7 Darah Perawan

7 Darah Perawan
Bimbang


__ADS_3

Malam itu kami baru saja hendak pergi, Oom Jaka sudah menurunkan koperku ke ruang bawah dan menaruhnya di motorku, dan kami baru saja hendak keluar dari rumah ketika lamat-lamat suara rintik hujan di atas genting mulai terdengar, membuat kami tertahan dan mengurungkan niat kami untuk pergi.


Apa boleh buat, waktu membuat kami masih terkurung di sini. Kembali ke lantai atas, Oom Jaka menawarkan diri untuk membuatkan teh hangat. "Perubahan rencana," ujarnya. "Mungkin secangkir teh hangat bisa menemani kita malam ini."


"Akan kubuatkan," kataku.


"Tidak, Sayang. Saat kakimu sudah sembuh, kamu bisa melakukan semuanya. Tapi sekarang, aku bisa mengatasi hal satu ini, oke?"


"Baiklah," kataku seraya mengedikkan bahu dan tersenyum manis kepadanya. "Kalau begitu anggaplah seperti di rumah sendiri."


Sambil mengangguk dan balas tersenyum, Oom Jaka meninggalkan ruang tv, kembali beberapa menit kemudian dengan dua cangkir teh dan sepiring biskuit kelapa yang ia temukan di dapur, sementara aku sudah bersantai di sofa.


Dengan senyuman, Oom Jaka menaruh nampan di tangannya ke atas meja, lalu ia memberikan secangkir teh hangat ke tanganku. "Teh manis hangat untuk malam yang panjang," ujarnya.


"Terima kasih," ucapku. Aku baru saja hendak menyeruput teh milikku, tapi tiba-tiba terjadi pemadaman listrik.


Oh, lagi-lagi. Apa ini pertanda alam merestui kami?


Tapi pada akhirnya aku menggerutu karena ruang di sekitar kami menjadi sangat gelap sampai-sampai aku tidak bisa melihat wajah Oom Jaka yang berada sangat dekat denganku. Lebih sialnya lagi ponselku sudah kusimpan di dalam tas tanganku yang kutaruh di dalam jok motor.


"Ponselku tertinggal di dapur," kata Oom Jaka.


Tetapi, sebelum ia beranjak ke dapur, petir menyambar bersamaan dengan kilat yang membelah bumi, dan aku bisa melihat lilin LED satu baterai di bagian bawah rak tv-ku.


"Oom," kataku tiba-tiba, "ada lilin LED di rak tv, bisa tolong ambilkan?"


Dengan segera pria itu berdiri, berjalan dan meraba-raba ke arah televisi. Detik berikutnya lilin LED itu sudah menyala. Aku sedikit lega walau sesaat kemudian petir menggelegar, membuatku tersentak ngeri. Dan persis di saat itulah, Oom Jaka duduk di sebelahku.


Aku terpaku. Membisu. Tubuhku terasa hangat, seperti meleleh ketika ia merangkulkan tangannya ke tubuhku dan menyandarkan kepalaku di dadanya. "Kamu takut?" tanyanya.


Aku menggeleng. Lagi-lagi kedamaian itu menyentuh jiwaku. Dan, kehadiran Oom Jaka membuatku merasa aku tidak sebatang kara lagi di dunia ini. Andai bisa kuutarakan kepadanya bahwa aku ingin kami segera menikah supaya apa yang kurasakan saat ini bukan sekadar perasaan, tapi menjadi kenyataan. Aku ingin memilikinya sebagai keluargaku. Tapi aku tahu, dia pasti akan memberikan jawaban yang sama: dia ingin menyelesaikan semua masalahnya terlebih dulu.


"Sayang?"


"Emm?"


"Aku... emm... maksudku, kalau bisa, aku ingin kamu... memanggilku dengan sebutan lain, please?"


Eh?


Agak terkejut, praktis aku segera melepaskan diri dari pelukannya. Dan tanpa bisa kutahan, senyum lebar segera menghiasi wajahku. "Emm... tentu. Tapi... aku harus... memanggilmu dengan sebutan apa?"


Dia mengedikkan bahu, dan tersenyum malu. "Terserah," katanya. "Menurutmu... apa? Yang pasti aku ingin... sesuai dengan jati diri kita. Kita orang Jawa Barat meski memiliki darah campuran. Misalnya... Aak, mungkin? Aku akan senang kalau kamu memanggilku... dengan sebutan... itu."

__ADS_1


Hahaha!


Tak bisa kutahan, aku tertawa. Untung saja tidak sampai ngakak. Intinya dia ingin aku memanggilnya Aak dan bukan lagi memanggilnya Oom. Tapi ia terlalu bertele-tele. Tapi, yah, aku mengerti. Masih ada kecanggungan di antara kami satu sama lain.


"Baiklah. Aku akan memanggilmu... Aak."


"Terima kasih, Sayang."


"Ya. Sama-sama... Ak."


Uuuh... senyum bahagia terpancar dari wajahnya. Senyum itu membuat kedua matanya menyipit, nyaris tinggal segaris.


"Sepertinya hujan ini akan lama," ujarku, dan... Ak Jaka, kekasihku itu menyetujui. Menurutnya hujan akan berlangsung lama malam ini.


Mungkin saja sampai pagi. Dan aku mulai tidak peduli. Mungkin barang sehari-semalam tidak apa-apa kami terkurung di sini. Aku memiliki rasa syukurku sendiri karena aku sekarang tidak sendirian.


Aku melepas sepatuku dan duduk berselonjor kaki karena tidak nyaman dengan kakiku yang belum sembuh sepenuhnya. Lalu sesuatu timbul di pikiranku dan aku terkesiap. "Oh, ya!"


Dia menatapku dengan khawatir. "Ada apa?"


"Emmm itu, soal Luna. Apa dia sudah tahu kalau yang bersamanya kemarin itu kembaranmu?"


Dia menggeleng. "Entahlah. Aku tidak tahu."


"Emm... oke. Begini, kalau boleh aku menilai, Luna sepertinya punya perasaan khusus padamu, maksudku... pada pria dengan wajah yang ada di hadapanku ini. Itu menurutku."


"Aku khawatir kalau dia juga akan... jadi salah satu target pria itu. Kalau benar dia memiliki perasaan padamu, pasti mudah bagi... pria itu untuk memperdayai Luna, ya kan? Sebaiknya kita beritahu dia segera. Kita telepon."


Tangan Ak Jaka menangkap tanganku sebelum aku bisa meraih tongkatku, untuk mengambil ponsel kami.


"Tidak," ujarnya. "Jangan." Tatapan mata hitamnya menunjukkan tatapan memohon. "Kita tidak perlu melakukan hal itu, ya?"


Jemarinya yang menggenggam jemariku terasa lembab. Dalam penerangan temaram lilin elektrik, aku bisa melihat raut cemas di wajah pria itu, aku bisa melihat otot berkedut di rahangnya. Tapi kenapa? Ada apa?


"Yang dia lakukan itu tidak benar. Kasihan Luna kalau dia juga jadi korban dari pria itu."


"Aku tahu," katanya. Ia mengangguk. "Tapi bisakah kita tidak usah ikut campur?"


"Kenapa? Apa kamu mendukung perbuatan saudaramu itu? Yang dia lalukan... oh!" Aku terkesiap mundur.


Ak Jaka menyeringai, merasa heran. "Apa? Kenapa ekspresimu begitu? Aku tidak mendukungnya. Aku tahu perbuatannnya salah. Tapi...."


"Tidak. Mundur!" kataku, aku merasa cemas.

__ADS_1


"Hei, Wulan? Ada apa?"


"Jangan-jangan tidak ada kembaran? Apa kamu menipuku?"


"Oh, astaga...! Sayang, kenapa kamu malah berpikir begitu?"


"Lalu kenapa? Kenapa kamu tidak coba hentikan perbuatan saudara kembarmu itu? Bukankah itu juga merusak nama baikmu?"


Ak Jaka menggeleng. "Aku tahu. Tapi aku sudah cerita padamu di telepon, aku sudah membuat laporan ke polisi bahwa yang bertindak seperti itu adalah kembaranku dan bukan aku. Polisi sudah menanggapi hal ini. Tapi itu bukan berarti polisi berpihak padaku. Aku tidak punya cukup bukti untuk membuktikan bahwa bukan aku yang melakukan perbuatan itu. Kalau polisi saja tidak percaya, bagaimana gadis-gadis itu?"


"Aku tahu. Aku tahu. Tapi kalau kita memperingatkan Luna, setidaknya dia akan menjaga dirinya sendiri, kan? Dia tidak akan menjadi korban selanjutnya."


Ak Jaka meraih tanganku kembali. "Tenanglah. Oke? Sini." Dia menarikku lebih dekat. "Aku tidak bisa menghubungi Luna apalagi bertemu."


"Kenapa?"


"Ada sebabnya."


"Ya, tapi apa?"


Untuk sesaat ia ragu, tapi akhirnya ia bicara juga. "Terakhir kali kami bicara, aku menyakiti hatinya."


Hah? Aku melotot.


"Dia menyatakan perasaannya padaku. Dan aku secara lugas menolaknya. Dia menangis, dan pergi begitu saja meninggalkanku. Dan sekarang entah bagaimana dia bisa berhubungan baik dengan kembaranku. Aku yakin, dia mengira itu aku. Dan kalau aku menemuinya, dia akan bilang kalau aku hanya mengatakan omong kosong untuk menyakiti hatinya lagi. Itu artinya percuma."


Argh! Aku kesal sekali. "Lalu kita akan membiarkan saja sesuatu yang buruk terjadi pada Luna?"


"Mungkin sudah terjadi."


"Mungkin saja belum."


"Sayang...."


"Mungkin masih ada harapan."


"Cukup, oke? Kamu tidak mengenal Luna cukup baik. Dan jangan terlalu baik pada orang lain, bisa dengarkan aku?"


Aku mengangguk. "Tapi... rasanya... salah...?"


"Wulan, Sayang, aku tidak ingin kamu berhubungan terlalu baik dengan Luna. Aku tidak ingin kamu bernasib sama dengan gadis yang tewas itu. Luna bebas dari penjara, itu bukan berarti dia bisa dinyatakan bersih sepenuhnya. Aku tidak ingin dia melakukan hal yang sama padamu. Apalagi kalau nanti dia mengetahui hubungan kita, nyawamu bisa terancam."


Ya Tuhan... bukan Luna pelakunya....

__ADS_1


"Kamu tahu apa yang kupikirkan? Kalau saja tidak ada saksi lain yang melihat kejadian itu, bisa jadi kamu yang dipenjara. Untung saja tidak, ya kan? Sekarang kamu dengarkan aku, kamu jangan berusaha menjadi pahlawan kalau itu malah membuat dirimu tenggelam dalam kubangan masalah. Aku mohon, ya? Daripada mengundang masalah, lebih baik sekarang kamu pergi ke kamar dan tidur. Dengarkan aku, tolong?"


Bimbang. Bagaimana aku mesti bersikap? Haruskah aku tetap diam, membiarkan Wenny yang bersalah dengan rasa aman, dan membiarkan Luna yang tidak bersalah malah dalam cengkeraman bahaya?


__ADS_2