A Dangerous Man ( Balas Dendam Sang Mafia )

A Dangerous Man ( Balas Dendam Sang Mafia )
Pahlawan Misterius


__ADS_3

"Jadi Om sama sekali tidak terlibat dalam peristiwa penembakan malam ini?" tanya Marvin kepada Om Theo, lewat panggilan sebuah telepon.


Sekarang Marvin sudah berada di sebuah kamar hotel yang ada di seberang rumah sakit Tirtayasa, tempat Tuan Rama di rawat. Dia tidak memakai baju, hanya terlihat ada perban menempel di punggungnya, menutupi luka tembakan.


"Bukan, Om tidak bisa membunuh Nadine Leonardo sebelum Om mendengarkan penjelasan dari Aline, karena itu Om sengaja membawa Aline ke Amerika agar Aline cepat sembuh. Aline memiliki rahasia penting, jadi dia harus hidup."


"Jadi hanya itu alasan Om membawa Miss Aline kesana?" Padahal tadinya Marvin berpikir Om Theo memiliki hubungan khusus dengan Aline. Walaupun selama ini Om Theo tidak pernah terlihat berkencan dengan seorang wanita.


"Ya, hanya itu. Karena dia memiliki rahasia yang kita tidak ketahui, karena itu dia harus hidup, dia harus cepat bangun." Om Theo terpaksa berbohong, dia tidak ingin Marvin tau tentang hubungan dia bersama Aline, sementara dirinya melarang Marvin untuk jatuh cinta.


Om Theo berkata begitu sambil memandangi Aline yang masih terbaring koma. Dia harap keputusannya benar, membawa Aline ke salah satu rumah sakit terbaik di Amerika.


"Apakah mungkin orang yang mencoba menembak Nadine itu Erza?" Marvin mencurigai Erza dalang di balik penembakan malam ini.


"Mungkin saja, karena sebelum Om pergi ke Amerika. Om sudah mengirim mayat Markus kesana. Bisa saja dia dendam kepada kita. Kamu harus berhati-hati, The Bloods adalah gang yang sangat kuat, bahkan mungkin saja mereka memiliki dukungan dari penguasa disana." Om Theo mencoba untuk memperingati Marvin.


"Iya, Om."


"Lalu apakah Nadine tertembak?"


Marvin tidak ingin Om Theo tau bahwa dia mengorbankan dirinya terluka untuk melindungi Nadine, "Tidak Om, karena Nadine di jaga sangat ketat."


Setelah bertelepon dengan Om Theo, Marvin membuka sedikit gorden jendela di kamar hotel tersebut, dia melihat Nadine yang sedang berada di rooftop rumah sakit.

__ADS_1


Sepertinya Nadine sedang termenung memikirkan sesuatu, Marvin paham betul pasti Nadine sangat shock dengan kejadian malam ini.


Mata Marvin berkaca-kaca melihatnya, jika dia mengikuti kata hatinya ingin sekali dia menemuinya dan memeluknya, melepaskan rasa rindunya. Namun dia tidak bisa melakukannya. Dia merasa tersiksa dengan semua ini.


Marvin melihat ada tiga bodyguard sedang berdiri tak jauh dari belakang Nadine. Dia sedikit merasa lega karena ada yang menjaga Nadine.


...****************...


Hari telah mulai siang, negeri ini di gemparkan dengan berita di berbagai media dan channel televisi karena banyak sekali masyarakat miskin yang menerima kejutan uang misterius.


Seperti waktu itu, mereka menemukan kantong plastik berwarna hitam yang berisikan uang di teras depan rumah. Bahkan banyak musafir pun yang mendapatkan uang tersebut dari orang-orang yang wajahnya sengaja ditutupi dengan masker.


Marvin sangat tau bagaimana rasanya menjadi orang miskin, dia pernah mengalami kesusahan untuk mencari sesuap nasi bersama ibunya, karena itu dia ingin mencoba sedikit meringankan penderitaan mereka. Bahkan di Australia pun, dia mendirikan sebuah panti asuhan.


"Permisa, hari ini kita mendapatkan berita yang sangat mengejutkan kembali, banyak sekali masyarakat miskin yang menemukan uang dengan jumlah yang lumayan besar, di teras rumah mereka. Seperti waktu itu, uang tersebut hanya dibungkus oleh kantong plastik hitam. Semua masyarakat sangat penasaran siapakah pahlawan misterius itu?"


"Padahal sekarang ini sedang masa kampanye, banyak para calon pejabat yang mencoba menarik simpati masyarakat. Namun pahlawan misterius itu sama sekali tidak ingin menampakkan jati dirinya. Sehingga orang-orang di negeri ini menggelar sebuah acara pelepasan balon ke udara, mereka menuliskan kata terimakasih untuk sang pahlawan misterius dan menuliskan doa untuknya. Karena mereka tidak bisa mengucapkan rasa terimakasih mereka secara langsung kepadanya."


Di televisi, terlihat banyak sekali ribuan orang yang sedang berkumpul di sebuah lapangan yang sangat luas, mereka melepaskan balon udara udara bersamaan, sehingga balon itu bertebaran terbang ke atas, menghiasai angkasa.


Hal ini menjadi berita trending nomor satu negeri ini.


Tuan Rama masih terbaring di atas brankar, dia mengepalkan tangannya memandangi pesta balon yang disiarkan langsung di sebuah acara berita televisi tersebut.

__ADS_1


Apakah mungkin pria yang dijuluki pahlawan misterius itu orang yang sudah mencuri uang perusahaan? Dulu pahlawan misterius itu pernah diberitakan dalam kasus yang sama, membagikan uang ke masyarakat dan juga menolong gadis-gadis yang hampir di jual ke luar negeri, waktunya bersamaam dengan saat Nadine di culik oleh orang yang mengaku dirinya Marvin.


"Bedebah, sebenarnya siapa kamu?" Tuan Rama mengumpat.


"Dulu dia beraksi bersamaan di hari yang sama saat menculik kamu, Nadine. Coba kamu ingat-ingat wajahnya, siapa tau dia pernah memperlihatkan wajahnya sama kamu, Nadine." celotehan Sonya, dia juga sama, sangat terlihat emosi sekali.


Nadine hanya diam, dia membiarkan orang tuanya meluapkan emosi dan kekesalannya. Dia semakin yakin pelakunya adalah Adam Alvarez. Adam Alvarez adalah orang yang sudah menghancurkan perusahaan Leon Grup.


Namun Nadine memilih bungkam, dia ingin tau apa alasan Adam menghancurkan Leon Grup. Dia akan berpura-pura tidak tau di depan pria itu, mengikuti permainannya, dia akan balik menghancurkannya.


"Bagaimana kalau aku hubungi Adam hari ini?" tanya Sonya kepada Tuan Rama.


Tuan Rama tak ada pilihan lain, tidak mungkin dia meminta bantuan kepada Tuan Dafa, karena dia sedang sibuk berkampanye akhir-akhir ini, yang pastinya membutuhkan biaya yang sangat besar. Walaupun perusahaan calon besannya itu adalah perusahaan terbesar nomor dua di negeri ini, yang mungkin akan naik ke atas menjadi perusahaan terbesar nomor satu, menyingkirkan posisi Leon Grup yang sudah lama bertahta menjadi perusahaan terbesar nomor satu di negeri ini.


...****************...


Sementara itu, Marvin, dia sedang berdiri di rooftop hotel, dia memandangi balon-balon yang bertebaran di angkasa, walaupun tatapannya begitu terlihat datar.


Drrrttt... Drrrttt...


Marvin merasakan ponselnya bergetar, dia segera memeriksa ponselnya. Dia melihat ada pesan dari Sonya.


[Hai Adam, apa kamu sedang berada di Indonesia? kami dari Leon Grup ingin sekali bertemu denganmu, ada hal penting yang harus kami bicarakan denganmu.]

__ADS_1


__ADS_2