
"Shhh..." Marvin sedikit meringis begitu Dokter Aldi mencabut peluru di punggung Marvin. Keringat dingin bercucuran di dahi pria tersebut.
Dokter Aldi sengaja mengobati Marvin di ruang pribadinya, karena dia yakin polisi akan mendatangi semua rumah sakit yang ada di kota ini.
"Apa Om Theo masih berada disini?" Marvin belum melihat Om Theo dari kemarin, dia harus memastikan kalau peristiwa penembakan malam ini ulah Om Theo atau bukan.
Dokter Aldi tak langsung menjawab, di membersihkan luka di punggung Marvin, kemudian dia melakukan anestesi lokal pada area penjahitan, Dokter Aldi mulai menjahit luka di punggung Marvin.
Marvin menggigit bibir bawahnya. Dia sudah terbiasa terluka seperti itu, baginya yang penting dia sudah menyelamatkan Nadine.
"Maafkan saya Tuan, kemarin Tuan Theo membawa pasien ke Amerika."
Marvin tercengang mendengarnya, mengapa Om Theo membawa Aline tanpa memberitahu padanya? Mungkin kah Omnya masih kecewa padanya karena dia telah melepaskan Nadine?
"Untuk apa Om membawa Miss Aline ke Amerika?"
Dokter Aldi masih sibuk menjahit luka di punggung Marvin. Saat itu Marvin dalam posisi duduk di kursi sofa. "Tuan Theo ingin memberikan perawatan yang terbaik untuk wanita itu."
Marvin mengerutkan keningnya, mengapa Om Theo sangat peduli pada Aline? Apakah mungkin dulu mereka ada hubungan khusus?
__ADS_1
Jika Om Theo berada di Amerika, lalu siapa orang yang mencoba untuk menembak Nadine?
Marvin dan Dokter Aldi mendengar suara kegaduhan di luar sana, ternyata beberapa orang perawat sedang mencoba menghalangi empat orang polisi yang memaksa ingin masuk ke ruangan Direktur rumah sakit tersebut, mereka sudah memeriksa seluruh ruangan operasi disana, tidak menemukan korban penembakan juga.
Padahal rumah sakit ini adalah rumah sakit terakhir yang mereka selidiki.
Keempat polisi itu merasa curiga karena para perawat mencoba menghalangi mereka untuk bertemu dengan Direktur di rumah sakit tersebut.
"Pak Direktur sedang sibuk sekali, Pak. Beliau tidak bisa di ganggu." kata salah satu perawat yang mencoba menghalangi jalan keempat polisi yang ada disana.
Namun keempat polisi nekad menyerobot, yang dua mencoba mengamankan, yang dua lagi masuk ke dalam ruangan Direktur, mereka membuka pintu ruangan tersebut. Mereka melihat Marvin sedang duduk bersama Dokter Aldi di kursi sofa.
"Saya senang sekali bisa bekerjasama dengan anda, saya harap keputusan saya untuk bekerja sama dengan rumah sakit ini hasilnya tidak mengecewakan." ucap Marvin. Dia sudah memakai kemeja dan jas yang telah disiapkan oleh Dokter Aldi.
Sementara pakaiannya yang terdapat banyak noda darah sudah diamankan, termasuk alat medis bekas mengobati Marvin. Hanya terlihat ada laptop dan beberapa berkas di atas meja.
Kedua polisi yang nekad masuk ke dalam, mereka merasa tidak enak hati karena sudah mengganggu meeting sang Direktur rumah sakit dengan kliennya. "Maafkan kami sudah mengganggu meeting kalian, tapi saat ini sangat urgent sekali, kami harus mencari korban penembakan di jalan Mangga Dua."
Marvin berpura-pura baik-baik saja, dia tersenyum ramah kepada para polisi tersebut, "Oh tidak apa-apa, kebetulan meeting kami sudah selesai. Kalau begitu, saya permisi dulu. Saya masih ada urusan penting." pamit Marvin.
__ADS_1
"Tunggu dulu." Salah satu polisi yang ada disaat sepertinya mengenali wajah Marvin.
"Apakah anda Adam Alvarez?"
Marvin menganggukkan kepala, "Ya saya Adam Alvarez, saya sengaja datang ke Indonesia karena ingin bekerjasama dengan beberapa perusahaan di negeri ini."
Kedua polisi itu saling menatap, kemudian mereka tersenyum. Sekarang giliran satu orang lagi yang berbicara, "Saya sangat mengidolakan anda. Anda adalah seorang pengusaha muda yang sangat sukses, pasti banyak sekali penggemarnya. Boleh saya berfoto dengan anda?"
Marvin padahal masih merasakan sakit dibagian punggungnya, namun dia harus berpura-pura baik-baik saja.
"Boleh." Marvin terpaksa mengizinkan polisi tersebut berfoto bersamanya.
Polisi itu sangat senang sekali, mumpung Adam Alvarez berada di Indonesia, kapan lagi bisa berfoto dengannya. Dia pun berdiri di samping Marvin, lalu temannya yang satu lagi segera memotret mereka dengan kamera yang di handphone.
"Terimakasih sudah mengizinkan saya berfoto dengan anda." Polisi tersebut saking senangnya menepuk-nepuk punggung Marvin. Tepat mengenai luka yang baru saja dijahit.
Sepertinya polisi itu bukan hanya ingin berfoto dengannya, tapi untuk memastikan apakah korban penembakan itu Adam Alvarez atau bukan.
Marvin menggigit bibir bawahnya, dia berpura-pura tersenyum. "Oh iya sama-sama. Kalau begitu saya permisi dulu."
__ADS_1
Setelah Marvin pergi, mereka berdua saling memberikan kode dengan gelengan kepala, sebuah pertanda kalau Adam Alvarez bukan korban penembakan malam ini. Lagian rasanya tidak masuk akal untuk apa seorang Adam Alvarez mengorbankan dirinya untuk melindungi wanita yang sama sekali tidak dia kenali.