
Sementara itu di Mansionnya Marvin...
Nadine membulatkan matanya saat Marvin mencium bibirnya dengan ganas, sampai terdengar deru nafasnya yang kian memburu, pria itu sepertinya sangat bernaf-su sekali padanya.
Nadine tidak bisa berontak karena Marvin memeluk erat tubuhnya yang sedang terduduk di pangkuan pria itu.
Jantung Nadine berdegup kecang ketika pria itu mengangkat tubuhnya, menggendong dia seperti koala, membawanya masuk ke dalam kamar, tanpa melepaskan tautan bibir mereka.
Nadine mengigit bibir Marvin, membuat ciuman mereka terlepas.
"Shhh..." Marvin sedikit meringis karena bibirnya berdarah, ulah wanita itu.
Dia menghempas tubuh Nadine ke atas ranjang.
Nadine mencoba untuk protes, "Aku harap kamu jangan salah paham dengan sikap aku yang begitu perhatian padamu. Bukan berarti aku mau melakukannya lagi dengan kamu."
Marvin menatap tajam pada Nadine, pria itu masih berdiri di pinggir ranjang, "Kenapa?"
Nadine mengerutkan keningnya, mengapa Marvin dengan wajah tanpa berdosa bertanya kenapa, padahal sudah jelas jawabannya saat ini dia berstatus masih menjadi tunangan Damar dan dia dengan Marvin tidak memiliki hubungan apapun.
"Aku sebentar lagi akan menikah."
Marvin tersenyum smrik, "Walaupun dia sudah khianati kamu?"
"Aku juga pernah tidur dengan kamu, jadi aku rasa aku tidak ada bedanya dengan dia."
Marvin merasa kesal mendengarnya. "Wanita bodoh, untuk apa kamu menikah dengan dia sementara kamu tidak mencintainya."
"Tau apa kamu tentang cinta? Aku yakin orang sekejam kamu gak akan tau bagaimana rasanya mencintai seseorang."
Marvin terdiam sejenak, ucapan Nadine memang benar adanya, dia memang tidak tau rasanya mencintai seseorang. "Ya kau benar, aku tidak butuh cinta, aku hanya butuh kepuasan. Saat ini aku ingin melakukannya dengan kamu."
"Tapi aku tidak ingin melakukannya lagi, apalagi dengan kamu." Nadine menatap tajam pada Marvin yang sedang berdiri di depannya, sementara posisi dia sedang terduduk diatas kasur.
"Kau yakin?"
Nadine mengangguk kepalanya.
__ADS_1
Marvin membawa sebuah tali di atas nakas, lalu berjalan kembali ke arah Nadine.
"Kamu mau apa?" Nadine memiliki firasat yang tidak mengenakan.
"Mari kita taruhan, jika dalam setengah jam kamu tidak mendes-ah, aku akan melepaskan kamu, kamu boleh pulang. Silahkan kamu bersenang-senang dengan tunangan kamu itu. Namun, jika dalam waktu itu kamu mendes-ah, mulai malam ini kamu akan menjadi milikku."
Nadine menelan saliva mendengarnya, tapi bukan kah ini kesempatan dia untuk bisa keluar dari Mansion Marvin? Walaupun dia tidak tau apa yang akan dilakukan oleh Marvin padanya dengan tali itu.
Nadine terkejut tiba-tiba Marvin mengikat kakinya ke tiang ranjang kiri dan kanan, membuat Nadine melebarkan kakinya.
"Adam, kenapa aku harus diikat seperti ini?" protesnya.
"Diamlah, ikuti permainanku. Bukankah kau ingin segera pulang bertemu dengan tunanganmu? Karena ini gunakan kesempatan ini, jangan sekalipun mendes-ah."
Entah mengapa Marvin merasa kesal karena Nadine masih mau menikah dengan Damar walaupun dia sudah tau keburukkan calon suaminya itu.
Bukan hanya kaki Nadine, Marvin pun mengikat kedua tangan wanita itu.
"Kamu tidak lagi membohongiku kan?" Nadine menatap tajam pada Marvin yang sedang berada diatasnya.
Marvin turun kembali dari ranjang, dia berjalan ke arah kulkas, terlihat dia membawa beberapa bongkahan kecil es batu di dalam gelas. Nadine tidak mengerti untuk apa itu.
Marvin meletakkannya di atas nakas, lalu dia naik kembali ke atas ranjang, dia menggunting semua pakaian Nadine, sampai tak tersisa satu helai pun, membuat Nadine terpekik kaget.
"Adam!"
"Kamu tenang saja aku tidak akan memaksa kamu seperti malam itu, tapi aku ingin kamu yang memintanya padaku untuk menyentuh tubuh kamu." Marvin mengatakannya dengan penuh rasa percaya diri. Membuat Nadine muak.
Marvin meletakkan sebongkah es batu ke put-ing Nadine, membuat Nadine terjingkat seketika. Dia menggigit bibir bawahnya, jangan sampai dia mendes-ah, dalam tiga puluh menit dia tidak mendes-ah, maka Marvin akan melepaskannya.
Marvin tersenyum melihat wajah Nadine memerah seakan menahan sesuatu, dia menggodanya dengan memutar-mutarkan es ke sekitar put-ing Nadine.
"Mmmhh..." Nadine menggeliat menarik-narik tali yang membelenggu tangannya. Sensasi dingin itu membuatnya melayang.
Marvin menundukkan kepalanya, dia melahap es batu yang ada di put-ing Nadine, menyedotnya dengan rakus sampai es batu itu mencair membasahi payu-dara Nadine, lalu lidahnya menjilati cairan dingin di payu-dara Nadine.
"Mmhhh..." Baru juga beberapa menit, Nadine merasakan sensasi yang luar biasa, namun dia tidak boleh mendes-ah, dia harus kuat, agar bisa segera pulang.
__ADS_1
Sesekali punggung Nadine melengkung ke atas, sampai keringatnya bercucuran, pria itu pandai sekali memancing gairahnya.
Nadine sangat bernafas lega saat mulut Marvin melepaskan buah dadanya.
Namun dia melihat Marvin meletakkan kembali es batu ke dadanya.
Marvin mengigit es batu itu, lalu menariknya turun secara perlahan, menggoda perut rata Nadine. Nadine dibuat kelimpungan karena ulah pria itu.
Kemudian sentuhan es batu itu turun ke bawah, menyentuh area inti Nandine.
Nadine hampir dibuat menjerit merasakan sensasi dinginnya es batu itu menyentuh miliknya.
Marvin mulai menggerakkan es batu di bawah sana, sambil sesekali memberikan hisapan kuat karena es batunya sedikit demi sedikit mulai mencair, cairan dingin yang meleleh itu masuk ke dalam milik Nadine. Membuat Nadine kehilangan akal.
"Mmmhh... mmmhhh..." Jari-jari kaki Nadine menekuk, tangannya memegang erat tali yang mengikatnya. Padahal Marvin tidak menyakitinya, tapi dia merasa sangat tersiksa dengan apa yang Marvin lakukan padanya.
Nadine merasakan lidah Marvin yang sangat dingin masuk ke dalam miliknya, membuat punggung Nadine beberapa kali melengkung ke atas. Sungguh pria ini membuatnya gila.
"Ahhh... Adam...!" Nadine tak menyadarinya, dia mendes-ah menyebutkan nama Adam.
Marvin tersenyum puas mendengarnya, dia semakin semangat monggoda Nadine, dia menggerakkan benda lunak yang dingin itu di dalam sana. Memberikan jilatan dan hisapan yang membuat Nadine semakin tak berdaya.
"Ahhh... Adam... please!"
Nadine tidak mengerti maksud dia berkata please itu untuk apa, untuk menyuruhnya berhenti atau meminta lebih dari ini.
Tapi sepertinya Marvin jauh lebih mengerti, dia tau wanita itu menginginkan bercinta lagi dengannya. Walaupun dia tidak akan mau mengaku, tapi bahasa tubuhnya mengakui semua itu.
Marvin menggunting semua tali yang mengikat kaki dan tangan Nadine, sehingga Nadine bisa bergerak bebas kembali.
Kemudian Marvin masukan es batu kembali ke dalam mulutnya, lalu bergumul kembali dengan milik Nadine.
"Ahhhh... " Nadine sangat muak pada dirinya sendiri karena telah menyia-nyiakan kesempatan untuk pergi dari tempat ini. Tapi gairah ini telah bergejolak mengusai tubuhnya, dia telah kehilangan akal. Sensasi dingin di bawah sana membuat tubuhnya bergetar dan seakan membawanya terbang.
Tangan Nadine reflek mencengkram rambut Marvin, dia melebarkan pahanya membuat Marvin lebih leluasa mencumbui milik Nadine dan memasukan es batu ke dalam milik wanita itu, di susul dengan lidahnya.
"Adamhh..." Nadine menengadahkan kepalanya ke atas, badannya terus menggelinjang hebat, merasakan ada yang mendesak ingin keluar dari miliknya. Dia semakin kuat mencengkram rambut Marvin dan menekan kepalanya, membuat lidah Marvin masuk lebih dalam.
__ADS_1