7 Darah Perawan

7 Darah Perawan
Kehangatan Di Kala Senja


__ADS_3

Sisa hari itu berlalu dengan samar. Di antara keramaian orang, aku mendapati diriku menghitung waktu sampai aku bisa sendirian bersama Ak Jaka, untuk bisa memeluk dan menciumnya dan menjelajahi tubuh kerasnya sampai aku merasa puas. Dan dalam masa menunggu itu, aku melakukan hal yang sama seperti yang ia lakukan padaku. Aku menyentuhnya setiap kali ada kesempatan, begitu tak sabar karena menyadari saat ini pria itu benar-benar sudah menjadi milikku. Bahwa kami akan menghabiskan sisa hidup kami bersama.


Setelah banyaknya pelukan, ciuman, dan ucapan selamat yang berulang ketika sanak keluarga berpamitan pulang, aku segera menyelinap pergi, bergegas ke kamar untuk menanggalkan kebayaku dan berniat segera mandi. Berhubung hanya ada satu kamar mandi di belakang, anggota keluarga mesti mandi bergiliran. Dan aku mesti lekas mandi sebelum yang lain supaya aku tidak perlu menunggu giliran.


Tapi nyatanya tidak semulus itu. Melihatku pergi ke arah kamar, kelakuan Ak Jaka praktis seperti seekor kucing jantan yang mengintai mangsanya. Dia langsung mengikutiku. Tentu saja, dia bergerak lincah. Belum sempat aku menutup pintu, Ak Jaka sudah menyelinap masuk dengan wajahnya yang cengengesan. Lalu mengunci pintu.


"Kenapa, Ak?" tanyaku, aku mulai gelisah. "Aku mau mandi."


Ak Jaka terkekeh. "Kenapa kamu terlihat cemas dan antisipasi begitu, sih? Hmm?" Ia memeluk pinggangku erat-erat. "Rileks, Sayang. Santai saja," ujarnya seraya mengelus wajahku dengan sebelah tangan.


"Iya. Tapi aku mau mandi."


"Kenapa buru-buru?"


"Sebelum antre, Ak."


"Nanti saja, ya, Sayang. Kita terakhir saja. Biar nanti kita bisa mandi bersama."


"Hah? Mataku membeliak lebar. "Mandi bersama? Tapi, Ak...."


Ak Jaka kembali terkekeh keras, ia tidak bisa menahan diri untuk menertawaiku yang melotot. "Tapi apa, sih? Kenapa? Hmm? Sebelum menikah kamu suka sekali menggodaku. Sekarang kenapa jadi antisipasi begini? Kita sudah sah, Sayang." Dia mencium telingaku, membuatku merinding geli. "Kita sudah sah," ulangnya.


"Maaf, bukan begitu maksudku. Aku... aku cuma... emmm!"


Aduh biyung... lututku goyah. "Kamu milikku," gumam Ak Jaka sambil mendaratkan ciuman-ciuman ringan di leherku. "Aku menginginkanmu."


"Tapi ini masih sore," gumamku.


Tapi Ak Jaka tak peduli, dia mengulurkan tangan ke dadaku dan mulai melepaskan kancing-kancing kebayaku. Menanggalkan kebaya putih itu dari tubuhku.


"Kamu mau apa?"


Ia menangkap tatapan mataku, menatapku sekilas dan tersenyum. "Kurasa jelas apa yang mau kulakukan, ya kan? Aku mau...."


Jantungku berdegup keras. Ak Jaka menelusurkan ujung jarinya membelai kulitku. Pipiku merona ketika tatapan Ak Jaka menelusuri tubuhku, terpaku pada satin berenda yang menutupi keindahan dadaku.


"Wardana," bisiknya. "Kamu hadiah yang paling berharga untukku. Kamu benar-benar cantik, Wulan."

__ADS_1


Ya ampun, tak habis rasanya aku mengulum senyum akibat pujian manis suamiku.


"Sudah, ya. Aku mau mandi," kataku, mencoba menghindar dan membebaskan diri dari situasi yang mendebarkan ini.


Tetapi Ak Jaka justru menarikku kembali ke dalam pelukannya. "Tidak semudan itu, Sayang," suaranya serak karena emosi. "Kamu sudah menjadi milikmu seutuhnya. Jadi... aku ingin melihat seluruh tubuhmu... seutuhnya...."


Rok berbahan kain batik itu terlepas, jatuh ke kaki....


"Oh, Ak...." Praktis aku berbalik, memunggungi suamiku dan menutupkan tangan ke dada. Tetapi momen itu justru dimanfaatkan oleh Ak Jaka untuk menggodaku. Dia menelusurkan ujung jemarinya ke punggungku. Dengan amat sensual. Aku gemetar....


Lalu hening, tanpa suara dan tanpa pergerakan.


Dengan gugup, perlahan aku menoleh ke belakang.


Oh... seksi sekali. Ak Jaka tengah berkutat melepaskan pakaiannya. Aku tersenyum ketika melihat Ak Jaka ternyata mengenakan celana pendek hitam ketat dengan... pemandangan yang mendebarkan di tengahnya. Nampak besar dan menggairahkan. Praktis aku menutup wajahku dengan kedua telapak tangan. Panas pipiku, panas....


"Rileks, Sayang," Ak Jaka berbisik.


Uh... aku kembali gemetar karena antisipasi ketika Ak Jaka melepas kaitan bra-ku dan melemparkan benda itu ke kursi, lalu ia menurunkan *alaman terakhirku menuruni kaki, ia melemparkan benda itu ke atas bra-ku sementara ia tetap berjongkok di belakangku dan tangannya meluncur perlahan, sensual di pahaku, menuruni betis hingga ke pergelangan kaki.


"Benar-benar gadis kecil yang menawan," gumamnya.


Bagaimana kalau ia memandangiku dari depan? Aduh....


Cup!


Dia mengecup punggungku. Aku merinding. Lalu....


"Oh!" Aku mengeran* lirih. Ak Jaka membenamkan taringnya di tengkuk leherku. "Ak...."


Nikmat sungguh! Tak cukup dengan taringnya, Ak Jaka mengulurkan tangannya ke depan, menangkup dadaku, lalu menyapu ringan puncak itu dengan jemarinya, mengamati saat bagian itu berekasi oleh sentuhannya.


Lalu, yang membuatku terkejut, Ak Jaka telah berdiri tegap di belakangku. "Sayang, berputar, please," pintanya seraya menyentuh bahuku dan memutar tubuhku.


Aku malu. Sangat-sangat malu. Tapi Ak Jaka justru melingkarkan satu lengan ke pinggangku. Menempelkan tubuhku kepadanya. Lalu, tangan kanannya begerak ke atas, menyelipkan tangannya di antara tubuh kami dan menyingkirkan tanganku dan menggantikan dengan tangannya untuk bersemayam di atas kelembutan itu.


"Ak," kataku.

__ADS_1


"Emm? Kenapa?"


"Tidak," sahutku gugup. Aku tidak tahu mesti berkata apa. "Aku...."


Ak Jaka tersenyum. Dia menatap punggung tangannya yang menutupi dadaku.


"Aku malu, Ak," kataku.


Dia mengecup bibirku ringan. "Aku mengerti ujarnya. Hanya itu, berikutnya ia justru menundukkan kepala dan mengambil bagian itu dengan mulut manisnya, mengisap lembut, nyaris memuja.


Seolah tak cukup puas dengan permulaan yang panas itu, Ak Jaka menyelipkan tangannya ke bawah lututku, menggendongku di dada dan membawaku ke meja rias. Mendudukkan aku di sana, sementara ia duduk di kursi di hadapanku.


"Oh, Tuhan," bisiknya khidmat. "Begitu sempurna."


Hmm... dia senang sekali membuat wajahku memerah.


"Kesempurnaan ini sudah menjadi milikku," ia bergumam tanpa mengalihkan tatapannya dari keindahan itu. Dan, Ak Jaka kembali menggilaiku. Matanya yang gelap dipenuhi cinta dan gairah. Memujaku dengan tangan dan bibirnya. Melahapku. Mencicipi kelembutan itu. Menikmati. Membuatku gemetar penuh damba, tersesat dalam sensasi asing.


Kemudian, ia bertindak lebih gila. Digendongnya aku ke ranjang. Membaringkanku di tepinya. Lalu ia mengangkat dan menekuk kedua kakiku, membukanya lebar, dan... dia membenamkan wajahnya kepadaku.


"Ak... ya ampun, Ak!"


Oh Tuhan, oh Tuhan, oh Tuhan...! Aku mengeran* lirih, setiap saraf dan sel dalam tubuhku mendambakan dirinya. Tanganku bergerak. Mencengkeram seprai. Mataku terpejam menikmati momen ini. Begitu jelas kurasakan ketika pria itu menghunjamkan lidahnya ke dalamku. Menggelitik. Mencicipi rasa manis itu sebelum akhirnya ia menyedotku dalam-dalam ke kehangatan mulutnya.


"Ya Tuhan, Ak...!"


Aku megap-megap. Kehabisan napas. Ini sungguh gila! Mendebarkan dan amat sangat menyenangkan.


Ak Jaka enggan berhenti. Enggan... kalau saja tidak ada ketukan pintu dari luar.


Tok! Tok! Tok!


Aku terkesiap!


"Wulan, Jaka," Bi Fatma berseru dari balik pintu. "Mandi dan bersih-bersih dulu, ya. Salat magrib berjamaah."


Ckckck!

__ADS_1


Kan malu jadinya. Ak Jaka, sih, tidak mau dengar! Dasar nakal!


__ADS_2