A Dangerous Man ( Balas Dendam Sang Mafia )

A Dangerous Man ( Balas Dendam Sang Mafia )
Masuk Perangkap


__ADS_3

Marvin tersenyum smrik menatap kedua bola mata Nadine yang jaraknya sangat dekat dengannya, "Kita bertemu lagi, Nadine Leonardo."


Nadine tertegun memandangi pria yang sedang mamayungi dirinya. Rasanya dunia itu serasa sempit sampai dia bisa bertemu kembali dengan Marvin, padahal dia sangat berharap tidak bertemu lagi dengannya. "Mengapa kamu ada disini? Apa kamu mengikuti aku?"


"Aku tinggal di kota ini, jadi wajar saja kalau aku berada disini."


Nadine tidak ingin berurusan dengan pria berbahaya seperti Marvin, dia harus cepat pergi dari sana. "Hmm... baiklah, aku anggap pertemuan kita ini tidak disengaja. Sudah malam, aku harus segera pulang."


"Kamu gadis yang tak tau rasa berterimakasih, padahal aku sudah menolong kamu waktu itu."


Nadine menghela nafas mendengarnya, "Bukannya aku sudah mengucapkan terimakasih padamu waktu itu."


"Aku mendengar artikel tentang kamu, seorang gadis cantik bernama Nadine Leonardo, putri kesayangan dari Rama Leonardo, adalah seorang pengusaha muda sukses yang sangat ramah. Apa itu semuanya palsu?"


Nadine menggigit bibir bawahnya, dia memang ramah tapi bukan pada pria berbahaya seperti Marvin. "Lalu kamu mau apa? Haruskah aku tersenyum manis padamu." Nadine terpaksa melebarkan senyumannya pada Marvin.


"Aku gak ingin senyuman kamu. Senyuman kamu gak tulus, sangat terlihat aneh." Marvin menarik tangan Nadine, "Teraktir aku makan."


"Tapi..."


Nadine ingin menolak, namun pria itu terus menarik tangannya, membawanya masuk ke dalam mobilnya.

__ADS_1


...****************...


Nadine terpaksa harus mentraktir Marvin makan malam hari ini, di sebuah cafe yang sudah ditentukan oleh Marvin.


Lagi-lagi pandangan Nadine tak bisa lepas dari pria itu, dia menjadi penasaran tentang sosok Adam Alvarez, kemudian dia menjadi teringat dengan pengusaha muda terkenal dari Australia, pemilik Alpha Grup.


Nadine mencoba mengecek siapa pemilik Alpha Grup di internet, muncullah wajah tampan Marvin disana, dengan nama Adam Alvarez, pria berusia 28 tahun.


"Jadi kamu pemilik Alpha Grup?"


Marvin menganggukan kepala, "Ya."


"Lalu mengapa kamu berada disini? Bukannya kamu orang Australia?"


Tatapan Marvin membuat jantung Nadine berdebar-debar, dia segera menyeruput minuman miliknya. "Ada yang harus kamu selesaikan? Maksudnya pekerjaan kamu kah? Apa kamu punya klien disini?"


Marvin tidak menjawab, dia memilih menikmati makanannya.


Nadine menghela nafas, pria itu bersikap sok kenal padanya, tapi dia juga bersikap dingin padanya. Dia tidak tau apa sebenarnya apa yang diinginkan pria itu padanya.


Padahal Marvin hanya sedang makan, tapi kenapa pria itu nampak mempesona.

__ADS_1


Astaga, satu minggu lagi kamu akan menikah, Nadine._ Nadine memperingati hatinya.


Walaupun sebenarnya ingin sekali Nadine melarikan diri, dia tidak ingin hidup bersama dengan pria yang tidak dia cintai, terlebih selama ini Damar tidak pernah mengerti perasaannya, pria itu egois. Padahal dia sangat berharap bisa keluar dari Mansion Leonardo, tempat yang seharusnya menjadi tempat yang paling nyaman untuknya karena disanalah dia tinggal bersama kedua orang tuanya.


Nadine lebih suka menikmati minuman miliknya, mungkin karena dia sudah kenyang beberapa jam yang lalu dia telah makan malam bersama Damar dan keluarganya.


"Aku tidak percaya ternyata kamu seorang pengusaha, padahal menurut aku kamu lebih pantas menjadi seorang mafia." Nadine mengatakannya sambil terkekeh.


Marvin berhenti makan, dia menatap tajam pada gadis dihadapannya itu. "Jika aku seorang mafia, apa kamu tau apa yang akan aku lakukan?"


Nadine menguap, dia menutup mulutnya dengan tangan. Entah mengapa tiba-tiba dia merasa ngantuk. Nadine menggelengkan kepala, "Aku tidak tau."


"Aku tidak akan melepaskan kamu, aku akan menyenderamu."


Nadine terkekeh, dia jadi teringat dengan candaan Marvin yang bilang jika mereka bertemu lagi, Marvin tidak akan melepaskannya. "Ternyata kamu bisa bercanda juga."


"Aku serius, bukankah aku sudah memperingatimu waktu itu?"


Nadine merasa tidak enak hati, apakah mungkin pria dihadapannya ini seorang mafia?


"Akhh..." Nadine merasakan kepalanya pening, rasa ngantuknya terasa semakin berat. Nadine meringis memegang kepalanya.

__ADS_1


Marvin tersenyum kecut, saat Nadine ke kamar mandi, dia telah memasukkan obat tidur ke dalam minuman Nadine. Marvin, bukanlah pria yang suka bermain-main dengan ucapannya. Dia memang tidak akan melepaskan gadis dihadapannya itu, seorang gadis yang masih sedarah dengan ayahnya, namun dia tidak sudi menjadi seorang kakak pada gadis yang kini telah tidak sadarkan diri itu.


"Kamu telah masuk ke dalam perangkapku, Nadine Leonardo. Kau sudah lama menikmati kebahagiaan dengan uang kedua orang tuaku. Inilah awal penderitaanmu!"


__ADS_2