
Marvin mencoba meredakan emosinya, dia harus bisa bersikap tenang, jangan bertindak gegabah. Beberapa kali dia terus mencoba untuk mengatur nafasnya.
Kemudian dia duduk di kursi kebesarannya, dia melihat ponselnya, ada beberapa pesan dari Sonya yang belum dia balas.
[Adam, kira-kira kapan kamu akan mengajak aku makan malam?]
[Hai Adam, bagaimana kabarmu?]
Marvin sangat muak sekali membacanya, namun dia terpaksa harus membalas pesan dari Sonya.
[Kabarku baik, saya usahakan secepatnya. Saya juga ingin bertemu denganmu.]
Tentu saja pesan dari Marvin membuat hati Sonya berbunga-bunga, dia semakin yakin pria itu menyukainya juga. Tidak heran jika ada pria yang menyukainya walaupun usianya sudah berkepala empat, karena menurutnya dia masih terlihat cantik dan memiliki body yang seksi. Bahkan dia sangat kuat dalam urusan ranjang, hampir setiap bertemu dengan Erza pasti membuat ranjang bergoyang.
"Oh Astaga, ternyata Adam juga ingin sekali bertemu denganku." seru Sonya, dia menjadi tidak sabar menunggu dimana hari dia bertemu dengan pria tampan itu.
Kemudian Marvin membuka laptopnya, dia ingin melihat Nadine sedang apa sekarang.
Marvin tertegun saat melihat Nadine yang sedang memberikan makan pada ikan-ikan hias yang ada di akuarium, Nadine tersenyum begitu manis mengajak ikan-ikan disana berbicara, mungkin karena di mansion tidak ada orang yang mau diajak bicara olehnya.
Marvin tanpa sadar tersenyum melihatnya, kadang memang ada tingkah lucu dari wanita itu yang membuatnya tersenyum.
Marvin menggigit bibir bawahnya, seharusnya dia membenci wanita itu, ibu kandung wanita itu adalah dalang dibalik pembunuhan terhadap ibunya Marvin, namun kenapa dia tidak bisa menyiksa wanita itu, seperti apa yang dia lakukan kepada Markus?
Bahkan Om Theo menyuruhnya untuk membunuh wanita itu dan mengirimkan mayatnya ke ayah dan ibu tirinya.
"Aku memang harus membunuhnya."
Marvin menutup laptopnya kembali, dia rasa lebih baik dia tidak sering memperhatikan Nadine, walaupun niatnya hanya ingin mengawasinya.
...****************...
Marvin telah tiba di Mansion, dia ingin menghindari Nadine malam ini, jangan sampai bertemu dengannya, dia takut dia tidak bisa menahan dirinya seperti malam itu.
__ADS_1
Karena itu dia sengaja pulang tengah malam, pasti Nadine sudah tertidur.
Marvin takut jika dia sering melakukannya bersama Nadine, dia akan memiliki perasaan pada wanita itu, membuat dia tidak bisa melukainya. Pasti akan menjadi masalah besar antara dia dan Om Theo.
Namun ternyata harapannya tak terkabul, dia melihat Nadine yang sedang berdiri di depan Mansion, wanita itu tersenyum manis padanya, walaupun mungkin senyumannya palsu, Nadine hanya ingin mencoba mengambil hati Marvin.
Marvin tertegun melihatnya, sampai dia hampir tak berkedip. Namun dia harus bersikap dingin pada wanita itu, "Kenapa kamu berdiri disini?"
"Menunggu kamu pulang, aku sudah memasak yang banyak untukmu."
Marvin segera masuk ke dalam mansion, "Aku tidak lapar."
Sebenarnya dia lebih ingin memakan kembali wanita itu, ah entah mengapa setiap berada di dekat Nadine tubuhnya terasa panas.
Nadine tanpa merasa berdosa, dia mengikuti Marvin dibelakangnya.
"Jangan bohong, aku tau kamu gak suka makan di luar. Kamu lebih suka masak sendiri."
Marvin menelan saliva memandangi Nadine yang jaraknya sangat dekat sekali dengannya, kemudian dia berjalan dengan mundur dua langkah, agar jaraknya tak begitu dekat dengan wanita itu.
"Siapa yang menyuruh kamu memasak untukku?" tanyanya dengan nada dingin.
Tapi Nadine malah fokus ke wajah Marvin yang terluka, akibat pukulan dari Markus. "Wajahmu terluka, Adam."
"Tidak apa-apa, nanti juga..."
Marvin belum sampai melanjutkan perkataannya begitu melihat Nadine segera berjalan setengah berlari untuk mengambil kotak P3K.
Tak lama kemudian, Nadine datang kembali sambil membawa kotak P3K, dia menarik tangan Marvin, membiarkan dia duduk di kursi sofa.
"Biar aku sendiri." pinta Marvin.
Namun Nadine tak mendengarkannya, wanita itu mengusapkan salep ke wajah Marvin yang terluka, Marvin berusaha untuk mengarahkan pandangannya ke arah lain, dia tidak boleh menatap wanita itu.
__ADS_1
Aroma tubuh wanita itu dan hembusan nafasnya begitu tercium wangi, membuat ada sesuatu yang bergejolak di aliran darah Marvin.
Marvin terkejut saat merasakan jemari Nadine menyentuh sudut bibirnya yang terluka, Nadine mengusapkan dengan lembut salep luka pada sudut bibirnya. Sentuhan itu membuat hatinya bergetar.
Nadine menjadi gugup saat tak sengaja menatap Marvin yang sedang memandanginya. Membuat mereka saling berpandangan.
"A-aku sudah selesai mengobati kamu. Kalau begitu aku tunggu di ruang makan."
Nadine segera berdiri.
Tanpa di duga, Marvin menarik tangan Nadine, membuat wanita itu terjatuh ke pangkuannya. Sekuat hati dia tidak ingin menyentuh lagi wanita itu, karena dia tau apa yang dia lakukan itu tidak benar, mereka sedarah.
Tanpa Nadine sadari dia telah memancing gairah pria itu.
Mungkin Nadine berani mencoba menarik perhatian Marvin karena Marvin bilang tubuh dia tidak menarik dan tidak membuatnya menjadi candu, karena itu dia merasa aman-aman saja untuk mencoba meluluhkan hati Marvin
"Adam!" Nadine terkejut begitu dia terjatuh kepangkuan pria tampan itu.
Marvin memeluk Nadine, membuat wajah mereka sangat dekat sekali. "Saat ini aku tidak ingin memakan nasi, tapi aku ingin memakan kamu."
Nadine terkejut mendengarnya, dia membulatkan matanya, terdengar jantungnya berdebar-debar begitu cepat. "Bu-bukannya kamu bilang tidak akan...Mmmhhh..."
Perkataan Nadine terpotong, begitu Marvin langsung menyambar bibirnya. Dia menekan tengkuk Nadine, untuk memperdalam ciuman mereka. Nadine merasakan lidah Marvin bergumul di dalam mulutnya, pria itu menciumnya begitu naf-su.
Marvin tidak mengerti. Mengapa diantara semua wanita, harus wanita ini yang bisa membuatnya bergairah dan hatinya berdebar-debar. Padahal Marvin sadar betul dia dan Nadine sedarah, namun hasrat ini mengalahkan logikanya.
Marvin sering terluka, dia bisa tahan menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya. Namun untuk yang satu ini tidak dapat menahan diri. Dia akan menjadi gila jika hasratnya tidak dituntaskan pada wanita itu.
...****************...
...Siapkan es batu besok!...
...Biasanya saya suka susah tidur kalau sudah menulis part es batu, asli! ✌...
__ADS_1