A Dangerous Man ( Balas Dendam Sang Mafia )

A Dangerous Man ( Balas Dendam Sang Mafia )
Hacker Handal


__ADS_3

Setengah jam sebelum situs perusahaan Leon Grup di retas.


Di Markas Athena, malam ini Dewangga sedang sibuk mengotak-atik komputernya, dengan memasukkan kode-kode yang bisa merentas situs perusahaan Leon Grup.


Namun system Leon Grup memiliki tingkat kesulitan yang sangat tinggi, sehingga Dewangga mengalami kesulitan untuk menembusnya.


Kebetulan Dami berada disana, dia sedang membantu Dewangga, untuk mendapatkan pasword perusahaan Leon Grup. "Bukankah Nadine adalah orang yang terpenting untuk Rama Leonardo? Kita coba pakai tanggal lahirnya Nadine."


"Coba cari berapa tanggal lahir Nadine Leonardo?"


Dami mencari data tentang Nadine, kemudian dia mendapatkan tanggal lahir wanita itu. "120499."


Dewangga mengangguk kepala, dia mencoba memasukkan tangal lahir Nadine agar bisa masuk ke dalam situs perusahaan Leon Grup.


Ternyata bukan. Sepertinya Leon Grup menggunakan password secara acak.


Dewangga berpikir sejenak, kemudian dia mencoba memasukkan kembali password secara acak.


Tett...


Gagal!


Dewangga tidak menyerah, dia terus berusaha beberapa kali menggunakan password secara acak.


Klik!


Dewangga menekan tombol enter.

__ADS_1


Dami menatap takjub akhirnya Dewangga bisa menembus situs perusahaan Leon Grup, dia melihat banyak data penting disana, termasuk data keuangan.


Dewangga memasukkan beberapa kode hack lagi agar bisa membuka semua data disana. Dia mengcopy paste semuanya, lalu memasukkan system virus untuk membuat semua data di Leon Grup terhapus.


"Wah kau pintar sekali, Dewangga." Dami memuji kecerdikan Dewangga.


Dewangga menaikan kedua alisnya, dia menggoda Dami. "Kau menyesalkan sudah menolakku dulu, hm?"


Dami pura-pura lupa. "Kapan kamu bilang suka padaku?"


Dewangga hanya mendengus kesal.


Ehm!


Suara deheman Marvin membuat mereka fokus kembali dengan pekerjaan mereka.


Marvin duduk di samping kiri Dewangga. Dia memperhatikan bagaimana Dewangga sudah berhasil meretas semua data perusahaan Leon Grup.


Jika Marvin ada disana, Dami dan Dewangga harus serius, mereka tidak boleh terlihat bercanda.


Dewangga memasukkan beberapa kode hack lagi, sehingga dia bisa masuk ke dalam data keuangan Leon Grup.


"Wow 450 triliun?" Dewangga dan Dami berseru, hampir bersamaan.


Marvin dengan santai meneguk segelas seloki wine, kemudian dia memberikan perintah kepada Dewangga. "Ambil saja semuanya!"


"Kau yakin akan menghancurkan ayahmu?" Dewangga bertanya kepada Marvin agar Marvin berpikir lagi.

__ADS_1


"Aku sudah tidak mengganggap Rama Leonardo adalah ayahku." Marvin menyimpan gelas seloki di atas meja.


"Tapi mungkin Nadine akan membenci Tuan." Dami mengatakannya dengan nada segan.


Marvin hanya diam, dia tak merespon perkataan Dami. Karena memang itu yang dia mau, dari tatapan mata wanita itu, dia tau kalau Nadine memiliki perasaan padanya. Justru menurut Marvin malah bagus jika Nadine membencinya, itu akan bisa membuat Nadine dengan cerpat melupakan dirinya.


Marvin tidak ingin Nadine menderita dengan perasaannya, walaupun dia sendiri tidak bisa melupakan wanita itu. Jika mengikuti kata hatinya, ingin sekali dia bertemu dengannya, namun dia mencoba menahannya sekuat hati.


Dewangga segera mentransfer semua uang milik Leon Grup ke sebuah rekening yang tidak akan pernah bisa terlacak siapa nama pemilik rekening tersebut.


"450 triliun, akan kamu gunakan untuk apa?" tanya Dewangga kepada Marvin. Dewangga merasa Marvin tidak membutuhkan uang itu.


"Seperti waktu itu, kalian berikan saja kepada orang-orang yang membutuhkan. Termasuk panti jompo dan panti asuhan." Setelah berkata begitu, Marvin beranjak dari duduknya, dia harus pergi ke suatu tempat.


"Aku pergi dulu. Kalau kalian mau, kalian ambil saja berapa yang kalian mau."


Dewangga menggelengkan kepala, "Uang gaji darimu pun belum habis."


Dami menatap penuh takjub memperhatikan Dewangga. Dia pun sama, dia tidak menginginkan uang itu, baginya bayaran yang diberikan oleh Marvin kepadanya sudah terhitung sangat besar.


Marvin hanya tersenyum tipis, dia menepuk pundak Dewangga. Dia memang sangat tau Dewangga begitu setia kepadanya.


Mereka sangat setia kepada Marvin karena Marvin memperlakukan mereka dengan sangat baik.


Ternyata Marvin pergi ke rumah sakit tempat ayahnya di rawat, dia sama sekali tidak mengkhawatirkan ayahnya. Dia hanya mengkhawatirkan Nadine.


Mungkin apa yang dia lakukan begitu kejam, tapi begitulah dia, dia memang pria yang kejam. Sebelum Nadine datang ke dalam kehidupannya, hatinya tak pernah terusik oleh siapapun. Marvin berharap dia bisa seperti dulu lagi.

__ADS_1


__ADS_2