A Dangerous Man ( Balas Dendam Sang Mafia )

A Dangerous Man ( Balas Dendam Sang Mafia )
Pertarungan Menyelamatkan Miss A


__ADS_3

Rupanya di kediaman Aline sedang di penuhi oleh anggota gang The Bloods, tepatnya ada 7 orang disana. Mereka diutus kesana untuk mencari keberadaan Markus.


"Hallo bos, disini tidak ada Markus. Aku hanya menemukan istrinya Markus di rumahnya, tapi aku tidak tau istrinya Markus mati atau tidak, aku hanya melihat dia tubuhnya babak belur dan terbaring di lantai." lapor salah satu anggota gang The Bloods kepada Erza.


"Shitt.. kemana si Markus sialan itu?" Erza mengumpat penuh kekesalan, padahal dalam tugas mengeksekusi korban dia hanya mengandalkan Markus, dan Markus juga adalah pembunuh berdarah dingin, yang bisa diandalkan jika ada yang membutuhkan jasa pembunuh bayaran.


"Hhhh... Ya sudah kamu bawa saja istrinya Markus ke Markas The Bloods, tak peduli dia masih hidup ataupun tidak, suatu saat Markus pasti akan mencarinya kesini. Dia tidak bisa melarikan diri begitu saja, siapapun akan mati jika mencoba keluar dari gang The Bloods."


Para anggota gang The Bloods sudah disumpah janji untuk selalu setia kepada Erza, tidak ada yang boleh keluar, kecuali mati. Karena takut informasi bisnis bejatnya diketahui orang lain, apalagi polisi.


"Baik, bos."


Mereka pun segera membawa tubuh Aline yang sudah tak berdaya itu ke dalam mobil, lalu segera membawanya pergi dari sana.


Tanpa mereka sadari dari kejauhan ada Marvin dan Dewangga yang sedang memperhatikan mereka, yang pasti mereka tidak akan membiarkan Aline dibawa oleh anak buah Erza.


"Siapa yang membawa Aline? Apakah mungkin mereka dari gang The Bloods?" tanya Dewangga kepada Marvin.


"Sepertinya begitu. Biar aku yang menyetir saja." Marvin meminta tukeran posisi duduk dengan Dewangga, Marvin ingin kali ini giliran dia yang menyetir.


Dewangga mengiyakan. Dia menganggukan kepala.


Setelah bertukar posisi, Dewangga memastikan seat belt telah terpasang dengan aman, lalu memegang gagang pintu mobil dengan erat. Dia sudah berfirasat yang tidak mengenakan.


"Emm... mobil ini baru aku beli satu minggu yang lalu, 10 miliyar." Dewangga memperingatkan Marvin.


"Nanti aku ganti tiga kali lipat." Setelah berkata begitu Marvin memakai maskernya, tidak boleh ada yang tau Adam Alvarez adalah dia. Dia segera menjalankan mobilnya dengan kecepatan tinggi.

__ADS_1


Marvin mengambil jalan lain untuk memotong jalur mobil yang dikendarai oleh mobil para anggota gang The Bloods.


Setelah berada di perempatan jalan, Marvin semakin menaikan kecepatan mobil, karena dia melihat mobil berwarna hitam itu akan segera melewati perempatan.


Brrmm...


Brrmm...


Mobil yang dikendarai Marvin melaju dengan begitu kencang. Begitu melihat mobil hitam milik anggota Theo Bloods melintas, Marvin sengaja menabrakan mobil sport yang dia kendarai ke bagian samping mobil hitam itu.


Jegeeerr....


Terdengar begitu jelas suara dentuman yang begitu keras.


Membuat mobil yang dikendarai oleh anggota gang the Bloods itu menjadi oleng, lalu menabrak trotoar.


Brrakkk...


Dewangga menghirup nafas dalam-dalam, dia merasa lega karena masih bisa bernafas. Sementara Marvin, dia begitu datar, tidak merasa gugup sama sekali.


Mereka melihat ada lima anggota gang the Bloods keluar dari mobil, sementara dua lagi yang berada di bagian depan mobil, mungkin mereka sudah meninggal atau pingsan karena kondisi kedua orang itu cukup parah.


"Sial!" Salah satu dari mereka mengumpat menatap bringas Dewangga dan Marvin.


"Serang mereka!" teriak pria yang bebaju merah.


Kelima anggota gang The Bloods berlarian untuk memberikan pelajaran pada Marvin dan Dewangga.

__ADS_1


Marvin dengan tenang melawan tiga orang, sementara Dewangga dua orang. Mereka berkelahi dengan tangan kosong, mengandalkan kemampuan bela diri mereka.


Marvin berlari ke arah mobilnya, lalu naik dan meloncat ke bawah, memberikan tendangan keras pada kepala dua orang lawannya.


Bugh...


Bugh...


Tendangan Marvin membuat kepala keduanya pusing, dan tubuh mereka oleng. Marvin memukul mereka berdua pas bagian dadanya, membuat tubuh mereka ambruk aspal.


Dan lawan yang satu lagi, Marvin menahan dia yang hampir saja meninju wajah tampannya, dengan cepat Marvin menendang lutut sang lawan, kemudian mengangkat tubuhnya, lalu membanting tubuhnya dengan keras ke aspal.


"Arrrgghh!"


Para musuh terkapar di aspal.


Kemudian Marvin menendang keras perut salah satu dari mereka yang hendak bangkit. Membuatnya tak berdaya.


Sementara Dewangga, dia membawa pasir yang ada di aspal, lalu melemparkan pasir itu ke mata kedua lawannya, sehingga mereka meraung-raung matanya kesakitan, lalu menghajarnya satu persatu.


Bugh...


Bugh...


Setelah semua musuh tumbang. Marvin segera masuk ke dalam mobil musuh yang sudah penyok itu, dia mengecek keadaan Aline, Aline memang terlihat tak sadarkan diri, namun Marvin masih bisa bernafas lega begitu memegang sisi leher Aline dengan ujung jarinya, nadinya masih berdenyut.


"Dia masih hidup." Marvin berkata begitu dengan penuh haru, karena mungkin saja Aline memiliki rahasia besar yang tidak dia duga. Kemudian dia membuka masker yang menutupi wajahnya dari tadi.

__ADS_1


Dewangga tersenyum lega, dia masih terengah-engah karena sudah mengeluarkan tenaga untuk menghajar musuh.


Mungkin Aline berusaha keras untuk untuk bisa bertahan hidup, karena ingin sekali bisa bertemu dengan Nadine dan memeluknya.


__ADS_2