
Om Theo telah tiba di lantai atas, dia terperangah saat melihat banyak sekali anggota The Bloods disana.
Om Theo membidikan senapan, menembak mereka satu persatu, sambil mencari tempat persembunyian untuk menghindari serangan tembakan dari mereka.
Zdoor...
Sebuah peluru melesat berhasil melukai lengan Om Theo, "Arrrggghhh..." Om Theo menyandarkan dirinya di sebuah dinding yang ada di ruangan kosong.
Om Theo melepaskan dasi yang dia pakai, kemudian dia mengikat lengannya dengan dasi tersebut, agar tidak banyak mengeluarkan darah.
Kemudian Marvin telah tiba disana, sehingga terjadi saling tembak menembak diantara mereka, sampai mereka kehabisan amunisi.
Sehingga kini mereka bertempur dengan menggunakan tangan kosong, 2 lawan 25 orang.
Om Theo dan Marvin saling menganggukkan kepala, mereka menjadi mengingat masa-masa dulu saat mereka pernah bertarung melawan banyak musuh.
Kedua pria itu begitu keren melawan mereka semua. Walaupun mereka nampak kewalahan.
"Kenapa kamu ada disini? Siapa yang memimpin di lantai bawah?" tanya Om Theo kepada Marvin, mereka berbicara sambil berkelahi dengan musuh.
"Ada Dewangga yang memimpin. Biar aku yang lawan mereka, Om harus menyelamatkan Nadine."
Om Theo menganggukkan kepala, dia segera mencari Nadine ke lantai tiga, mungkin saja Nadine berada disana.
Marvin menekan sesuatu di dalam rompi yang dia pakai, lalu dia mengambil sebuah APAR yang berada di dinding, lalu menyemprotkannya kepada musuh, sehingga musuh merasakan penglihatan mereka rabun.
Dengan cepat Marvin menghajar mereka satu persatu, dia memberikan pukulan yang mematikan dengan memberikan pukulan keras tepat ke dada ataupun leher mereka.
Ternyata benar, Nadine berada di lantai atas, Om Theo melihat Nadine dalam dalam posisi terduduk di kursi dengan keadaan badannya dililit oleh rantai.
Terlihat Nadine sedang meronta-ronta agar bisa melepaskan diri, namun dia mengerutkan keningnya saat melihat Om Theo yang sedang menatapnya dalam tatapan sendu.
Om Theo langsung memeluk Nadine, membuat Nadine terkejut. "Nadine, putriku. Ini papa, nak."
__ADS_1
Nadine mematung, apakah benar pria yang sedang memeluknya adalah papanya, tapi sepertinya dia pernah melihat wajah Om Theo, tapi dimana?
Nadine baru ingat dia pernah melihat foto Om Theo di mansionnya Marvin, namun dia belum bisa berkata apa-apa sekarang ini, dia masih shock dan juga badannya terasa kesakitan.
Om Theo harus segera melepaskan rantai yang melilit tubuh Nadine, namun Om Theo terkejut begitu melihat rantai tersebut telah di gembok. Om Theo nampak kesulitan untuk membuka gembok itu.
Dia mencoba mencari sesuatu, akhirnya dia melihat ada sebuah palu disana, segera menghantamkan palu tersebut ke gembok yang besar itu.
Buukk..
Buukk..
Om Theo berhasil membuat gemboknya rusak, dia segera membuka rantai yang melilit badan Nadine.
Nadine merasakan kepalanya pusing karena memang kondisinya belum stabil, seharusnya dalam kondisi seperti itu Nadine harus mendapatkan perawatan khusus di rumah sakit, karena itu wajahnya tampak pucat.
"Nadine, bertahanlah, papa akan membawa kamu pergi dari sini." Om Theo sangat mengkhawatirkan kondisi Nadine sekarang.
"Tapi..." Nadine masih merasa canggung kepada Om Theo. Apalagi dia melihat lengan Om Theo terluka.
Prok...
Prok...
"Hahaha pertunjukan yang menarik." Erza muncul bersama Darko, Erza menepukan tangannya.
"Ternyata Tuan Theo yang terhormat adalah ayah kandungnya Nadine Leonardo, wah sebuah kejutan yang luar biasa. Tapi sayangnya aku tidak akan membiarkan kalian keluar dari sini."
Om Theo menatap dengan pandangan geram kepada Erza, dia mengepalkan tangannya, lalu segera menyerang Erza, mereka berkelahi dengan begitu sengit.
Darko membawa pisau, dia berjalan dengan begitu cepat untuk menusuk punggung Om Theo.
Nadine terkejut melihatnya, "Papa awas!" Nadine reflek memanggil Om Theo dengan panggilan papa.
__ADS_1
Namun ternyata ada seseorang yang menendang tangan Darko, sehingga pisau itu terjatuh, ternyata dia adalah Marvin.
"Marvin!" lirih Nadine.
Marvin hanya bisa tersenyum menatap Nadine yang jaraknya lumayan jauh darinya.
Marvin memberikan kode kepada Om Theo dengan kerlingan mata, sebagai pertanda bahwa Om Theo harus segera membawa Nadine pergi, kondisi Nadine sedang tidak baik-baik saja, dia harus segera mendapatkan perawatan.
Om Theo segera membawa Nadine pergi.
Erza mencoba untuk mengejar Om Theo dan Nadine, namun mereka terkejut saat melihat sebuah bom yang Marvin pertunjukan di dalam rompinya.
"Dalam 10 menit Markas ini akan segera hancur, apapun yang kalian miliki dan bisnis kalian akan ikut hancur." Marvin tertawa kecil.
Markas The Bloods harus dihancurkan beserta antek-anteknya, agar tidak ada yang beroperasi lagi.
"Brengsek!" Erza mengumpat, jika mereka ingin menjinakkan bom, itu artinya mereka harus bisa membunuh Marvin dulu dalam waktu kurang dari 10 menit.
Jika tidak, semua yang dimiliki oleh The Bloods akan hancur bersama Markas mereka.
Marvin menekan earpiece ditelinganya, dia menghubungi Dewangga yang masih bertarung dengan musuh di lantai bawah. "Perintahkan kepada semua anggota Athena untuk segera meninggalkan Markas ini, ini adalah sebuah perintah!"
Marvin memerintahkan semua anggota Athena yang masih selamat untuk segera keluar dari Markas. Marvin tidak ingin ada banyak anggota Athena yang meninggal.
Dan perintah dari ketua mafia tidak boleh dibantah.
tittt... titt... titt...
Waktu tersisa 9 menit lagi.
Darko dan Erza segera menyerang Marvin, mereka harus membunuhnya dalam waktu yang cepat, mereka tidak ingin Markas mereka hancur karena terdapat aset-aset yang berharga termasuk uang. Kebanyakan dalam bisnis gelap memang menyimpan uang di tempatnya sendiri, dan melakukan transanki dengan uang tunai agar tidak terlacak oleh polisi.
Kalau tidak bisa membunuh Marvin, mereka akan mati bersama dan Markas merekapun akan ikut hancur lebur.
__ADS_1