7 Darah Perawan

7 Darah Perawan
Berutal


__ADS_3

Jarum jam di dinding menunjuk ke angka tujuh ketika kami selesai sarapan. Kuluangkan sedikit waktuku untuk membantu Teh Husna mencuci tumpukan piring kotor di wastafel, setelah itu, kulanjutkan kesibukanku dengan tumpukan pakaian kotor yang segera kumasukkan ke dalam mesin cuci.


Selagi menunggu mesin bekerja, kulangkahkan kakiku menuju kamar, maksud hati bertujuan untuk memeriksa ponsel, barangkali ada pesan masuk atau telepon masuk yang tidak terjawab di ponselku. Tapi, di luar dugaanku, tiba-tiba saja Ak Jaka ikut masuk, ia menyengir lebar dan langsung mengunci pintu.


"Lo? Kok dikunci segala, Ak?" tanyaku keheranan.


Dia mengedikkan bahu. "Seolah kamu tidak tahu," ujarnya santai, mendekat kepadaku lalu meraih ponselku dan meletakkannya kembali ke atas meja. Dengan sebelah tangan melingkari pinggangku, satu tangannya lagi mengangkat daguku dengan jari telunjuk dan ketika tatapan kami bertemu, ia tersenyum kepadaku.


"Ini masih pagi, Ak," kataku.


Tapi ia tak peduli. Ia menunduk untuk mendekatkan wajahnya. "Pagi, siang, malam, sama saja, kan? Kamu sudah menjadi milikku seutuhnya. Sah dan halal. Hadiah yang paling berharga dalam hidupku. Yang ingin kusentuh setiap waktu. Setiap... waktu...."


Ya. Dia memang berhak. Sangat berhak. Dan bukan hakku untuk menolak. Jadi, oke, kupenuhi tugasku sebagai seorang istri. Menerima, mempersilakan, dan menikmati kemesraan Ak Jaka terhadapku. Mataku terpejam perlahan dan merasakan sentuhan lembut di bibirku saat bibir kami bertemu. Lalu... dia mengulu* bibirku dengan bergairah, dan aku langsung membalasnya. Kami berdua melayang karena dimabuk asmara. Tangan Ak Jaka bergerak ke rambutku, kemudian ke leherku. Ia merengkuh tubuhku dengan kedua tangannya. Kami hanyut dalam perasaan masing-masing, menikmati momen kuat itu dengan sepenuh hati. Bibir Ak Jaka kembali bergerak, menuruni leherku, membuatku merinding sekaligus mendesa*.


Oh Tuhan... anugerah luar biasa ini nikmat sekali.


Detik berikutnya, Ak Jaka membawaku dan membaringkanku di tempat tidur. Tangannya bergerak turun, menyelinap ke balik baju yang kukenakan dan membelai seluruh tubuhku.


Gairah Ak Jaka semakin membuncah seiring *esahanku. Kami berdua merasakan sensasi yang tak bisa digambarkan saat tubuh kami saling bersentuhan, menempel pada satu sama lain. Tangan Ak Jaka kemudian menyingkap bagian bahuku hingga membuat bagian itu terbuka. Bibirnya menjelajahi leher dan bahu indah itu, membuatku melayang dan mengeran* pelan.


Saat tangan Ak Jaka mulai bergerak untuk menurunkan ristleting bajuku, bunyi ketukan di pintu terdengar. Bukan, itu gedoran kuat. Heboh. Membuat kami berdua terlonjak kaget dan buru-buru melepaskan diri.


"Kang Jaka? Wulan? Apa kalian di dalam?"


Aku segera bangkit, duduk tegak di kepala ranjang. Ak Jaka memandangku yang sedang merapikan kembali pakaianku. Aku menangkap tatapan itu dan kami saling menatap.


"Kang!" Suara ketukan Teh Husna di pintu semakin keras. "Kang Jaka! Wulan!"


Sepertinya ada yang tidak beres, pikirku. Melihatku yang sudah kembali rapi, Ak Jaka segera beranjak ke pintu, membuka dan menyembulkan kepalanya ke luar supaya Teh Husna tidak melihat kondisinya yang sedang terangsang. "Ada apa?" tanya Ak Jaka.


"Anu, Kang," -- ia menunjuk cemas ke luar rumah -- "ada nenek-nenek ngamuk. Bawa celurit."

__ADS_1


Hah?


Aku dan Ak Jaka sama-sama tersentak kaget. Tercengang. "Nek Aluh!" kata kami bersamaan. Ak Jaka segera melesat ke depan. Aku dan Teh Husna segera menyusul di belakangnya.


Benar, Nek Aluh yang sedang mengamuk di halaman depan dengan celuritnya yang sudah karatan. Ia meneriakkan nama Ak Jaka seperti orang kesetanan. "Keluar!" teriaknya sambil mengacung-acungkan celuritnya ke arah rumah. "Kamu harus bertanggung jawab! Cucuku sampai hamil karena perbuatan mesummu! Dasar lelaki biadab! Bajingan!"


Lagi-lagi aku dan Ak Jaka tercengang. Hamil?


"Ya ampun, Ak!" kataku seraya menutup mulut. "Cinta hamil?"


Ak Jaka menatapku sambil menyipitkan mata. Dahinya mengernyit. "Kamu tidak bermaksud curiga padaku, kan?"


"Lo, Ak? Kok kamu ngomong begitu, sih? Ya nggak, dong. Nggak. Bukan begitu maksudku. Aku percaya seratus persen pada Aak. Seribu persen. Sejuta persen. Sepenuhnya. Kamu jangan salah paham."


Huh! Dia menghela napas dalam-dalam. "Itu saja sudah cukup," ujarnya, kemudian ia memegang gagang pintu.


"Ak!" sergahku. "Jangan keluar...."


"Jangan, Ak!"


Mana mungkin aku membiarkan suamiku keluar bertemu Nek Aluh yang tengah mengamuk dengan celuritnya. Apalagi sekarang ternyata cucunya, Cinta, sampai hamil karena perbuatan saudara kembarnya Ak Jaka. Sudah barang tentu emosi Nek Aluh tidak bisa diredam dengan mudah.


"Aaaaah!" jeritan melengking terdengar seketika, membuat kami kaget dan kembali mengintip di balik jendela kaca.


Di luar, Pak Toto, salah satu hansip kampung mencoba mengamankan situasi dan hendak merebut celurit dari tangan Nek Aluh. Namun naas, Nek Aluh, mantan jawara kampung yang terkenal kehebatan beladirinya di masa muda, sudah kalap dan malah menyerang Pak Toto. Celurit karatan itu mengoyak wajah sang hansip bertubuh gemuk itu. Juga dua orang hansip lain yang terluka di bagian lengan. Darah mengucur deras, muncrat tak keruan menodai lantai putih. Suasana menjadi suram. Halaman rumah Mang Zulfikar yang biasanya sepi dan aman menjadi ramai. Keramaian yang mencekam. Beberapa warga langsung menolong Pak Toto.


"Aku harus keluar, Sayang. Kalau tidak, akan semakin banyak korban berjatuhan."


Aku melotot, mataku memerah. "Kamu pikir kamu punya ilmu kebal? Heh? Nggak! Kamu tetap di sini! Jangan keluar!"


"Sayang...."

__ADS_1


"Tidak boleh, Ak!"


"Kamu tunggu di sini."


"Tidak! Kamu tidak boleh keluar! Demi aku! Please, aku mohon, Ak! Jangan keluar! Aku mohon...."


Sambil menangis, kugamit lengan Ak Jaka kuat-kuat, menahanya untuk tetap di dalam rumah bersamaku. Sementara, di luar rumah, suasana semakin ricuh. Suara gaduh tetangga yang tidak pernah tahu cerita tentang kami mulai terdengar bersahutan.


"Hei, Wulan, Sayang, jangan seperti ini." Ak Jaka melepas lengannya dari genggamanku, dipegangnya kedua bahuku untuk menenangkan, lalu ia menatapku dalam-dalam. "Jangan menangis, ya? Aku harus keluar. Aku harus bertanggung jawab atas kesalahan yang dilakukan oleh saudara kembarku. Aku tidak bisa diam saja. Kamu harus mengerti itu."


Aku menggeleng-gelengkan kepala. "Bertanggung jawab seperti apa? Hmm?"


"Kita akan membahasnya nanti. Sekarang aku keluar dulu."


"Tidak bisa!" Kembali kugamit lengannya kuat-kuat seraya menangis. "Tidak boleh, Ak. Jangan. Tolong jangan...."


"Tidak akan ada hal yang buruk. Percaya padaku, ya? Segalanya akan baik-baik saja."


Aku menggeleng. "Aku takut...."


"Please, mengertilah, Sayang. Aku akan menjaga diriku baik-baik. Dan aku harus menolong cucu nenek itu. Bagaimanapun juga yang ia kandung itu adalah keponakanku. Aku harus menolong mereka."


Aku menggeleng.


"Kamu tetap di sini, walau apa pun yang terjadi kamu jangan keluar rukah, oke? Tunggu."


Argh! Ingin aku mengamuk. "Ak...," panggilku, merengek dan nelangsa, berharap dia akan berubah pikiran dan mengurungkan niatnya keluar dari rumah. Tapi itu tidak terjadi. Dia tetap keluar rumah....


Melihat Ak Jaka keluar dari pintu, tanpa ba bi bu, Nek Aluh langsung menerjang ke arah Ak Jaka dengan celuritnya.


"Aaaaaaak...!" aku berteriak histeris.

__ADS_1


__ADS_2