
Om Theo mere-mas surat dari Marvin, dia tidak mengerti mengapa Marvin berani sekali mengkhianati kepercayaannya. Selama 18 tahun lamanya dia mendidik Marvin dengan sangat keras agar dia bisa menjadi pria yang kuat, namun dia tiba-tiba menjadi lemah hanya karena seseorang wanita, terlebih wanita itu adalah adiknya, anak dari wanita yang telah tega menyakiti ibunya sendiri.
Apa mungkin apa yang dibilang Dami itu benar kalau mereka pernah tidur satu kamar? Mereka saling mencintai? Rasanya itu mustahil.
Lebih masuk akal jika Marvin berusaha melindungi Nadine karena dia adalah adiknya Marvin, Marvin ingin melindungi Nadine sebagai seorang kakak.
Om Theo mendengus kesal, dia sangat kecewa sekali kepada Marvin. Kemudian dia menatap Markus yang tubuhnya sudah tak terbentuk lagi, telah habis dilahap si jago merah.
Di ruang bawah tanah itu mulai tercium bau hangit yang sangat menyengat.
Om Theo menyuruh salah satu anggota Athena untuk memadamkan api itu agar wajah Markus masih bisa dikenali, dia ingin bos dari gang The Bloods itu tau kalau mayat yang dia kirim itu mayat Markus.
"Cepat padamkan apinya!"
Orang yang disuruh Om Theo pun dia segera memadamkan api dengan air, hingga terlihat badan Markus yang sudah gosong dan kulitnya sudah banyak yang mengelupas.
"Kalian urus mayat itu, masukan dia ke dalam peti mati!" titah Om Theo, dengan raut wajahnya yang sangar.
"Baik, Tuan." Orang-orang yang disuruh Om Theo menganggukkan kepala dengan patuh.
__ADS_1
Mereka segera melakukan perintah dari Om Theo, mengangkat mayat Markus dengan hati-hati karena takut tubuhnya hancur, lalu dimasukkan ke dalam peti mati yang sudah di persiapkan disana. Kemudian peti itu ditutup dengan rapat.
Om Theo menatap tajam kepada Dewangga, membuat Dewangga gugup ditatap seperti itu. Sepertinya Om Theo sangat kecewa sekali pada Marvin.
"Jika Adam sudah kembali, suruh dia untuk datang ke Mansionku!"
Dewangga menganggukkan kepala, "Baik, Tuan."
Om Theo pun memutuskan untuk pergi dari sana, karena dia masih memiliki banyak pekerjaan yang harus dia urus, diikuti oleh beberapa pengawalnya, kecuali Dami.
Setelah Om Theo pergi, Dewangga dan Dami sangat bisa bernafas dengan lega, akhirnya kini suasana sudah tidak tegang seperti tadi.
Dewangga menganggukkan kepala, "Kebetulan aku lapar sekali, bagaimana kalau teraktir aku makan? Sejujurnya tadi aku sangat takut kalau Tuan Theo menembak aku, aku tidak mau mati sebelum aku menikah dan punya anak."
Dami membelalakan matanya mendengar ucapan Dewangga, namun karena dia sudah berhutang nyawa pada Dewangga, dia terpaksa mengiyakan saja, lagian satu piring nasi dan satu gelas minuman yang akan dia berikan kepada Dewangga, tidak seberapa dibandingkan dengan nyawanya.
...****************...
Om Theo saat ini sedang berada di dalam mobil menuju mansionya yang sudah lama dikosongkan, walaupun begitu, mansion tersebut selalu dirawat dan dibersihkan oleh ART-nya.
__ADS_1
Dia tengah perjalanan, Om Theo duduk dengan santai di kursi bagian belakang, mobil yang dia tumpangi melewati sebuah sekolah SMA, dia dulu sekolah disana bersama Aline, mereka dulu berpacaran cukup lama.
Sedang apa wanita itu sekarang?
Mungkin sekarang dia sudah hidup bahagia bersama suami dan anak-anak mereka.
Walau sudah lama berpisah dengannya, tapi rasa sakit itu masih terasa di hatinya, mungkin karena Aline memutuskannya disaat dia sangat mencintaimu wanita itu.
Karena itu Om Theo melarang Marvin untuk jatuh cinta, cinta hanya akan membuat sakit dan membuat seorang pria menjadi lemah.
Om Theo tidak mengerti mengapa Marvin bisa luluh pada anaknya Sonya dan Tuan Rama. Padahal dia begitu dingin kepada siapapun. Om Theo ingin mendengar langsung jawaban dari Marvin, apa alasan Marvin melindungi Nadine.
Om Theo masih tetap ingin menjadikan Nadine ke dalam bagian target misi balas dendam, karena Nadine adalah orang yang paling berharga untuk Tuan Rama. Nadine lah yang bisa membuat Tuan Rama hancur, mungkin pria itu akan menjadi gila jika melihat potongan tubuh putri tercintanya, yang akan dia kirimkan pada mantan suami kakaknya tersebut.
Om Theo tidak sepenuhnya mempercayai Dewangga, karena Dewangga lebih patuh kepada Marvin. Dia menyuruh asistennya untuk mencari tau apapun soal Markus, dia hanya ingin tau tentang pria yang sudah dia bunuh itu. Sepertinya Markus bukan pria sembarangan, mengingat dia adalah seorang jagal dalam mengeksekusi banyak korban untuk diambil organnya.
"Aku ingin kamu menyelidiki apapun soal Markus!" titah Om Theo.
Asisten Zack menganggukan kepala, "Baik, Tuan."
__ADS_1