
Para tetangga dengan cepat berkerumun, Aji pun sudah berada di rumahnya -- melesat cepat saat mendengar kabar, dan polisi langsung tiba di lokasi kejadian begitu menerima laporan. Beberapa orang saksi dimintai keterangan dan didata, serta diharapkan untuk datang ke kantor polisi untuk proses penyelidikan lanjutan. Setelah jenazah Mentari dibawa oleh pihak berwajib ke rumah sakit untuk dilakukan autopsi, rumah Aji pun dipasang garis polisi, dan aku jadi kebingungan mesti pergi ke mana.
Baruntung, Aji menawariku untuk menginap di sebuah villa milik keluarganya. Awalnya aku menolak, tetapi aku tak berdaya pada diriku sendiri. Jika aku menolak dan bersikeras -- sok bisa mengurusi diriku sendiri, aku tahu jelas aku tidak akan mampu. Posisiku saat ini tidak memegang uang, kartu ATM, ataupun ponsel untuk transaksi by phone, apa yang bisa kulakukan dalam kondisi seperti ini? Jadi aku menerima bantuan Aji.
Sembari berdiri di luar villa, menatap awan putih yang berarak di atas sana, aku mengingat lagi apa yang terjadi tadi pagi, bagaimana si gadis gendut itu bersikeras mengatakan Luna-lah yang bertanggung jawab atas insiden kematian Mentari.
__ADS_1
Aku hanya bisa bungkam atas apa yang terjadi, terlebih aku menyadari tatapan penuh ancaman dari gadis gendut itu. Ditambah lagi ketika ia dan temannya yang sebenarnya berparas cantik dan berkulit putih, namun sayangnya terlalu kurus, cungkring -- yang kuperkirakan usianya sekitar pertengahan empat puluhan dan sepertinya ia agak-agak kurang normal karena terkadang banyak bengong, nampak bingung dan kadang-kadang menyengir plus cengengesan dalam situasi yang tidak tepat, dan suka menggaruk-garuk kepala -- menghampiriku dan berhasil merebut tongkatku dan memojokkan aku ke salah satu sudut ruangan. Dicengkeramnya rahangku, dihimpitnya aku dengan tubuhnya yang berukuran luar biasa besar itu, dan tanganku dipiting ke belakang.
"Apa yang kamu ketahui tentang semua ini?" tanyanya. "Dengar baik-baik, apa pun itu yang kamu ketahui, jangan mengatakan apa pun. Bungkam saja mulutmu. Atau kalau tidak, kamu akan terima akibatnya. Wenny tidak akan tinggal diam. Dia akan membungkammu dengan caranya sendiri. Kamu juga akan terbujur kaku seperti Mentari. Dan tidak hanya Wenny, kamu tahu, kan, siapa Oom-nya? Polisi yang menangani kasus ini adalah Oom-nya Wenny sendiri. Jadi kamu jangan macam-macam kalau tidak ingin peluru bersarang di kepalamu atau minimal kamu yang akan terlempar ke penjara. Paham?"
Aku mengangguk ketakutan. "Ya. Ya, aku... aku, aku tidak akan menyebut-nyebut nama Wenny. Aku janji. Janji. Sungguh."
__ADS_1
Gadis ini memfitnah luna demi Wenny? Mereka temannya Wenny? Dibayar Wenny demi menyelamatkan dirinya dari kasus ini? Wenny punya banyak uang untuk membayar mereka? Atau ada pihak lain yang menjadi backing-nya?
Sial! Aku semakin terperangkap dalam kasus pelik ini. Dengan status saksi mata, aku tidak bisa meninggalkan Rancabali sebelum kasus ini dinyatakan selesai dan ditutup.
Aku menangis. Aku tidak pernah merasa hidupku seburuk ini. Walaupun dulu mesti menjalani hidup dalam dunia abu-abu karena perselingkuhan ayah dan ibuku, paling tidak, tidak ada yang pernah benar-benar mengancamku seperti ini. Aku tidak menjalani hidup se-tertekan ini. Dan aku sekarang sendiri. Merasa sendirian. Dan, merasa jahat. Sangat jahat. Tidak hanya berbohong dan menyembunyikan kebenaran, aku sudah bersikap tidak adil terhadap almarhumah Mentari karena tidak berani membuka kebenaran: dia meninggal sementara Wenny bisa berkeliaran dengan bebas di luar sana, dan aku sudah bersikap jahat kepada Luna yang baik, yang telah merawatku sejak kemarin. Tapi aku tak berdaya.
__ADS_1
Aku harus bagaimana? Kalau kau berada di posisiku, bagaimana? Apa yang akan kau lakukan?
Aku memang pengecut. Amat sangat pengecut. Tapi aku ingin hidup dengan damai. Dan, aku belum ingin mati.