
Om Theo membawa Nadine ke dalam sebuah helikopter, Nadine sudah tidak sadarkan diri. Tubuhnya memang masih lemah dalam pasca kecelakaan itu, apalagi Darko menambah luka di kepalanya.
"Marvin!" Itulah yang terakhir kali Nadine ucapkan sebelum dia tidak sadarkan diri.
Seorang Dokter di dalam helikopter itu segera memberikan pertolongan dan menyiapkan tindakan medis yang tepat pada Nadine.
Helikopter itupun segera terbang, Om Theo harus menyelamatkan putrinya, dia harus memenuhi janjinya pada Aline, dan dia ingin bisa memiliki kesempatan untuk menjadi seorang ayah yang baik untuk Nadine.
Om Theo menatap Markas The Bloods yang jaraknya sudah mulai menjauh, sebenarnya dia sangat mengkhawatirkan Marvin. Tapi dia yakin Marvin pasti bisa mengatasi semuanya, jangan panggil dia A Dangerous Man, jika dia tidak bisa menaklukkan musuhnya.
"Saya sudah menyiapkan beberapa helikopter untuk menjemput para anggota Athena yang terluka, Tuan." lapor Asisten Zack.
Om Theo menganggukkan kepalanya, "Kerja yang bagus."
...****************...
Di lantai bawah, terlihat pertarungan begitu sengit, amunisi mereka telah habis, sehingga mereka berkelahi dengan menggunakan senjata tajam ataupun dengan tangan kosong.
"Perintahkan kepada semua anggota Athena untuk segera meninggalkan Markas ini, ini adalah sebuah perintah!"
Dewangga mendengar perintah dari Marvin lewat earpiece, dia yakin Marvin pasti telah merencanakan sesuatu, dia segera berteriak. "Ayo kita segera tinggalkan tempat ini."
Namun sayangnya mereka tidak bisa keluar karena masih banyak anggota The Bloods yang tersisa.
__ADS_1
Sementara di lantai paling atas, Marvin sedang bertarung sengit dengan Darko.
Tubuh Erza sudah mulai sedikit melemah merasakan kesakitan di perut dan kepalanya gara-gara Nadine, dia menyadarkan dirinya di dinding memegang perutnya yang terluka, "Arrrggghhh!"
Marvin menghindar dengan cepat saat Darko ingin menusuk badannya dengan pisau, kemudian dia menendang tubuhnya Darko hingga pria itu jatuh ke lantai.
Kemudian dia mengangkat tubuh Darko, dan membantingnya ke lantai.
"Arrrggghhh!"
Darko merasakan tubuhnya terasa remuk, dia memaksakan diri untuk bisa berdiri kembali.
Dengan cepat Marvin memberikan pukulan mematikan, tepat ke dada Darko, lalu ke lehernya, sehingga leher pria itu patah.
Erza tercengang melihat Darko yang sudah tak bernyawa.
Marvin menyeringai, dia memperlihatkan waktu bom yang melekat di rompi yang dia pakai.
Tersisa waktu 7 menit lagi.
Marvin berjalan ke arah Erza. "Harus kamu tau, sebenarnya aku membawa 4 bom, satu bersamaku, dan tiga lagi berada dilantai dua. keempat bom memiliki waktu yang sama, jadi percuma saja jika membunuhku, Markas ini memang akan segera hancur." Marvin tertawa puas.
Erza nampak kesal sekali, "Bajingan kamu, Marvin!"
__ADS_1
Erza sangat geram sekali, dia segera menekan earpiece untuk menghubungi Amar di lantai bawah. "Cepat suruh anggota gang The Bloods untuk mencari tiga bom di lantai dua, kalian harus segera menjinakannya."
Di lantai bawah, banyak anggota gang The Bloods berlarian ke lantai dua untuk mencari bom, mereka harus segera menjinakkan bom tersebut.
Sehingga di lantai bawah, anggota gang The Bloods yang tersisa tinggal sedikit lagi.
Dami, Dewangga dan anggota Athena yang lainnya segera menyerang mereka yang masih berada di lantai bawah.
Jleb...
"Arrrggghhh!"
Dami tak menyadari tiba-tiba ada yang menikam punggungnya dengan pisau.
Dewangga terkejut melihatnya, dia segera berlari menghajar orang yang menusuk Dami dengan membabi buta, sampai orang itu tak berdaya.
Dewangga menahan tubuh Dami yang hampir saja terjatuh ke lantai. Dewangga mencabut pisau yang menancap di punggung Dami. "Dami, bertahanlah, kamu tidak boleh seenaknya pergi, kamu masih punya hutang padaku." Dewangga mengatakannya dengan mata berkaca-kaca.
Para Anggota The Bloods di lantai bawah sudah tumbang, karena sebagian banyak berada di lantai ketiga untuk mencari bom yang disembunyikan oleh Marvin.
Sementara sisa waktu kini 4 menit lagi.
"Ayo kita pergi!"
__ADS_1
Dewangga segera menggendong Dami di punggungnya, dia membawanya ke luar dari Markas, Dewangga yakin Marvin akan segera meledakkan Markas, karena itu mereka harus berlari menjauh dari sana, sambil menunggu helikopter datang untuk menyelamatkan Dami.