
"Ampun Mas, jangan pukul aku lagi." Aline memohon-mohon pada suaminya sambil menangis.
"Ampun, Mas. Aku mohon!"
Hanya masalah sepele, gara-gara masakan buatan Aline keasinan, Markus memukulnya dengan membabi buta. Sampai tubuh Aline tak berdaya terbaring di lantai.
Kemudian Markus menendang perut Aline, membuat Aline merintih kesakitan.
"Arrhh, sakit Mas!"
"Kamu itu seorang istri yang sangat tidak becus. Mending mati saja kamu heuh!" bentak Markus.
Markus terus mengumpat tidak berperasaan.
Aline hanya bisa menangis, memegang perutnya yang kesakitan, bukan hanya perutnya saja, tapi juga seluruh tubuhnya. Badannya sudah tidak kuat lagi menahan siksaan dari Markus.
Markus segera pergi dari rumah, dia membanting pintu dengan sangat keras, Markus memang tidak pernah bisa mengontrol emosinya.
Aline masih menangis sambil meringis kesakitan, dia merasakan tubuhnya melemah, namun dia harus kuat sampai bisa bertemu dengan Nadine, dia ingin Nadine tau kalau dia adalah ibunya dan memiliki kesempatan untuk memeluk putrinya walaupun mungkin untuk terakhir kalinya.
Aline mencoba untuk bangkit, dia berjalan sempoyongan, berpegangan pada dinding, dia harus menghubungi Nadine hari ini.
Aline membuka lemari, dia membawa ponselnya di bawah tumpukan pakaian. Kemudian dia terduduk kembali di sudut kamarnya sambil meringis merasakan kesakitan diseluruh tubuhnya.
Dengan tangannya yang gemeteran Aline mencoba mengaktifkan ponselnya, kemudian dia mengirim pesan pada Nadine.
[Nadine, aku ingin bertemu denganmu, ada hal penting yang ingin aku bicarakan padamu. Kapan kamu ada waktu?]
__ADS_1
Setelah mengirim pesan pada Nadine, Aline terbatuk-batuk sampai ponselnya terjatuh ke lantai.
"Ohokk... ohokk..." Aline menutup mulutnya dengan tangan kanannya.
Aline terkejut begitu melihat darah di tangannya, sepertinya sakitnya sudah mulai parah. Dia menitikan air matanya, apakah bisa Tuhan mengabulkan permintaannya, dia ingin bertemu dengan Nadine sebelum dia mati.
"Nadine, anakku!" lirihnya, sambil terisak.
...****************...
Setiap hari Markus selalu berusaha keras untuk menemukan Marvin, dia harus bertemu dengannya dan melenyapkannya.
Kali ini dia mencari Marvin ke Kampung Duku, siapa tau dia menemukan Marvin disana. Tempat dimana dia membunuh ibunya Marvin dengan cara yang sangat keji.
Markus memperhatikan puing-puing rumah yang dulu dia bakar, bersama Bu Rena dan juga anak yang telah dia ambil organnya. Dia yakin Marvin pasti akan datang kesana, anak lemah yang mempermainkannya dan kabur darinya.
Kini Markus tidak akan membiarkan Marvin kabur lagi, dia harus membunuhnya, dan mencabik-cabik tubuhnya menjadi beberapa bagian, agar dia puas karena merasa telah dipermainkan olehnya.
"Jangan bermain-main denganku!"
"Tidak cukupkah kamu bersembunyi selama 18 tahun ini? Dasar pengecut, brengsek!"
Markus terus berteriak sambil mengumpat, seperti orang gila. Marvin telah mengganggu ketenangannya, dia sangat takut jika ketahuan telah membohongi Erza selama ini, Erza pasti akan membunuhnya dengan cara yang sangat sadis.
Markus mendengar suara langkah seseorang di belakangnya, dia segera membalikkan badan. Betapa terkejutnya dia saat melihat Adam Alvarez, seorang pengusaha terkenal dari Australia berada dihadapannya sekarang.
"A-adam Alvarez? Mengapa kamu ada disini?" Markus tidak mengerti mengapa Adam berada disana.
__ADS_1
Namun dari sorot matanya, dia melihat ada kebencian yang begitu mendalam dari tatapan pria dihadapannya itu.
"Setelah 18 tahun lamanya, akhirnya kita bertemu kembali, Markus." ucap Marvin dengan suara khasnya yang agak serak. Dia mengepalkan tangannya menatap tajam pada pria jahat itu.
Markus terbelalak, dia sama sekali tidak menyangka ternyata seorang pengusaha muda yang sangat terkenal itu adalah Marvin, orang yang telah dinyatakan meninggal olehnya, agar mendapatkan uang dan kepercayaan dari bosnya.
Gara-gara ulahnya, Marvin dianggap mati oleh semua orang, bahkan tidak ada satu orang pun yang mengakui dia pernah hadir di dunia ini. Semua foto, barang dan semua peninggalannya telah dilenyapkan oleh Sonya, kini yang tersisa hanyalah kenangan dan namanya di masa lalu.
Walaupun kini namanya Adam Alvarez, tapi dihatinya hanyalah Marvin, karena Marvin adalah kenangan satu-satunya yang dia miliki dari ibunya. yang akan selalu tertinggal di hatinya.
...****************...
Visual
Marvin Leonardo / Adam Alvarez
Nadine Leonardo
__ADS_1