A Dangerous Man ( Balas Dendam Sang Mafia )

A Dangerous Man ( Balas Dendam Sang Mafia )
Pergi


__ADS_3

Sore ini Nadine dan Marvin begitu menikmati makan sore mereka, beberapa kali Nadine memuji masakan pria itu.


"Masakan kamu sangat enak, lain kali masak lagi ya untukku."


Marvin terdiam sebentar, Nadine tidak tau kalau hari ini adalah hari terakhir dia bersama Nadine. Mungkin saja mereka akan bertemu kembali saat dia berurusan dengan Leon Grup, karena Marvin akan segera menghancurkan perusahaan itu. Dan Marvin mungkin akan bersikap seperti orang asing padanya.


Nadine tersenyum sendiri, dia mengira dirinya gila, bagaimana bisa dia begitu menikmati kebersamaannya bersama orang yang sudah menculiknya tanpa sebab.


"Setelah makan bersama, apalagi yang dilakukan oleh pasangan yang sedang berkencan?" tanya Marvin kepada Nadine, pria itu nampak lugu saat bertanya seperti itu.


Nadine berpikir sejenak, "Emm... bagaimana kalau kita nonton film?"


"Kamu suka film tentang apa?"


Nadine tersenyum, saat dia menonton film bersama Damar, dia hanya bisa mengikuti keinginan Damar, karena pria itu tidak bertanya film apa yang dia suka, atau apapun yang dia suka, Damar lebih mementingkan dirinya sendiri.


"Aku suka film romantis. Tapi aku rasa orang seperti kamu tidak akan..."


Marvin memotong perkataan Nadine. "Setelah ini, mari kita nonton film romantis."


Nadine terperangah, apa hari ini Marvin salah minum obat, sikap pria itu benar-benar berbeda, biasanya ucapan dan sikapnya selalu kasar, tapi sekarang terlihat begitu manis. Bagaimana hatinya tidak tersentuh oleh pria itu.


Malam harinya pun mereka menonton film romantis, menonton film apa yang disukai oleh Nadine. Kebetulan film yang mereka tonton adalah film bergenre romantis komedi, karena itu Nadine dibuat beberapa kali tertawa, sangat menikmati film yang dia tonton.


Sementara Marvin, dia lebih fokus memperhatikan Nadine, dia ikut tertawa begitu melihat Nadine tertawa, bagi dia Nadine lebih menarik dibandingkan dengan film yang sedang mereka tonton.


Sampai akhirnya film yang mereka tonton telah selesai, Marvin mematikan televisi yang besar itu.


"Bagaimana filmnya menurut kamu?" Tiba-tiba Nadine bertanya seperti itu.


Marvin menjadi gelagapan ditanya seperti itu, karena dia lebih fokus memandangi Nadine dari tadi. "Emm....sangat bagus."


"Bagaimana endingnya?"


Marvin tidak tau bagaimana ending dari film itu, karena film itu menceritakan tentang cinta segitiga. Dia tidak bisa menjawab.


Nadine tersenyum geli, dia ternyata tau kalau Marvin memperhatikan dirinya selama dia menonton film. "Mengapa kamu terus memperhatikan aku? Apa kamu jatuh cinta kepadaku, Adam Alvarez?"


Nadine memandangi kedua bola mata Marvin, pria pun itu sama, seakan pandangan mereka terkunci sangat rapat.


"Aku tidak tau, tapi yang pasti malam ini aku menginginkan kamu, Nadine Leonardo."


Setelah berkata begitu, Marvin mencium bibir Nadine, tidak memberikan kesempatan kepada Nadine untuk menjawab pertanyaannya.


Marvin menekan tengkuk Nadine, membuat ciumannya terasa semakin dalam, Nadine memejamkan matanya, merasakan manisnya bibir Marvin mengecap bibirnya. Perlahan dia membalas ciuman Marvin. Dia tidak bisa menolak dari pesona pria itu. Lagi dan lagi dia kalah, pria itu berhasil membuatnya ikut terhanyut kedalam permainannya.


Mereka saling bertukar saliva, saling menyahut dengan gerakan bibir masing-masing. Deru nafas kedua insan semakin bergelora, luma-tan demi luma-tan seolah menambah gairah. Lidah saling membelit seolah-olah tak mau lepas.

__ADS_1


Pagutan tak mau berhenti, saling mengabsen disetiap rongga mulut mereka. Keduanya telah di kuasai oleh naf-su yang begitu menggebu, Marvin membuka pakaian Nadine, begitu juga Nadine, dia membantu Marvin membuka pakaiannya, tanpa melepaskan ciuman mereka.


Hingga kini mereka berdua benar-benar telan-jang. Marvin menggendong tubuh Nadine membawanya ke dalam kamar, dia membaringkan tubuh wanita itu ke atas kasur.


Marvin memberikan banyak kecupan pada tubuh indah itu, dari ujung kaki ke ujung kepala, membuat Nadine meremang. Nadine seakan terombang-ambing seperti ombak di lautan, pria itu sukses membuatnya menggila di dalam setiap sentuhan yang Marvin berikan pada tubuhnya.


Dan kini Nadine merasakan ada sesuatu yang menyeruak masuk ke dalam miliknya, Marvin telah melakukan penyatuan.


"Ahhh..." Keduanya mengerang penuh nikmat saat merasakan tubuh mereka benar-benar menyatu, lalu saling bercumbu kembali.


Malam ini mereka melakukannya dengan sepenuh hati, dengan penuh cinta, walaupun tidak ada kata cinta yang mereka ucapkan dari bibir mereka. Mereka hanya bisa mengungkapkanya dalam bahasa tubuh mereka.


Nadine memandangi pria tampan yang sedang memompa tubuhnya, dia begitu gagah dan selalu terlihat mempesona. Hatinya tak bisa berbohong, dia memang telah jatuh cinta kepada pria itu, walaupun dia tidak tau bagaimana perasaan Marvin kepadanya.


Malam ini Marvin hanya melakukannya satu kali, dia hanya ingin memiliki kenangan indah bersama wanita itu. Sebelum melupakan semuanya.


Marvin mendekap tubuh Nadine, wanita itu telah tidur terlelap, sementara dirinya tidak bisa tidur sama sekali. Dia yakin tidak akan menyesali keputusannya, dia memang harus melepaskan Nadine. Untuk kebaikan Nadine. Dan dia memang tidak ingin jatuh hati kepada wanita itu.


...****************...


Pagi ini, kapal pesiar berhenti di sebuah pelabuhan di kota T, Marvin mengajak Nadine turun dari kapal pesiar itu.


Disana ada sebuah pusat perbelanjaan yang begitu ramai. Karena itu banyak sekali orang-orang yang berlalu lalang disana, meramaikan pusat perbelanjaan tersebut.


Nadine memperhatikan suasana yang sangat ramai itu dengan begitu takjub. Untuk pertama kalinya dia menginjakkan kaki ke kota T, karena itu kota ini nampak asing buat Nadine.


"Kota ini sangat indah." Nadine sangat menyukai suasana di kota ini.


"Apa kamu mau belanja? Belanjalah sepuasnya, aku akan membelikan apapun yang kamu mau."


Nadine menggelengkan kepala, "Nggak, aku hanya ingin menikmati keindahan di kota ini bersama kamu."


Marvin menghirup nafas dalam-dalam, lalu menghembuskannya dengan pelan, matanya berkaca-kaca mendengarnya. Kemudian dia segera beranjak dari duduknya, "Kamu tunggu disini, aku ingin beli sesuatu."


"Oh ya udah, aku akan menunggu kamu disini."


Tiba-tiba Marvin mengembalikan ponselnya Nadine kapadanya. "Ini ponselmu, kau boleh pakai ponselmu itu."


Nadine tidak mengerti mengapa Marvin tiba-tiba memperbolehkan dia memakai ponselnya, apa Marvin tidak takut kalau Nadine akan menghubungi polisi? Atau jangan-jangan pria itu sudah membaca hatinya, Marvin tau kalau Nadine sudah mulai nyaman tinggal bersamanya, karena itu Marvin tidak takut kalau Nadine akan melarikan diri.


"Kenapa kamu mengembalikan ponsel aku?"


Marvin tak langsung menjawab, dia ingin bisa lebih lama lagi memandangi wajah cantik Nadine. Setelah lama memandangi wajah cantik wanita itu, dia pun menjawab. "Karena memang itu milikmu."


"Aku pergi dulu." pamit Marvin.


Nadine membiarkan Marvin pergi, dia mengaktifkan ponselnya, dia sibuk membaca beberapa pesan masuk selama dia menjadi seorang tawanan Marvin. Ternyata pesan itu dari Tuan Rama, Damar, dan juga Miss A.

__ADS_1


Papa


[Nadine, kenapa kamu belum pulang juga]


[Kamu berada dimana sekarang?]


[Papa sangat mengkhawatirkanmu.]


Damar


[Sayang, dimana kamu sekarang? Mengapa kamu belum pulang ke rumah?]


[Aku merindukanmu. Aku hanya ingin menikah dengan kamu.]


Miss A


[Nadine, aku ingin bertemu denganmu, ada hal penting yang ingin aku bicarakan padamu. Kapan kamu ada waktu?]


Nadine mengerutakan keningnya membaca pesan dari Aline, Aline mengirim pesan itu sebelum dia pingsan setelah disiksa oleh Markus. Mengapa Aline ingin sekali bertemu dengannya? Ada hal penting apa yang ingin Aline bicarakan padanya? Membuatnya penasaran, dia harus bertemu kembali dengan Aline setelah Aline siuman.


Sudah satu jam Nadine menunggu Marvin, namun pria itu belum kembali juga. Nadine merasa dirinya bodoh, seharusnya dia menggunakan kesempatan ini untuk melarikan diri, namun ternyata hatinya tidak bisa, dia lebih nyaman tinggal bersama Marvin dibanding dengan keluarganya.


"Nona Nadine."


Nadine mendengar suara seseorang memanggil namanya. Dia segera berdiri dan membalikkan badan, dia melihat ada Asisten Dareen bersama tiga orang bodyguard.


Nadine mengkerutkan keningnya, dia tidak mengerti mengapa Asisten Dareen bisa tau dirinya ada disini. "Mengapa kamu bisa tau aku ada disini?"


"Ada seseorang yang menghubungi saya, katanya dia melihat anda ada di kota ini."


Nadine terperangah, apa mungkin Marvin yang menghubungi Asisten Dareen. "Siapa yang menghubungimu?"


"Saya tidak tau."


Marvin menyuruh Dewangga untuk mencari nomor Asisten Dareen dan memberitahunya kalau Nadine berada di kota T. Karena Dewangga seorang hacker, baginya mudah sekali mendapatkan nomor ponsel sang Asisten yang selalu setia kepada Tuan Rama.


Nadine menggelengkan kepala, dia tidak ingin pulang. Dia benar-benar merasa sudah gila, dia memilih ingin tinggal bersama dengan pria yang sudah menculiknya. "Maafkan aku, aku gak bisa pulang."


"Tapi Nona..."


Nadine segera berlari, dia harus segera kembali ke kapal pesiar, karena jarak disana ke pelabuhan sangat dekat.


"Nona Nadine, tunggu!"


Asisten Dareen dan tiga orang bodyguardnya segera mengejar Nadine.


Nadine berlari secepat mungkin, dia tidak boleh tertangkap oleh mereka. Dia tidak ingin pulang. Katakanlah dia sudah gila karena memilih untuk tetap tinggal dengan pria jahat dan kejam seperti Marvin.

__ADS_1


Namun, Nadine terkejut begitu tiba di pelabuhan, kapal pesiar milik Marvin sudah tidak ada disana. Marvin telah pergi meninggalkannya.


__ADS_2