
Aku kesal, tapi aku tak berdaya. Aku tidak bisa melanjutkan perdebatan itu ketika Ak Jaka sendiri memilih untuk mengalah. Tetapi, yeah, namanya juga seorang wanita, apalagi masih muda seusiaku, rasanya emosi tidak bisa meredam semudah itu. Jadi, dengan perasaan yang masih kesal, kuikuti Ak Jaka yang membawaku pergi dari pemakaman. Tanpa debat, dan berbicara apa pun di sepanjang perjalanan. Tetapi, selang beberapa saat kemudian, pria itu malah membuatku tercengang.
"Tempat apa ini? Kenapa kita ke sini? Kenapa tidak pulang ke rumah saja?" berondongku dengan cemas pada Ak Jaka ketika mobil yang kami tumpangi masuk ke kawasan sebuah villa yang begitu mewah.
Ak Jaka yang agak-agak susah ditebak itu tersenyum simpul. Bukannya membawaku pulang ke rumah Mang Zulfikar, Ak Jaka justru membawaku ke sebuah villa yang ia sewa untuk tempat peristirahatan kami berdua. Sebuah villa yang memiliki area taman tertutup, begitu private, ada banyak bunga beraneka warna di halaman belakangnya, begitu indah. Taman itu dilengkapi juga dengan kolam kecil yang airnya begitu jernih, biru, dan, ada deretan kursi-kursi malas di sekelilingnya. Sepi, sunyi, dan begitu damai. Menentramkan.
"Ayo," ajak Ak Jaka tanpa menyahut, ia tersenyum seraya mengulurkan tangan kepadaku.
Aku tidak punya pilihan selain menyambut uluran tangannya dan mengikutinya keluar dari mobil.
"Selamat datang, Sayang," bisik Ak Jaka begitu kami melangkah masuk ke dalam villa, lalu ia menutup pintu di belakang punggungnya. Sambil menggandeng tanganku menuju kamar, ia berkata, "Aku sengaja mengajakmu ke sini untuk berbulan madu."
Hah? Mataku terbelalak. "Bulan madu?"
"Hu'um. Kamu suka?"
Mendadak sedikit rasa senang menyelinap ke relung hati. Aku suka. Sangat sangat suka. Tapi tidak kukatakan. Sebagai gantinya aku mengulum senyum. Menyembunyikan kebahagiaan itu dari dirinya.
__ADS_1
"Kita akan berada di sini untuk beberapa hari, sekalian untuk menenangkan pikiran. Tidak ada satu pun orang yang tahu keberadaan kita di sini. Jadi kita akan menghabiskan waktu bersama dengan tenang."
Satu alisku terangkat. "Tidak ada satu pun orang yang tahu?"
"Iya, maksudku selain kita, Mang Zulfikar, Kang Solihin, dan pengawal-pengawal yang berjaga di luar. Selain itu tidak ada."
Aku mengangguk-angguk. "Oh."
"Hanya oh? Sungguh?"
"Aku masih kesal padamu," kataku, namun aku tersenyum, dan kutahu mataku menyiratkan cinta untuknya, dengan pendar merah menghiasi wajahku.
Dan Ak Jaka mengecup bibirku. "Akan aku obati," bisiknya. "Akan aku redam rasa kesalmu dengan baik. Sangat baik...."
Ya Tuhan, aku tahu pria ini kembali bergairah lagi. Sanggupkah aku melayaninya?
Tapi aku tidak akan pernah menolaknya. "Bagaimana caranya? Apa yang akan kamu lakukan? Hmm?"
__ADS_1
"Lagi dan lagi, seolah kamu tidak tahu."
Ah, dasar pria. Dalam sekejap pintu kamar itu terbuka. Dia membawaku, melangkahkan kaki kami perlahan, sambil berpelukan dan berciuman, tanpa kusadari, kami sudah berada di dalam kamar.
"Waw!" Aku begitu takjub. Ini kamar pengantin kami yang kedua. Dengan ranjang besar yang kokoh, kelambu putih di keempat sisi, bunga hias di setiap sudut, dan taburan kelopak mawar di atas seprai putih.
Ak Jaka tersenyum semringah. "Kamu suka?"
Aku memekik kegirangan. "Lebih dari yang bisa kukatakan! Terima kasih, Ak!"
"Apa pun untuk pengantinku...."
Well, hari belum malam. Tapi kamar pengantin itu sudah diobrak-abrik oleh kami berdua.
Yeah, begitulah yang terjadi ketika seorang gadis belia menikah dengan pria dewasa yang liar dan perkasa.
Tidak perlu menunggu malam....
__ADS_1