A Dangerous Man ( Balas Dendam Sang Mafia )

A Dangerous Man ( Balas Dendam Sang Mafia )
Target Utama


__ADS_3

"Tembak dia. Aku hanya ingin memastikan sesuatu!" titah seseorang lewat panggilan telepon.


"Baik, Tuan." Sang sniper begitu patuh, dia menekan pelatuk, sehingga peluru melesat dengan begitu cepat ke arah Nadine.


Zdoor...


Terdengar suara tembakan begitu keras.


Nadine terkejut saat tiba-tiba merasakan ada seseorang memeluknya, membuat punggung pria itu terluka.


Bahkan mereka yang ada di sekitar jalan raya itu begitu histeris melihat pria yang memeluk Nadine, punggungnya tertembak.


"Shhh..." Pria itu mendesis, merasakan kesakitan di bagian punggung sebelah kirinya, apalagi darah bercucuran jatuh ke trotoar disana.


Mata Nadine membelalak, apakah ada seseorang yang berniat menembaknya? Lalu siapa pria yang sedang memeluknya? Pria itu sepertinya sengaja mengorbankan dirinya untuk menolongnya.


Sang sniper tersenyum kecut, dia memperhatikan mereka dari kejauhan. Dia memang tidak berniat untuk membunuh Nadine, hanya menjadikan Nadine sebagai umpan.


"Punggung kamu terluka!" Nadine sangat panik saat melihat punggung pria itu terluka.


Pria itu adalah Marvin. Marvin memang sengaja memakai topi hitam dan masker agar wajahnya tak dikenali, dia segera melepaskan pelukan, dan membalikkan badan agar Nadine tak memiliki kesempatan untuk memperhatikan wajahnya.

__ADS_1


"Kamu siapa? Kenapa kamu menolongku?" Nadine memperhatikan punggung pria tersebut, dia belum sempat melihat wajahnya, apalagi wajahnya ditutup oleh masker dan dia memakai topi, membuatnya sulit untuk mengenali pria yang sudah menolongnya itu.


Marvin tak menjawab pertanyaan dari Nadine, dia menengadah menatap rooftop gedung tempat sniper itu menembak.


Siapa dia? Apakah mungkin dia suruhan Om Theo?_ hati Marvin bertanya-tanya.


Karena menurut dia hanya Om Theo yang ingin mencoba untuk membunuh Nadine.


Marvin segera berlari, menyebrangi jalan raya yang begitu ramai. Jika Marvin tidak cekatan, bisa saja dia tertabrak oleh kendaraan di jalan raya sana.


Nadine tidak mengerti mengapa tiba-tiba pria itu pergi begitu saja, dia ingin mengejarnya, dia sangat penasaran siapa orang yang sudah menolongnya itu.


"Aku gak apa-apa, tapi pria yang menolongku punggungnya terluka parah." Nadine ingin menujuk pria yang sudah menolongnya. Sayangnya pria tersebut sudah tidak nampak di sekitar jalan raya sana.


Mata Nadine beredar mencari pria tersebut, sayangnya pria itu menghilang tanpa jejak. "Sebenarnya siapa yang ingin mencoba menembakku? Dan siapa pria yang sudah menolongku?"


"Apa mungkin orang yang ingin menembak nona adalah orang yang sudah menculik nona? Saya yakin dialah orang yang sudah menyerang perusahaan Leon Grup."


Mata Nadine berkaca-kaca mendengarnya, hatinya sangat sakit jika benar ternyata Adam Alvarez orang yang ingin mencoba membunuhnya. Tapi rasanya tidak mungkin, jika Adam ingin membunuhnya, sudah dia lakukan dari dulu saat dia berada di dalam Mansion pria itu.


Lalu siapakah pria yang menolongnya? Apakah dia Adam Alvarez? Nadine mentertawakan dirinya sendiri, sepertinya dia tidak waras, berharap pria kejam itu pahlawan untuknya.

__ADS_1


Pria yang sangat kejam sudah menculiknya dan mencuri hatinya, bahkan mengambil hal yang paling berharga untuknya. Lalu setelah dia merasa puas, membuang dirinya begitu saja.


Sangat mustahil pria kejam itu adalah orang yang menolongnya. Lebih masuk akal jika dia lah yang mencoba menembaknya.


Asisten Dareen segera melaporkan kasus penembakan tersebut ke kantor polisi, "Hallo, saya ingin melaporkan ada kasus penembakan di jalan Mangga Dua, depan rumah sakit Tirtayasa."


...****************...


Ternyata Marvin berlari ke sebuah gedung kosong, untuk nangkap orang yang sudah mencoba membunuh Nadine.


Marvin tak menghiraukan rasa sakit di punggungnya, dia harus menangkap dan membunuh orang itu. Jika seandainya dia tidak mengikuti Nadine malam ini, mungkin saja Nadine sudah mati tertembak.


Marvin telah tiba di rooftop, nafasnya tersengal-sengal menahan rasa sakit dipunggungnya, matanya beredar mencari sang sniper, "Kamu siapa? Ayo tunjukan dirimu!" Marvin mengatakannya dengan nada tinggi.


Namun tak ada yang menyahut perkataannya.


Marvin berjalan ke tengah rooftop, matanya beredar mencari sang sniper. Matanya membulat saat melihat ada sebuah tulisan di dinding rooftop sana.


Welcome Marvin!


Marvin mengepalkan tangannya, ternyata bukan Nadine target mereka, tapi dirinyalah yang dijadikan target utama malam ini.

__ADS_1


__ADS_2