
"Kita langsung tidur saja, ya? Kamu membuatku takut."
Praktis Ak Jaka terkekeh. "Oow... apa Wulanku sekarang menjadi gadis yang penakut?"
"Ya, takut pada keganasan suamiku sendiri."
"Begitu?" Ak Jaka kembali menyengir konyol, lalu dia mencium bibir, turun ke pundak, lalu mendarat di tengkuk leherku.
"Oh!" aku mendesa* lirih. "Geli, Ak," protesku seraya terkikik ketika Ak Jaka dengan sengaja menggesekkan bakal janggutnya ke leherku. Dan tak luput, kedua tangannya bergerilya liar di sekujur tubuhku. Meraba ke punggung, membelai pinggul, lalu mengelus paha hingga ke bagian dalam. "Hentikan... Ak. Geli, tahu...."
"Itu baru permulaan," bisiknya. Seraya menelusurkan tangan ke belakang punggungku untuk membuka pengait bra tanpa tali yang kukenakan, Ak Jaka menancapkan taringnya di tengkuk leherku. Mengisapku kuat-kuat hingga membuatku mengeran* nikmat. Tanpa kusadari, jari-jemariku mencengkeram kuat otot di punggungnya.
Terlepas. Bra putih itu segera mendarat ke lantai dan persik ranum itu pun menjadi sasaran kekuatan tangan Ak Jaka.
"Ya Tuhan, Ak!" suaraku tercekat.
Namun Ak Jaka justru merasa senang, dia berhasil menyiksa istri kecilnya ini dengan kenikmatan. Sehingga, begitu melepaskan taringnya dari tengkuk leherku, dengan cekatan ia mengalihkan taringnya ke dadaku. Ke suatu kelembutan yang hangat itu. Dengan rakus, ia *elumatku tanpa ampun.
Tak ayal, aku tersengal karena ulah suamiku yang begitu liar. Terengah-engah. Dalam keadaan setengah sadar itu, tanpa melepaskan pagutannya di dadaku, kurasakan Ak Jaka menaruh kedua tangannya di sisi pahaku. Seolah mengikuti instruksi, aku mengangkat tubuhku, menegakkan tubuhku dengan bertopang lutut dan memberikan akses bagi Ak Jaka untuk menurunkan sutra terakhir yang menempel di tubuhku. Kemudian, entah bagaimana persisnya, boxer putih yang ia kenakan pun membebaskan dirinya dari rasa sesak yang menyakitkan.
__ADS_1
"Sssh... mmh...." Kugigit bibir, menahan sensasi geli yang menggelenyar hingga ke ujung kaki ketika tangan Ak Jaka menyelinap ke bawah, membelai sisi paling sensitif dari inti diriku. Sementara, di sisi lain, lengan kirinya melingkar kuat di pinggangku, menahanku agar tak terlepas dari cengkeramannya. Dan di leherku, pria itu kembali menancapkan taring, mengisap kuat, hingga membuatku mengeran* tak tertahan. "Please, berhenti, Ak. Aku... aku tidak tahan...."
Dia tidak mau berhenti. Sementara aku sendiri tak mampu bertahan. Sensasi geli yang menggelenyar hingga ke ujung jari-jari kakiku akibat elusan lembut jemarinya pada bagian paling sensitif itu, membuat kedua tungkaiku terasa lumpuh.
"Please... kumohon berhenti...," rintihku. Namun kali ini pria itu justru menelusupkan jarinya ke dalam. "Oh!" Mataku terpejam, dengan mulut setengah menganga.
Dia sengaja menggodaku!
"Pejamkan terus matamu," ia berbisik, lalu kembali mencumbu tengkuk leherku, menggigit dan mengisap lembut seraya dengan perlahan jemarinya terus bergerilya dengan sensual.
Membelai dan membuai.
"Ak," sengalku. "Berhenti...."
"Belum. Belum, Sayang. Belum saatnya berhenti."
"Berhenti, Ak...."
"No...."
__ADS_1
"Please...." Aku tersengal.
Dia masih enggan berhenti. "Sudah kubilang jangan menyesal, bukan?"
"Ya. Tapi kumohon berhenti. Berhentilah, Ak. Aku... aku tidak akan bisa menahannya lebih lama. Berhenti, Ak...."
Dia menggeleng, dan terus membelaiku....
"Ak!" suaraku tercekat. "Kumohon berhen...ti."
Terlambat. Ledakan di dalam tubuhku sudah terjadi. Dengan wajah bersemu merah, aku menundukkan wajah, menyadari kelembapan yang mengalir dari tubuhku, membasahi jemarinya.
Sumpah aku sangat malu!
Tapi Ak Jaka terus saja menggoda. "Basah dan hangat," bisiknya serak setelah membebaskan tengkukku dari taringnya.
Mataku mendelik. Nyaris melotot, lalu mencubit bahunya keras-keras.
Dan, seperti seorang pria cabul, Ak Jaka malah terkekeh senang.
__ADS_1
Dasar suami sinting!