
Nadine saat ini sedang terbaring diatas brankar, kedua tangan telah diikat, sementara kakinya mengalami luka yang cukup serius, karena itu dia mengalami kesusahan untuk menggerakkan kakinya yang sudah diperban itu, bukan hanya kaki, kepalanya Nadine bagian atas juga telah ditutupi perban.
"Shhh..." Nadine sedikit meringis merasakan sakit di sekujur tubuhnya.
Nadine membuka matanya lebar-lebar, dia terbelalak saat melihat siapa yang sedang berdiri disampingnya.
Ternyata Damar, Damar memang mengetahui bisnis haram ayahnya. Dan mengetahui rencana ayahnya yang akan membunuh Nadine, namun dia meminta kepada Darko untuk tidak membunuh Nadine, bagaimana pun juga pria itu memiliki perasaan pada Nadine, walaupun dulu pernah menyelingkuhinya beberapa kali karena Nadine selalu menolak jika dia mengajaknya berhubungan badan.
"Da-Damar?" Nadine mengerutkan keningnya, menatap Damar.
"Sttt..." Damar menempelkan jari telunjuknya di bibir Nadine. "Jangan banyak bicara dan jangan banyak bergerak, agar kamu cepat sembuh, jadi kamu bisa memuaskan aku nanti."
Damar mencondongkan wajahnya untuk mencium bibir Nadine, namun Nadine memalingkan wajahnya ke kiri, sehingga bibir Damar hanya menyentuh pipi Nadine.
Damar terkekeh, dia menegakkan badannya kembali. Seandainya saja Nadine tidak terluka, mungkin dia sudah memaksanya untuk melayaninya, sudah lama sekali dia ingin merasakan tubuh mantan tunangannya itu.
"Andai saja kamu tidak menolak untuk menikah denganku, mungkin kamu tidak akan terluka seperti ini. Seharusnya kamu berterimakasih kepadaku, karena aku, kamu tidak jadi dibunuh."
Damar membelai rambut Nadine, "Karena itu kamu harus selalu bersikap manis setiap kali aku menemuimu, untuk sementara kamu tinggal disini dulu, setelah situasi aman, baru aku akan membawamu pergi."
Tangan Damar pindah ke leher Nadine, lalu ke dada, Nadine ingin berontak, tapi kedua tangannya telah diikat.
"Lepaskan tanganmu, brengsek!" Nadine mengumpat.
Ceklek!
Damar mendengus kesal saat mendengar suara seseorang membuka pintu, ternyata Erza.
"Tuan Dafa menunggumu di luar."
__ADS_1
Damar menghela nafas, dia terpaksa keluar dari ruangan itu.
Nadine merasa tidak enak hati melihat bagaimana Erza menatap padanya, kemudian Erza segera pergi dari sana.
Nadine ingin mencoba melepaskan dirinya, namun karena kondisinya masih lemah, dia tidak memiliki kekuatan untuk melakukannya. Dia hanya bisa meringis menahan rasa sakit yang dia rasakan di seluruh tubuhnya.
...****************...
Plakk...
Tuan Dafa menampar Damar.
"Jadi kamu yang menyuruh Darko untuk tidak membunuh Nadine, bahkan kamu mengirim tim medis kesini untuk merawat Nadine. Berani sekali kamu bertindak tanpa sepengetahuan ayah!" Tuan Dafa sangat marah sekali pada putra tunggalnya itu.
"Biarkan Nadine tetap hidup, Pa. Aku janji tidak akan membiarkan dia pergi dari sini."
"Bagaimana kalau sampai ketahuan polisi? Bisa hancur reputasi papa!"
Tuan Dafa menghela nafas, dia begitu sayang pada Damar, membuat dia tidak merasa bersalah karena sudah menamparnya.
Bukan hanya Damar yang ditampar, Darko juga sama, sebelum Damar tiba disana.
Erza hanya menghela nafas melihatnya, rupanya dia telah bekerjasama dengan orang yang salah, Tuan Dafa begitu lemah terhadap anaknya.
Drrrtt... Drrrtt...
Erza mendapatkan pesan dari Sonya.
[Sayang, gawat! Rahasia kita sebentar lagi akan ketahuan. Si tua bangka mulai curiga kalau Nadine bukan anaknya, sebentar dia lagi akan melakukan tes DNA, bisakah kamu membantuku untuk memanipulasinya?]
__ADS_1
Erza sangat kesal, akhirnya dia mengajak Sonya ketemuan.
Sonya dah Erza bertemu di sebuah rooftop gedung tua, begitu mereka bertemu Sonya langsung memeluk Erza, kemudian dia memperlihatkan pipinya yang merah, bekas tamparan dari Tuan Rama.
"Lihatlah si tua bangka itu berani sekali menamparku."
Erza melepaskan pelukan Sonya, dia terlihat dingin sekali pada kekasihnya itu.
"Kita harus memanipulasi tes DNA itu, bagaimanapun juga si tua bangka itu memiliki sisa kekayaan yang masih besar, salah satunya Mansionnya. Aku gak mau apa yang aku lakukan selama ini sia-sia."
"Sayangnya aku tidak membutuhkannya lagi."
Sonya mengerutkan keningnya, "Maksudmu apa?"
Erza tiba-tiba mencekik leher Sonya, "Aku tidak membutuhkanmu lagi, j@l@ng sialan."
"Kkkk...kkkk..." Sonya berusaha untuk berontak, namun Erza semakin kuat mencekik lehernya.
Erza menyeret tubuh Sonya ke tepi rooftop, "Karena kamu tau banyak tentang The Bloods, maka kamu harus siap menanggung resikonya."
Sonya masih berusaha untuk melawan, kakinya terus meronta-ronta. Dia mengalami kesulitan untuk bernafas.
Erza tersenyum manis, dia mengangkat tubuh Sonya, "Selamat jalan ke neraka, sayang."
Erza melemparkan tubuh Sonya ke bawah, gedung tua itu memiliki ketinggian 16 lantai, sehingga mustahil jika Sonya tidak mati.
"Aaaa!"
Orang-orang yang ada di sekitar gedung itu refleks menjerit, melihat tubuh Sonya yang jatuh dari rooftop, tubuh wanita itu sudah tak berdaya di jalanan aspal.
__ADS_1
Tubuh Sonya bergetar, dia sudah tak berdaya, badannya terasa remuk, darah mengalir bercucuran di kepalanya yang yang telah retak, dan dia mengalami patah tulang di bagian kaki, tangan, dan punggungnya.
Sonya meninggal seketika dengan cara yang mengenaskan, dia menghembuskan nafas terakhirnya.