
Nadine terpaksa harus membersihkan gudang di mansion miliknya Marvin, dia terus saja mengumpat karena tidak terima diperlakukan seperti ini oleh Marvin.
"Kenapa dia berbuat seperti ini padaku? Kau pikir kau siapa Adam Alvarez, berani sekali kau..."
"Aaaaa!"
Nadine menjerit begitu melihat ada banyak kecoa di gudang itu, dia langsung naik ke atas meja sambil meloncat-loncat ketakutan.
"Adam!"
"Pria bajingan kamu!"
"Kau pikir aku tidak berani padamu huh!"
Nadine mengumpat tiada henti, dia pikir Marvin mendekatinya karena naksir padanya, namun ternyata sekarang dia juga tidak tau sebenarnya apa yang Marvin mau darinya. Pria itu sungguh tidak bisa ditebak.
Nadine tidak tau kalau disana ada kamera CCTV kecil, Marvin sengaja memasang CCTV disana untuk mengawasi Nadine.
Dan sekarang Marvin sedang menontonnya, dia tertawa renyah begitu melihat Nadine yang menjerit-jerit takut pada kecoa, tingkah gadis itu sangat konyol, jauh dari ekspektasinya, dia pikir seorang Nadine Leonardo akan selalu terlihat elegan.
Marvin sedang berada di dalam mobil, dia habis berburu rusa bersama Dewangga dan anak buahnya di hutan, dan darah hewan itu dia tumpahkan ke gaun Nadine yang dikirim ke Tuan Rama.
Dewangga sedang membakar daging rusa bersama para anggota Athena, memakan daging hasil tangkapan sendiri memang rasanya berbeda, sangat terasa jauh lebih nikmat.
Dewangga memperhatikan Marvin yang sedang tertawa menonton sesuatu di laptopnya, dia penasaran apa yang membuat Marvin tertawa, biasanya pria itu selalu terlihat menakutkan.
Marvin berhenti tertawa begitu melihat Dewangga masuk ke dalam mobil, dia segera menutup laptopnya.
"Wah aku penasaran apa yang membuat kamu tertawa?" Dewangga sangat penasaran.
"Hanya menonton video lucu di youtube."
__ADS_1
Marvin lebih baik melempar pembicaraan mereka, dia tidak ingin Dewangga tau kalau dia sedang memperhatikan Nadine. "Bingkisan itu sudah dikirim kan?"
"Sudah, papamu dan ibu tirimu pasti sedang bersedih dan gelisah hari ini. Apa yang akan kau lakukan nanti saat bertemu dengan papamu sebagai Adam Alvarez?"
Marvin hanya tersenyum kecut, "Kau lihat saja nanti."
...****************...
Malam telah datang, Nadine baru saja selesai membereskan gudang, gudang itu telah dia sulap menjadi sebuah kamar, walaupun tetap saja tempat itu rasanya tidak layak untuk dijadikan sebuah kamar, begitu sempit dan juga agak kusam.
Nadine sadar betul dia tidak akan bisa melarikan diri dari sana, apalagi melihat penjagaan yang begitu ketat, walaupun hatinya bertanya-tanya apa tujuan Marvin menculiknya.
"Hah... akhirnya selesai juga." Nadine merebahkan dirinya di atas kasur, dia terengah-engah kelelahan, sambil menatap langit-langit.
Nadine terbelalak saat melihat seekor kecoa di langit-langit sana, dia langsung menjerit dan berlari ke luar dari kamar. "Aaaaa..."
Buukk...
Ternyata Marvin.
Marvin hanya diam menatap dingin pada Nadine yang sedang terduduk di lantai.
Nadine segera berdiri, menatap pria dihadapannya dengan tatapan penuh menuntut. "Kenapa kamu menculik aku? Apa aku punya salah padamu? Aku tidak terima kamu memperlakukan aku seperti ini, Adam."
"Aku lelah, tidak ada waktu untuk berbicara denganmu." ketus Marvin.
"Kau pikir aku tidak lelah apa? Aku membereskan gudang dari pagi sampai malam." protes Nadine.
"Baguslah, gudang itu memang akan menjadi kamar kamu."
"Gak mau, aku gak mau tidur disana. Kau pikir kau siapa berani memperlakukan aku seperti?"
__ADS_1
Marvin mendengus kesal, "Jangan membuat aku marah!"
"Aku yang seharusnya marah padamu, bukan kamu." Nadine tak mau kalah.
Marvin menatap tajam pada Nadine sambil berjalan ke arahnya, Nadine reflek berjalan mundur, dia sangat gugup sekali.
"Apa kamu ingin aku memperlihatkan bagaimana aku yang sesungguhnya?"
Nadine tak bisa berkutik, punggungnya mentok di dinding. Dia menalan saliva menatap Marvin yang jaraknya sangat dekat sekali dengannya. Marvin meletakkan kedua tangannya untuk mengunci tubuh gadis itu. Jika Marvin maju satu langkah lagi bibir mereka akan menempel.
"Jangan membuat aku marah, jika kamu tidak ingin aku menyakiti kamu!" Marvin berkata seperti itu sambil menatap kedua bola mata Nadine.
Khusus malam ini, Nadine harus mengalah, dia benar-benar ingin beristirahat, dia sangat kelelahan, apalagi melihat cara Marvin menatapnya membuat dia merinding. "Ta-tapi di gudang ada kecoa, aku sangat takut, bisakah kau menangkapnya? Kalau kau tidak mau menolongku, aku akan terus mengajakmu bicara."
Marvin menghela nafas, dia terpaksa masuk ke dalam gudang. "Dimana kecoanya?"
"Di langit-langit, tepatnya di atas kasur."
Marvin segera naik keatas kasur, akan tetapi ternyata kecoanya sudah tidak ada disana, mungkin kecoa itu telah berpindah tempat. "Tidak ada kecoa disini."
"Tadi ada." Nadine kekeuh, dia tidak ingin Marvin pergi sebelum menangkap kecoa itu.
Marvin turun dari kasur, "Tidak ada kecoa, jangan membohongiku. Lebih baik kamu cepat tidur!"
Nadine tidak sengaja melihat ada kecoa di dekat kakinya, dia menjerit, "Aaaaa... kecoa!"
Nadine reflek loncat dan memeluk Marvin, mungkin karena kejadian itu sangat mengejutkan, apalagi Marvin dalam keadaan lengah, membuat mereka kehilangan keseimbangan.
Buukk...
Nadine dan Marvin terjatuh ke atas kasur, dengan posisi Nadine berada diatas Marvin, dan lebih parahnya bibir mereka tidak sengaja menempel.
__ADS_1