A Dangerous Man ( Balas Dendam Sang Mafia )

A Dangerous Man ( Balas Dendam Sang Mafia )
Kecurigaan Sang SPY


__ADS_3

Di waktu yang bersamaan, malam ini Dami sedang menonton acara berita di televisi, dia melihat Tuan Dafa Pratama sedang mengandakan acara amal, pria itu memang sangat terkenal dengan kebaikannya, sampai mendirikan sebuah panti asuhan untuk menampung anak-anak dan bayi yang diterlantarkan oleh orang tua mereka.


"Lembaga Survei menyatakan bahwa hasil voting calon gubernur ibu kota 70 persen kemungkinan Anda yang akan menang, bagaimana tangggapan anda, Tuan Dafa?" tanya seorang wartawan CSTV kepada Tuan Dafa.


Tuan Dafa nampak merendahkan diri. "Acara pemilihan umum belum diselenggarakan, jadi saya belum bisa menanggapi bagaimana perasaan saya saat ini. Namun, walaupun begitu saya sangat berterimakasih jika ada yang berkenan memilih saya untuk menjadi gubernur di ibu kota ini. Tujuan saya ingin menjadi gubernur adalah untuk menumpas kemiskinan sedang dialami oleh banyak masyarakat di Jakarta."


"Sungguh mulia sekali hati anda, Tuan Dafa. Anda memang pantas menjadi seorang pemimpin, bahkan ada banyak masyarakat yang mendukung anda untuk mencalonkan diri sebagai presiden, mengapa tidak mencalonkan diri sebagai presiden saja?"


Tuan Dafa terkekeh, memang itu tujuannya, namun dia harus meraih kekuasaannya secara bertahap, agar terlihat ambisius dalam meraih jabatan nomor satu di negeri ini. Tahun ini dia harus menjadi seorang gubernur, menarik simpati masyarakat dengan semua kinerjanya dan kebaikan yang sering dia lakukan. Kemudian di pemilihan umum berikutnya, barulah dia akan mencalonkan diri sebagai seorang presiden.


"Saya merasa tidak pantas menjadi seorang pemimpin, apakah saya bisa menjalankan amanah rakyat di negeri ini? Saya takut tidak bisa menjadi pemimpin yang baik. Awalnya saya sama sekali tidak berniat untuk mencalonkan diri sebagai seorang gubernur, namun karena banyak sekali yang meminta saya untuk mencalonkan diri sebagai gubernur, hati saya bergerak, saya pikir dengan saya menjadi seorang pemimpin, saya bisa menolong dan melindungi semua masyarakat di ibu kota ini."


Klik!


Dami mematikan televisi, entah mengapa dia merasa hatinya tidak tenang setelah melihat ekspresi seorang anak bernama Feri di panti sana.


Namun jika dia melihat siapa pemilik panti asuhan tersebut, rasanya tidak mungkin seorang Tuan Dafa yang sangat terkenal sekali dengan segala kebaikannya, bahkan dia sering disebut sebagai seorang malaikat penolong, tidak mungkin panti asuhannya bermasalah.


Namun karena dia masih penasaran tentang panti asuhan Harapan Bunda tersebut, dia terpaksa harus meminta bantuan pada Dewangga.


Dami masuk ke dalam kamar Dewangga melalui jendela kamar, karena semua anggota Athena tinggal di gedung yang sama. Dia bagaikan seorang pencuri.


Dami menghela nafas, dia tak mendapati Dewangga berada di kamarnya, "Kemana dia?"

__ADS_1


Ceklek!


Dami mendengar suara pintu kamar mandi terbuka, matanya membelalak saat melihat Dewangga keluar dari kamar mandi dalam keadaan setengah telanjang, pria itu hanya memakai handuk menutupi area pinggang sampai paha.


Dewangga pun sama kagetnya saat melihat Dami tiba-tiba berada di kamarnya, untung tidak terjadi tragedi handuk melorot.


Dami segera membalikan badan, membelakangi Dewangga, wajahnya memerah. "Cepat pakai pakaianmu!" bentaknya.


Tapi Dewangga malah penasaran mengapa Dami tiba-tiba berada di kamarnya, "Kenapa kamu ada disini? Pasti kamu membobol lagi kunci jendela aku kan?"


"Ada hal penting yang ingin aku bicarakan sama kamu, makanya kamu harus cepat pakai pakaianmu." Dami masih membelakangi Dewangga.


"Yakin nih? Gak mau melihat lebih lama tubuh seksi aku ini?" Dewangga malah menggoda Dami, dia berjalan mendekati Dami.


Dewangga mengangkat kedua tangannya, dia berjalan mundur tiga langkah. "Astaga, kamu gak bisa diajak bercanda."


Dewangga menyuruh Dami membalikkan badannya. "Sekarang aku mau memakai pakaianku. Jadi cepat balikan badanmu, tapi kalau kalau kamu mau lihat juga gak apa-apa hehe." Dewangga memang suka sekali bercanda.


Wajah Dami memerah lagi, dia segera menyimpan pistol ke holster dan membalikan badannya, membelakangi Dewangga kembali. "Ya udah, pakai pakaianmu dengan cepat!"


Dewangga segera memakai pakaiannya. Sementara Dami terus meneguk saliva, dia wanita normal pastinya badannya panas dingin membayangkan Dewangga yang sedang membuka handuknya, lalu memakai pakaiannya satu persatu.


Setelah Dewangga berpakaian lengkap, Dami menjelaskan tujuan dia datang ke kamar Dewangga.

__ADS_1


"Jadi kamu ingin aku meretas data daftar nama anak-anak di panti asuhan Harapan Bunda dan juga data siapa saja yang mengadopsi anak-anak di panti itu?" tanya Dewangga, mereka sedang duduk di kursi sofa, sementara tangan Dewangga sudah mulai mengutak-atik laptopnya.


"Iya." Dami menganggukkan kepala.


"Tapi untuk apa?" Dewangga memang tidak memperhatikan anak yang bernama Feri itu saat di panti, dia siang tadi sibuk memperhatikan suasana dan fasilitas di panti asuhan Harapan Bunda.


"Aku merasa ada kejanggalan di panti asuhan itu." Mungkin karena Dami sering ditugaskan sebagai SPY atau mata-mata makanya dia memiliki kepekaan terhadap kejanggalan yang dia rasakan.


"Baiklah." Dewangga mulai memasukkan kode-kode hacknya untuk meretas situs panti asuhan Harapan Bunda.


Setelah sekian menit dia mengutak-atik laptopnya, akhirnya dia berhasil masuk ke situs tersebut. Dia melihat ada daftar nama anak-anak di panti asuhan sana. Dimulai dari bayi berusia 1 bulan sampai anak berusia 13 tahun.


"Jumlah anak-anak disana ada 215 orang." Dewangga merasa apa yang diucapkan oleh Kepala Pengurus panti asuhan itu benar adanya.


"Coba cari data siapa saja anak yang sudah diadopsi beserta identitas pengadopsinya!" suruh Dami lagi.


Dewangga menganggukan kepala, dia segera mencari apa yang disuruh oleh Dami. Dewangga melihat ada banyak sekali anak yang sudah diadopsi dari panti milik Tuan Dafa itu.


"Tolong print semua data itu, biar aku cek nanti apa benar mereka diadopsi."


"Kita cek sama-sama saja." Dewangga segera mengcopy paste data tersebut, lalu di print. "Apa yang kamu curigai dari panti asuhan itu?"


"Aku juga tidak tau, hanya saja aku melihat anak itu sangat ketakutan sekali. Kamu tau sendiri aku adalah salah satu anak yang selamat dalam praktek human trafficking. Dimana di panti tempat aku tinggal dulu, setiap anak yang benar-benar dinyatakan sehat dibunuh satu persatu, dan organnya diambil oleh mereka, sementara data mereka dinyatakan sebagai anak yang telah diadopsi oleh orang lain. Aku melihat dengan mata kepala aku sendiri. Beruntung Tuan Theo menyelamatkan aku."

__ADS_1


Karena itu Dami merasa bersalah karena sudah mengkhianati Om Theo dengan membocorkan rencananya untuk membunuh Nadine. Namun karena dia juga seorang wanita, membuat dia tidak tega jika melihat Nadine harus dibunuh secara sadis, apalagi dia merasa Tuan mudanya memiliki perasaan pada wanita itu.


__ADS_2