
Marvin berhasil melumpuhkan ketiga anggota gang The Bloods, membuat mereka tidak berdaya lagi dan terkapar di aspal.
Lalu Marvin menyuruh anak buahnya yang baru sampai untuk mengamankan ketiga anak dari panti, "Tolong bawa mereka ke tempat yang aman."
"Baik, Tuan."
Mereka segera membuka tali yang mengikat tangan dan kaki ketiga anak itu, dan juga lakban yang menutupi mulut mereka.
Ketiga anak itu sangat ketakutan sekali. Namun mereka mempercayai Marvin orang baik, mereka bersedia masuk ke dalam mobil salah satu anggota Athena, untuk diamankan.
Mobil itu pun segera pergi, anak-anak itu tidak boleh sampai ke Markas The Bloods, mereka tidak boleh tau aktivitas mengerikan disana.
Marvin menarik kerah salah satu dari anggota gang The Bloods yang terkapar di aspal, dia menodongkan pistol ke arah kepalanya.
"Jangan bunuh aku, aku mohon. Aku memiliki istri dan anak yang harus aku nafkahi!" Pria itu memohon. Sementara wajahnya sudah di buat babak belur.
"Aku akan membiarkan kamu pergi, asalkan kamu beritahu aku dimana Markas The Bloods!"
...****************...
Nadine berusaha keras untuk melepaskan diri, namun sayangnya tali yang mengikat tangannya begitu kuat.
Ceklek!
Jantung Nadine berdebar-debar saat mendengar suara seseorang membuka pintu, dia melihat Erza masuk ke dalam.
Erza tersenyum kecut, dia memperhatikan penampilan Nadine dari ujung kaki ke ujung kepala, siapa yang tidak tertarik dengan wanita secantik itu. Erza sering memperhatikan Nadine dari saat Nadine masih kecil. Masa bodoh dengan Damar, dia akan melenyapkan orang-orang yang menurutnya sudah tak berguna.
Erza duduk di pinggir ranjang, dia membelai pipi Nadine, "Kau sudah dewasa sekarang, Nadine Leonardo."
"Siapa kamu? Jangan macam-macam padaku!" Nadine tidak sudi disentuh oleh pria jahat itu.
Erza cekikikan, "Benar kamu ingin tau siapa aku?" Erza menunjuk dirinya sendiri. "Aku adalah orang yang telah membawa paksa kamu dari tangan ibumu. Hahaha..." Erza merasa dirinya bangga dengan apa yang dia lakukan.
"Nasibmu bukanlah ditangan Damar ataupun Dafa, tapi ditangan aku. Aku pemilik The Bloods, tidak ada yang boleh mengaturku. Jika aku ingin membunuhmu, aku akan membunuhmu. Tapi aku akan membiarkan kamu hidup, jika kamu mengikuti keinginanku." Erza memandangi Nadine dengan tatapannya yang nakal.
Kemudian Erza berjalan, dia mengambil satu botol vodka dan satu buah seloki, lalu berjalan kembali ke arah Nadine, dia menarik kursi, dan duduk disamping Nadine. "Karena mungkin saja nasibmu akan buruk, aku memberitahu semua rahasia yang mungkin belum kamu ketahui."
Erza menuangkan vodka ke dalam seloki, lalu meneguknya.
Nadine mengerutkan keningnya, menunggu Erza melanjutkan perkataannya.
"Aline, adalah ibumu. Hm aku baru tau ternyata selama ini dia sering menghubungi kamu. Aku dan Sonya membawamu secara paksa dari tangan ibumu."
__ADS_1
Mata Nadine membulat, sampai dia berkaca-kaca, jadi selama ini orang yang sering memperhatikannya, orang yang menyebut dirinya Miss A itu adalah ibunya.
Jika ternyata dia anaknya Aline, berarti dia dan Marvin tidak memiliki ikatan darah?
"Kenapa kalian tega melakukannya?" Nadine mengatakannya dengan nada membentak. Dia masih ingat bagaimana kondisi Aline yang begitu memprihatinkan, dia mengepalkan tangannya menatap tajam pada Erza.
Erza malah terkekeh, dia tak langsung menjawab, dia lebih memilih meneguk lagi satu seloki vodka, lalu dia menyimpan botol dan seloki di atas meja.
"Tentu saja karena karena uang, ayah angkatmu itu pria yang bodoh, membuang putra kandungnya, memilih dirimu yang sama sekali tidak memiliki ikatan darah dengan si tua bangka Rama itu. Hahaha... dia pasti sedang meratapi penyelasannya setelah melihat hasil tes DNA itu."
Erza tahu dari Sonya kalau Tuan Rama akan melakukan tes DNA dengan Nadine, dan dia membiarkan itu semua, karena baginya sudah tidak penting lagi, Leon Grup sudah hancur.
"Apa lagi yang tidak kamu ketahui?" Erza berpikir sejenak, "Apa kamu penasaran mengapa Marvin memiliki dendam yang begitu besar? Aku mengutus ayah tirimu untuk membunuh Marvin dan ibunya, tapi sayangnya ayah tirimu sangat kurang ajar, hanya membunuh anak kecil saja tidak becus, malah memanipulasi kematiannya." Erza mengatakannya dengan nada kesal. Merasa tertipu oleh Markus.
"Jadi kebakaran itu disengaja? Biadab kalian!" Nadine tidak mengerti mengapa ada manusia kejam seperti Erza dkk.
Nadine membayangkan bagaimana menderitanya Marvin waktu itu, membuat hatinya sakit.
Erza malah tertawa kecil, karena memang begitulah dirinya.
Kemudian dia berdiri, mencondongkan badannya ke bawah, ingin melihat wajah Nadine dengan lebih dekat. "Kamu cantik sekali, sangat sayang jika aku harus membunuhmu begitu saja. Mungkin aku bisa mempertimbangkannya, asalkan aku harus tau bagaimana ganasnya dirimu diatas ranjang."
Nadine menyemburkan ludah ke wajah Erza. "Cuihhh..."
Erza menegakkan badannya, dia mengusap wajahnya yang basah, wanita ini telah membuatnya kesal.
Plakk...
Erza menampar wajah Nadine dengan keras.
"Shhh... arrrggghhh!" Nadine meringis.
"Jangan membuat aku kesal. Aku baru saja membunuh ibu angkatmu itu, jangan membuat aku membunuh dua orang di hari yang sama."
Nadine ketakutan mendengarnya.
"Kau harus patuh jika ingin hidup lebih lama disini!"
Erza membuka kancing baju Nadine, dia tidak peduli dengan kondisi wanita itu, yang penting rasa penasarannya terpenuhi.
"Tu-tunggu dulu!" Nadine mengepalkan tangannya.
"Kenapa?" Erza menghentikan aksinya.
__ADS_1
"Tolong biarkan aku hidup, aku tidak ingin mati. Karena itu aku akan melakukan apa yang kamu inginkan."
Erza terkekeh, dia mengusap rambut Nadine. "Good girl, itulah yang harus kamu pilih. Aku bisa bersikap lembut kepada wanita, asalkan wanita itu bisa membuat aku puas."
Nadine menarik nafas dalam-dalam, dia melirik sebentar botol di atas meja, kemudian dia pura-pura tersenyum, "Bagaimana aku bisa memuaskan kamu, jika tanganku diikat seperti ini?"
Erza menatap Nadine dengan penuh curiga, namun dia sering melakukan penawaran seperti itu kepada banyak wanita yang menjadi korbannya, dan si korban lebih memilih memuaskannya dari pada harus mati dibunuh olehnya, walaupun akhirnya Erza tetap akan membunuh mereka.
Erza mengambil gunting di atas meja, "Baiklah, aku ingin tau seganas apa dirimu, Nadine Leonardo."
Erza menggunting tali yang mengikat kedua tangan Nadine. "Sekarang aku sudah melepaskan kamu, jadi..."
Prang...
Erza tak meneruskan perkataannya, begitu merasakan ada sebuah botol yang menghantam kepalanya dengan keras.
"Arrrggghhh!" Erza mengerang kesakitan, dia memegang kepalanya yang berdarah, membuatnya terasa pening.
Nadine segera turun dari brankar, dia harus melarikan diri, namun sayangnya dia tidak bisa berlari, dia hanya bisa berjalan dengan tertatih-tatih.
"Kemana kau wanita sialan, akan ku bunuh kau!" teriak Erza, dia membersihkan darah yang bercucuran mengenai matanya , dengan tisu.
Nadine tercengang, dia baru menyadari ternyata dia berada di sebuah bangunan yang sangat besar, bangunan itu memiliki tiga lantai, dan dia berada di lantai ke dua.
Nadine melihat ke lantai bawah, ada banyak orang yang sedang berlalu lalang dengan kesibukannya masing-masing.
Nadine sadar betul, dia tidak bisa keluar dari sini.
"Nadine!"
"Akan ku bunuh kamu."
Nadine sangat ketakutan mendengar suara Erza, dia harus segera bersembunyi, Nadine masuk ke sebuah ruangan, dia hampir mau muntah melihat ada beberapa tengkorak manusia disana.
Nadine melihat ada sebuah lemari disana, dia segera berjalan ke arah lemari dan bersembunyi didalam lemari itu.
Nadine menutup mulutnya rapat-rapat dengan tangan, dia sela-sela lubang kecil dia melihat Erza yang sedang mencari keberadaannya. Pria itu terlihat sangat mengerikan.
Erza tertawa kecil, "Hahaha... kamu tidak akan bisa melarikan diri dari sini, aku tau kamu pasti bersembunyi di sekitar sini, Nadine Leonardo."
...****************...
...Kalau tegang seperti ini baru harus siapkan es batu yang banyak 🧊...
__ADS_1
Btw, kebetulan kemarin ada salah satu reader yang ulang tahun, selamat ulang tahun, semoga panjang umur, diberikan kemudahan dalam segala hal, dan apapun yang kamu inginkan semoga tercapai. (Halimatus Sa'diyah) 🙏🙏