A Dangerous Man ( Balas Dendam Sang Mafia )

A Dangerous Man ( Balas Dendam Sang Mafia )
Pembalasan Untuk Markus


__ADS_3

Markus sama sekali tidak menyangka ternyata sosok pengusaha muda terkenal itu adalah Marvin, padahal selama beberapa hari ini dia berusaha untuk mencari keberadaan Marvin. Ternyata orang yang dia cari begitu familiar di kalangan umum.


Markus hanya tau Adam adalah seorang pengusaha, dia tidak tau pria itu seorang mafia, dia yakin akan mudah sekali untuk melenyapkan pria itu.


"Sayangnya hari ini aku akan membuat kamu benar-benar mati, Marvin." Markus terkekeh, dia mengeluarkan pisau lipat yang ada di saku jaketnya.


Kemudian dia menunjukkan pisau yang terlihat sangat tajam itu kepada Marvin. "Apa kau ingat bagaimana cara aku membunuh ibumu? Aku menikam perutnya berkali-kali hahaha..." Dia tertawa puas.


"Dan sekarang giliran kamu, aku akan...."


Pembicaraan Markus terpotong begitu Marvin dengan cepat menendang tangannya sampai pisau itu terlempar lumayan jauh.


Marvin sangat emosi mendengar perkataan Markus, membuat dia teringat bagaimana kesakitannya sang ibu, begitu banyak luka tusukan yang Markus lakukan pada ibunya.


"Shhh... arrghhh..." Markus meringis kesakitan, tendangan kaki Marvin pada tangannya begitu keras.


"Brengsek!" Markus berlari untuk menyerang Marvin. Dia melayangkan tinjunya ke arah wajah Marvin.


Sehingga mereka saling memukul, saling menyerang, sampai wajah mereka babak belur.


Namun saat Markus ingin melayangkan tinjunya kembali, dia terkejut begitu Marvin menahan bogeman Markus dengan telapak tangannya, dia berbalik memutar tangan Markus dengan cepat dan keras.


Krek!


"Arrghhh!"


Markus mengerang kesakitan, tangannya di buat patah tulang oleh Marvin. Dia memegang tangannya yang sulit digerakkan, karena tulangnya patah, dia terus meringis.


Marvin, pria itu begitu tenang, dia datang ke Kampung Duku dengan tangan kosong tanpa membawa senjata sama sekali, karena dia juga begitu ahli dalam aksi bela diri.


Namun Markus tidak menyerah, dia masih memiliki tangan kiri untuk digerakkan, dia segera membawa pisaunya yang tergeletak di tanah, lalu menyerang Marvin kembali dengan pisau.


Markus kalah cepat, sebuah bogeman lebih cepat melayang ke area wajahnya, membuat hidungnya berdarah.


Dengan gerakan yang cepat, Marvin merebut pisau dari tangan Markus, dia menyayatkan pisau itu ke perut Markus.


"Arrghhh!"

__ADS_1


Markus meringis, memegang perutnya yang terluka.


Tak berhenti disana, Marvin menyayatkan pisau ke betis Markus.


"Arrghhh!"


Markus menjerit.


Berbeda dengan Marvin, dia begitu tenang bahkan sama sekali tidak berkeringat melawan Markus, dia seperti seorang psikopat yang sudah terbiasa membunuh orang.


Markus tidak ingin mati sia-sia, dia segera berlari sambil memegang tangannya yang patah, dan kondisi kakinya yang terpincang-pincang, karena itu dia tidak bisa berlari cepat.


Sementara Marvin, dia begitu tenang berjalan dengan santai mengikuti Markus, membuat dia teringat bagaimana ketakutannya dulu saat Markus mengejarnya.


"Jangan mengajak aku bermain, kemarilah!" Marvin mengulangi perkataan Markus yang dulu dikatakan pria itu padanya.


"Aku akan mengirim kamu ke neraka."


Keringat dingin bercucuran membasahi pelipis Markus, nafasnya tak beraturan, dia sangat ketakutan sekali, bisa dia rasakan bagaimana ketakutannya Marvin dulu saat dikejar olehnya.


Namun sialnya dia terjebak, dia malah berada di ujung tebing, tempat dulu dia mengejar Marvin.


Markus berjalan mundur dengan hati-hati, dia rasa dia bisa melarikan diri dengan cara Marvin dulu, dia harus meloncat dari atas menyeburkan dirinya ke dalam sungai.


Tanpa berpikir lama, Markus meloncat menjatuhkan dirinya ke sungai yang berada di bawah tebing itu.


Byurr...


Markus hampir saja tenggelam, dia mengerang karena kaki dan perutnya begitu perih terkena air sungai, apalagi tangan kanannya patah.


Air sungai pun kini bercampur dengan darah, menjadi berwarna kemerah-merahan.


Markus menatap ke atas, dia melihat Marvin yang sedang berdiri dengan tenang memperhatikannya di ujung tebing. Sepertinya pria itu tidak berani meloncat ke sungai di sana.


"Akhirnya aku bisa melarikan diri." Markus menjadi tenang, dia segera berenang ke tepi sungai.


Kemudian dia berteriak kepada Marvin yang sedang memandanginya di ujung tebing itu. "Kamu bukan lawanku, Marvin. Kamu tidak akan bisa menangkap aku, apalagi membunuhku hahaha..." ledeknya.

__ADS_1


Buukk...


Tiba-tiba ada yang memukul kepala Markus dengan pipa besi, ternyata disana ada Dewangga yang sedang bersembunyi di balik batu besar.


"Shhh... Arrghhh!"


Markus meringis, kepalanya bercucuran darah, membuat kepalanya terasa sangat pening.


Kemudian dia terjatuh pingsan di tepi sungai itu.


...****************...


Markus terbangun, dia terkejut saat menyadari tangan dan kakinya terikat dengan posisi berdiri, bertumpu pada tiang-tiang besi yang ada disana.


Markus di sekap di Markas Athena.


"Arrghhh!" Dia meringis, karena darah bercucuran dari kepala, perut, dan betisnya, sangat terasa sakit sekali.


Kemudian dia baru menyadari ternyata di depannya ada Marvin yang sedang menatap tajam padanya.


"Tolong lepaskan aku, aku mohon." Markus memohon pada Marvin untuk melepaskannya. Dia mengigit bibir bawahnya lalu mengerang kesakitan.


Markus menjerit begitu Marvin menempel besi panas ke perutnya yang terluka.


"Arrghhh!"


"Siapa orang yang menyuruhmu membunuh ibuku?"


Markus enggan menjawab, dia malah terus merintih.


Marvin semakin menekankan besi panas itu ke perut Markus yang terluka, membuat Markus terus mengerang, merasakan kesakitan yang luar biasa.


"So-Sonya dan Erza." Markus terpaksa harus berkata jujur.


Marvin hanya bisa menghela nafas sambil mengepalkan tangannya, dia memang sudah menduga pasti ibu tirinya adalah dalang di balik semua ini. Dan Erza mungkin adalah selingkuhan Sonya.


"A-aku sudah berkata jujur, karena itu aku mohon, lepaskan aku."

__ADS_1


Namun Marvin tidak merespon permintaan dari Markus, dia pergi begitu saja meninggalkan Markus, dia ingin membiarkan Markus menderita kesakitan sampai ajal menjemputnya.


"Hei brengsek, lepaskan aku!" Markus terus berteriak meminta untuk dilepaskan.


__ADS_2