
Aaaaaaaaaah... aku ingin menjerit. Aku takut kalau yang mereka maksud itu benar-benar Oom Jaka. Bagaimana kalau memang itu kenyataannya? Aku tidak sanggup. Hatiku akan hancur menjadi seratus juta keping. Aku tidak akan sanggup.
"Dugaanku pasti benar. Tiga hari yang lalu kami melihat kalian berduaan di saung sebelah sana. Dan kalian... hmm...," Jelita tidak meneruskan kata-katanya. Bersama Juwita, dia tertawa panjang.
Wajah Mentari sesaat kelihatan menjadi merah. Namun sambil mengulum senyum, gadis itu berkata, "Dugaan kalian memang benar. Aku berada di sini sedang menunggu Kang Jaka. Tapi aku juga sedang menunggu kalian berdua."
"Kami?" kata sepasang gadis pirang itu bersamaan, mereka terpekik girang.
Dalam detik berikutnya, mereka saling melirik lalu dengan cepat duduk bersimpuh di atas rumput. Satu di sisi kiri Mentari, satu lagi di sisi kanannya. Seperti di kebun teh kemarin bersama Arumi, sedemikian rapatnya mereka berdua duduk di sisi gadis itu. Bahkan sepertinya embusan napas kedua gadis berambut pirang itu menyentuh permukaan wajah cantik Mentari, sehingga gadis itu jadi terlihat tidak nyaman.
"Sumpah, kami merasa sangat bahagia karena kamu sengaja menunggu kami," kata Juwita seraya memegang lengan Mentari. "Ada apa gerangan? Tentu ada sesuatu yang bisa kami lakukan untukmu, ya kan?"
Sementara itu, Jelita pun juga mulai memegangi lengan Mentari yang satunya, melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan oleh gadis satunya.
Mentari yang tentunya sudah tahu kelainan sifat dua gadis berambut pirang itu, perlahan-lahan melepaskan kedua tangannya dari genggaman Juwita dan Jelita, lalu berkata, "Aku ingin mengetahui dan meyakini satu hal. Mudah-mudahan kalian berdua bisa memberiku penjelasan yang akurat."
"Soal apa itu?" tanya Juwita seraya merapatkan lagi duduknya.
Mentari berdeham. "Dua hari lalu aku melihat kalian berdua keluar dari gubuk tua di kawasan sana...."
Wajah dua gadis berambut pirang itu sontak berubah. Jelas sangat terkejut. Mereka saling melirik. Mungkin dalam hati mereka menduga-duga apa Mentari mengetahui sesuatu, apa yang telah terjadi sebenarnya, apa yang telah mereka lakukan di gubuk itu?
"Tidak disangka kamu tahu kami ada di gubuk tua itu," kata Jelita. "Kami kebetulan saja lewat di kawasan itu."
"Betul, kami berdua memang hanya kebetulan saja lewat di sana," sambung Juwita. "Jadi kami masuk ke dalam gubuk tua itu."
"Ya. Ketika melihat sebuah gubuk, kami mencoba masuk," Jelita meneruskan. "Jadi, kami masuk. Begitu saja."
Juwita kembali menyambung, "Kami masuk sekadar untuk mencari tempat yang teduh dan aman untuk beristirahat."
"Kalian masuk dan jadi beristirahat di dalam gubuk itu?"
Jelita menggeleng. Juwita memandang kepada Jelita, lalu ikut menggeleng.
__ADS_1
"Jadi kalian tidak masuk...?"
"Kami memang masuk," jawab Juwita.
"Tapi kami segera keluar lagi," Jelita menyela.
"Kenapa?"
"Ada orang lain di dalam gubuk tua itu," jawab Jelita dengan suara perlahan.
"Ada satu pemandangan menusuk mata yang membuat kami tidak sanggup berada di situ dan cepat-cepat keluar."
Mentari menatap dua gadis berambut pirang berganti-ganti lalu bertanya, "Siapa orang lain yang kalian lihat di dalam gubuk tua itu? Apa kalian mengenalnya? Lalu... memangnya apa yang dia lakukan di situ?"
"Ada dua orang di dalam gubuk itu. Satu gadis, satu pemuda," kata Jelita.
"Keduanya *ugil," sambung Juwita. "Mereka sedang bercinta di sana."
"Dan, ya, maaf, tapi harus kukatakan, pria itu pria yang sama yang bercinta denganmu di saung sana. Si pria dari kota, Jaka Pradana."
Aku sudah tahu jawabannya. Gadis itu menanyakan hal yang sama dengan pertanyaan yang kemarin diajukan oleh Arumi.
"Namanya Puspa," Jelita menjawab.
"Puspa?"
"Hu'um. Gadis dari desa sebelah."
"Kalian tidak salah lihat?"
"Ya ampun, pertanyaan yang sama. Kami berdua. Mana mungkin keduanya sama-sama salah lihat."
Mentari menunduk, air mata menggenang di matanya.
__ADS_1
"Kenapa kamu menangis?" tanya Juwita sambil kembali tangannya menyentuh lengan Mentari.
Mentari menggelengkan kepala. Tertunduk lesu. "Tidak apa-apa." Ia menyeka air mata. "Keterangan kalian berdua sangat berguna. Paling tidak sekarang aku benar-benar yakin dan tahu apa yang terjadi di dalam gubuk tua itu."
"Jangan-jangan kamu juga melihatnya sendiri?" Jelita menebak.
Mentari mengangguk. "Aku juga melihatnya sendiri. Tadinya aku seperti ingin mengatakan tidak yakin pada penglihatanku sendiri. Tapi kalau ada dua orang yang menyaksikan hal yang sama. Berarti tidak perlu kuselidiki lebih jauh. Kenapa dia kejam sekali memperlakukan aku?"
Dia juga melihatnya? Berarti... memang ada perbuatan mesum di gubuk tua itu? Dan Oom Jaka...? Apa dia benar-benar telah berbuat mesum di gubuk tua itu? Lalu kemarin di kamarku...? Apa semua yang ia ucapkan kemarin hanyalah bualan? Apa jangan-jangan aku ini salah satu gadis yang ia incar? Dia mengincar darah perawananku? Ya Tuhan...?
Memandang pada dua gadis tomboy berambut pirang itu, Mentari bangkit berdiri. "Aku harus menjauhkan diri dari Kang Jaka. Aku harus kembali ke kota. Terima kasih atas semua keterangan kalian. Aku harus pergi sekarang."
"Hei, jangan begitu," ujar Jelita seraya ikut berdiri. "Tidak jauh dari sini ada saung. Udara di sana sejuk sekali. Pemandangannya juga indah. Bagaimana kalau kita bertiga pergi ke sana? Beristirahat, paling tidak setengah hari. Siapa tahu ada keterangan lain yang ingin kamu ketahui yang kebetulan kami tahu."
Mentari menggeleng. "Terima kasih. Kalian berdua baik sekali. Tapi tidak, keterangan yang kucari sudah aku dapatkan. Mungkin lain kali undangan kalian akan kupenuhi."
"Sayang sekali. Padahal kami bisa menghiburmu."
"Oh, tidak perlu. Terima kasih."
"Kenapa tidak? Kamu kan sedang patah hati karena kamu merasa si Jaka mengkhianatimu, karena dia juga sudah merenggut keperawananmu di saung kemarin, ya kan?"
Mentari menganga. Matanya melotot selebar tatakan cangkir.
"Ayolah, katakan saja. Kami mendengar jeritanmu di saung itu. Kami bahkan melihat... Jaka yang gagah itu menjilati darah perawanmu. Hmm? *ranganmu menggairahkan sekali."
Saat itu tiba-tiba terdengar suara teriakan, lebih tepatnya bentakan.
"Hei, Pirang! Kembalikan batu hitamku yang kalian curi!"
Belum habis rasa terkejut kedua gadis pirang itu, tahu-tahu seorang pria berambut hitam sambil menyeringai dan berkacak pinggang telah berdiri di hadapan mereka.
Oom Jaka...?
__ADS_1
Ya Tuhan, hatiku rasanya tercubit-cubit melihat pria itu ada di sana. Dia adalah orang yang sama yang kutunggu-tunggu selama setahun terakhir. Wajah yang kurindukan.
Rasanya perih sekali, Tuhan....