonggaknya dari tanah dan menegakkannya. Memegang benda itu erat-erat dengan hati diselubungi amarah.
Waktu si kakek berjuba hitam berkata, Jelita melirik pada Juwita, yang baru kuketahui kalau mereka bukan sekadar teman, tapi bersaudari. Sepertinya sepupuh. Jelita memberi isyarat kedipan mata. Maka Juwita berucap, "Kek, sebenarnya mata kami yang awam ini melihat batu yang dimiliki Dukun Kubro itu biasa-biasa saja. Ada banyak batu yang lebih bagus dari itu di tanah Jawa ini. Tapi sepertinya bagi Kakek batu itu sangat penting. Kalau memang begitu, tolong beritahu kami. Bukankah kami sudah berkorban banyak demi batu itu? Bahkan sekarang Kakek lihat, kami sampai dilecehkan begini hanya untuk mendapatkan batu itu. Pasti ada suatu rahasia, kan, atau suatu kekuatan sakti yang terkandung dalam batu itu? Yang kami tidak tahu? Tapi kami sudah berkorban... seperti ini." Gadis itu menyingkap jubah dari tubuhnya, memperlihatkan keindahan tubuhnya yang diwarnai jejak-jejak merah hasil kebuasan si pria berengsek itu. Dan, dengan posisi tungkai yang sengaja ia buka.
Si Kakek terkejut, menatap tubuh itu dengan mata membeliak. Tapi kurasa bukanlah karena jejak-jejak merah itu, melainkan karena interval paha yang membuka lebar memperlihatkan surga bagi seorang pria. Si Kakek meneguk ludah.
"Ya, Kek," Jelita menimpali. "Lihat ini." Gadis itu ikut menyingkap jubahnya, ikut membuka interval kakinya dan memperlihatkan miliknya yang putih mulus dengan hiasan-hiasan merah. "Dukun cabul itu masuk ke sini. Kami tidak bisa mencegahnya. Padahal kami hanya berniat merebut batu itu untuk Kakek. Tapi dia malah menikmati tubuh kami. Apa kehebatan batu itu sampai kami pantas jadi tumbal begini?"
Si kakek terpana, memandangi tubuh cantik cucunya bergantian seraya meneguk ludah. Kemudian ia berdeham, ketika kedua cucunya menutupi tubuh mereka kembali, kakek berjubah hitam memalingkan pandangan. "Batu itu adalah kenangan. Sangat berharga bagi Kakek, karena itu adalah pemberian seorang sahabat seperguruan sewaktu Kakek muda dulu. Memang sekarang sudah tidak berguna bagi kakek tua sepertiku. Tapi kenangannya tak bernilai. Batu itu hilang. Ayah kalian mengambilnya diam-diam dariku, lalu sewaktu mereka saling memperebutkannya, batu itu tak sengaja terlempar dari ketinggian, lalu ditemukan oleh orang lain."
"Lalu keistimewaannya?" tanya Jelita.
Si kakek tersenyum. "Batu itu dinamai Batu Pemikat Jiwa. Semacam jimat keberuntungan asmara bagi pemegangnya."
"Untuk menaklukkan gadis?" Jelita bertanya.
"Untuk memikat?" Juwita bertanya.
"Untuk memancarkan aura?"
"Membuat jiwa berkarisma?"
Si kakek tersenyum malu, dia pasti mengingat masa mudanya dulu.
__ADS_1
Ih, aku merasa geli. Dan, pantas saja, pikirku. Pasti pengaruh batu itulah kenapa para gadis jadi tergila-gila pada pria itu.
Eh? Kenapa sekarang aku percaya pada hal semacam ini?