A Dangerous Man ( Balas Dendam Sang Mafia )

A Dangerous Man ( Balas Dendam Sang Mafia )
Mengirim Markus Ke Neraka


__ADS_3

Siang itu di Markas Athena...


"Adam dimana?" tanya Om Theo kepada Dewangga, begitu dia masuk ke dalam Markas Athena.


Para anggota Athena yang ada disana, mereka sedikit membungkukan badannya sebagai pertanda hormat kepada Om Theo. "Selamat datang ke markas kami, Tuan."


Om Theo hanya membalas sapaan mereka dengan sebuah anggukan.


Dewangga nampak begitu tegang karena takut ketahuan kalau Marvin membawa Nadine pergi.


"Tuan Adam sedang ada urusan penting." Dewangga terpaksa berbohong. Jika di depan Om Theo dia memang memanggil Marvin dengan Tuan Adam. Namun Marvin lebih suka Dewangga memanggilnya tanpa ada kata tuan.


Om Theo hanya menganggukkan kepala, dia memang berharap hari ini Marvin tidak berada di Markas. Om Theo datang ke Markas Athena bersama Dami dan beberapa pengawal lainnya.


Bukan hanya Dewangga yang terlihat tegang, sepertinya Dami juga nampak gelisah.


Om Theo segera pergi ke ruang bawah tanah, diikuti oleh Dewangga dan para pengawal.


Om Theo melihat Markus yang terlihat sudah tidak berdaya, wajahnya sangat terlihat pucat, dan tubuhnya sudah mulai melemah. Keadaan ini sangat menyiksanya, dia ingin bisa secepatnya mati, namun sayangnya dia belum bisa juga mengakhiri penderitaan ini.


"Siapa kamu?" tanya Markus kepada pria yang nampak asing baginya. Namun pria itu menatapnya begitu tajam, seperti bintang yang telah menemukan mangsanya.


Om Theo tersenyum kecut, ternyata dia masih diberikan kesempatan untuk melihat secara langsung orang yang sudah membunuh Bu Rena, wanita yang sudah dia anggap kakak kandungnya sendiri.


"Aku adalah adik dari wanita yang sudah kamu bunuh."


Markus tertawa kecil begitu mendengar jawaban dari Om Theo, "Jadi rupanya kau adiknya wanita itu, apa kamu datang kesini untuk membunuhku?" Markus memang berharap secepatnya mati, dia sudah tidak tahan menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya.


Om Theo berjalan mendekati Markus, "Bagaimana caramu membunuh kakakku?"


Om Theo mengeluarkan pisau lipat dari saku jasnya. Lalu menusukan pisau itu ke perut Markus.


Jlebb...


Mata Markus melotot begitu merasakan kesakitan di bagian perutnya. Kemudian dia mengerang kesakitan, "Arrrggghhh!"


"Apakah dengan cara seperti tadi?" tanya Om Theo dengan tatapannya yang dingin.

__ADS_1


"Brengsek!" Markus mengumpat pada Om Theo, padahal dia meminta ingin segera dibunuh, tapi kenyataannya dia tidak sanggup menahan rasa sakit yang harus dia terima jika ingin secepatnya mati.


"Atau dengan cara seperti ini?"


Om Theo menusuk perut Markus dengan brutal, entah berapa kali dia menikam pria itu. Mungkin lebih dari 5 kali.


Jlebb..


Jlebb...


Jlebb...


"Arrrggghhh!" Markus meringis, badannya bergetar menahan rasa sakit yang luar bisa, pisau itu telah mengoyak perutnya, sampai banyak darah bercucuran membanjiri lantai. Nafasnya terengah-engah, merasakan tubuhnya sangat kesakitan.


"A-ampun...arrrggghhh!"


Markus terbatuk-batuk, mulutnya mengeluarkan darah.


Jika tau rasanya akan sesakit ini, dia memilih untuk mati secara perlahan saja.


Markus sudah benar-benar tidak berdaya, bahkan dia sudah tidak sanggup berdiri jika kaki dan tangannya tidak diikat seperti itu. Dia hanya bisa merintih menahan rasa sakit.


Namun ternyata Om Theo belum puas melihatnya, "Dan sekarang aku akan benar-benar membuat kamu mati."


Om Theo membawa sebuah jerigen yang berisi bensin, dia segera menumpahkan jerigen itu ke tubuh Markus.


Markus gelagapan merasakan badannya basah dibahasi oleh bensin. Dengan sisa tenaga yang dia punya, dia memohon ampun.


"Ja-jangan bakar aku, aku mohon!"


"Arrrggghhh... aku mohon!"


Om Theo sama sekali tidak merasa iba, dia menyalakan korek api, kemudian melemparkannya ke tubuh Markus. Membuat api itu berkobar membakar tubuh pria itu.


Seketika Markus meraung-raung kesakitan, beruntung kaki dan tangannya diikat oleh tali yang tahan dengan api. Dia hanya bisa meronta-ronta merasakan badannya telah terpanggang dengan api yang yang menutup seluruh badannya.


"Arrrggghhh...panas!"

__ADS_1


"Tolooong!"


"AAARRRGGGHHH !!!!'


Om Theo menjauhkan dirinya dari Markus, kemudian dia menatap Dami, Dami memang ditugaskan untuk mengamankan Nadine tanpa sepengetahuan Marvin.


"Sekarang giliran wanita itu, bawa dia ke hadapanku!"


Om Theo ingin mengirim mayat Markus ke Markas The Bloods, dan juga mayat Nadine ke Sonya dan Tuan Rama. Anggap saja hadiah darinya untuk mereka, sebelum menghancurkan semuanya.


Dami nampak gugup sekali, dia memang harus menerima konsekuensi karena telah melanggar sumpah kesetiaannya pada Om Theo. "Maafkan saya, Tuan."


"Maaf apa maskudmu? Mana Nadine Leonardo?"


Dami hanya menundukkan kepala, "Saya siap dihukum atas kesalahan yang telah saya perbuat."


Om Theo menghela nafas, dia rasa sepertinya Dami sudah membocorkan rencananya pada Marvin. Mungkin sekarang Marvin telah membawa Nadine pergi.


"Kau tau apa hukuman bagi seorang pengkhianat?" Om Theo sangat murka sekali. Dia meraih pistol yang ada di holster pinggang, lalu menodongkan pistol itu pada Dami.


Dami hanya menunduk pasrah. Dia siap dihukum mati.


Namun tiba-tiba Dewangga berdiri di depan Dami, melindungi wanita itu. "Maafkan saya, Tuan. Tapi Tuan Adam meminta saya untuk melindungi semua anggota Athena. Saya siap mati untuk melindungi mereka."


"Minggir!" bentak Om Theo kepada Dewangga.


Namun Dewangga enggan menyingkir. Dia tetap berdiri tegak melindungi Dami.


Itu hanyalah taktik Marvin dan Dewangga, karena Om Theo tidak mungkin membunuh anak dari mantan asistennya yang telah mati demi melindunginya dari serangan musuh.


Om Theo hanya menghela nafas panjang, dia terpaksa menurunkan tangannya, menyimpan kembali pistol ke dalam holster pinggang.


Dewangga akhirnya bisa bernafas lega, Om Theo tidak jadi menembak mati Dami. Kemudian dia memberikan surat dari Marvin untuk Om Theo, "Ada surat untuk anda, Tuan."


Om Theo membawa surat yang diberikan oleh Dewangga kepadanya, dia segera membaca surat itu.


...Maafkan saya Om, saya memutuskan untuk tidak melibatkan Nadine dalam rencana balas dendam kita. Nadine tidak bersalah, dia tidak tau apa-apa tentang kesalahan kedua orang tuanya. Karena itu aku mohon, biarkan dia hidup....

__ADS_1


...Aku janji akan segera menghancurkan Tuan Rama, Sonya, dan gang The Bloods, setelah itu aku akan kembali ke Australia. Aku akan tetap hidup menjadi Adam Alvarez, pria yang tidak akan mengenal cinta sepanjang umur hidupku, hidupku sepenuhnya hanya untuk Athena....


__ADS_2