A Dangerous Man ( Balas Dendam Sang Mafia )

A Dangerous Man ( Balas Dendam Sang Mafia )
Bukan Dalam Daftar Misi


__ADS_3

Tak terasa hari sudah mulai pagi, dari semalam Dewangga dan Dami memeriksa semua data tentang para pengadopsi anak di panti asuhan Harapan Bunda.


Beberapa kali Dewangga menguap, dia tidak bisa menahan rasa ngantuknya. "Huammm...".


"Hampir semua identitas para pengadopsi itu valid, gak ada yang mencurigakan lho. Izinkan aku tidur sebentar." kata Dewangga sambil menyadarkan kepalanya ke bahu Dami.


Dami menghelakan nafas, dia menahan kepala Dewangga dengan jari telunjuknya. "Baru 40 persen, tersisa 60 persen lagi belum di cek. Kita dibayar mahal untuk bekerja keras, bukan untuk bermalas-malasan."


Dewangga tidak terima disebut bermalas-malasan oleh Dami. "Kamu pikir pekerjaan aku hanya sebatas ini saja? Pekerjaan aku masih banyak. Aku harus menghandle pekerjaan Adam Alvarez, aku harus menjadi hacker, dan aku juga harus melatih bela diri para anggota Athena."


Dami pura-pura biasa saja, padahal dia menyadari tugas Dewangga memang banyak sekali. "Hm iya aku tau, tapi kita harus memiliki bukti jelas kejanggalan di panti asuhan Harapan Bunda. Setelah Tuan Adam pulang, kita bisa memberikan laporan tentang panti itu. Agar Tuan Adam dengan cepat menanganinya."


"Iya sepertinya Adam memang belum pulang."


"Mungkin Tuan Adam sibuk dengan misinya, makanya Tuan belum bisa pulang sampai sekarang."


Dewangga malah terkekeh, dia tau sepertinya Marvin memilih menemui Nadine, makanya belum pulang. Dewangga sudah mencurigai Marvin memiliki perasaan pada Nadine, namun dia tidak ingin ikut campur urusan asmara bos sekaligus sahabatnya itu. "Ya dia sangat sibuk."


Dewangga menambahkan perkataannya dalam hati_ sibuk bikin anak tapi.

__ADS_1


Ngomong-ngomong memikirkan soal bikin anak, Dewangga meneguk salivanya dengan kasar. Kapan dia bisa berduaan dengan Dami tanpa membahas soal pekerjaan? Tapi membahas antara aku dengan kamu. Dami memang hanya membutuhkan dirinya dalam masalah pekerjaan saja.


Dewangga sangat tau sekali bagaimana Marvin, pria itu memiliki ambisi yang tinggi untuk membalaskan dendam atas kematian ibunya. Sikap Marvin begitu dingin, dia tidak pernah memikirkan kebahagiaanya, dia tidak pernah tertarik untuk berkencan, ataupun untuk mencari hiburan.


Baru kali ini Marvin merasakan hatinya terusik, yaitu pada Nadine. Jadi Dewangga merasa lega akhirnya sahabatnya itu bisa menjalani kehidupannya dengan normal.


Dewangga mencoba memeriksa identitas para pengadopsi kembali, namun kali ini identitas pengadopsi tersebut invalid. Sepertinya memakai identitas palsu, untuk mengelabui polisi jika sewaktu-waktu polisi melakukan pemeriksaan terhadap data pengadopsian di panti asuhan Harapan Bunda.


"Invalid?" Dewangga mengerutkan keningnya. Kemudian dia mencoba memeriksa identitas pengadopsi bernama Hartono nomor 112, ternyata invalid lagi.


"Benar kan kataku pasti ada yang tidak beres dengan panti asuhan itu?" seru Dami.


Dewangga memilih secara acak, dia melacak identitas pengadopsi atas nama Arfan Lesmana, invalid lagi.


"Sepertinya panti itu ingin mengelabui polisi, jadi data para pengadopsi ini di rekayasa. 40 persen memang benar adanya pengadopsian, agar terlihat tidak mencurigakan. Tapi 60 persen anak yang sudah di adopsi itu aku gak tau bagaimana nasib mereka sekarang." terang Dewangga.


Disana banyak sekali anak yang dinyatakan sudah diadopsi. Kemungkinan 60 persen dari mereka menjadi korban praktek human trafficking. Walaupun hanya sebuah dugaan karena Dewangga dan Dami belum menemukan bukti kecurigaan mereka.


"Sebenarnya kasus panti asuhan ini tidak ada hubungannya dengan misi balas dendam bos kita. Target kita sekerang hanya The Bloods, Tuan Rama dan Sonya. Markus sudah mati, sementara Nadine sudah dicoret dari daftar target. Tuan Dafa tidak ada dalam target kita."

__ADS_1


Perkataan Dewangga benar apa adanya. Tujuan Marvin datang ke Indonesia karena hanya untuk misi balas dendam. Dan Tuan Dafa tidak ada kaitan dengan misi balas dendam tesebut.


Dami paham betul, kasus di panti asuhan itu mungkin tidak ada kaitannya dalam misi balas dendam. "Aku tau, panti itu tidak ada hubungannya dengan misi balas dendam. Tapi ini sebagai hati nurani, bagaimana kalau ternyata dugaan kita benar kalau ternyata anak-anak di panti itu akan menjadi korban praktek human trafficking? Mereka di jual, bahkan ada yang di ambil organnya. Aku teringat dengan teman-temanku di panti yang menjadi korban kekejam orang-orang serakah seperti Dafa Pratama. Dia tidak layak menjadi seorang pemimpin."


Dewangga merasa tersentuh mendengar perkataan Dami, "Ya sudah, aku pasti akan mencari cara agar bisa menemukan bukti kekejam calon gubernur itu, Dafa Pratama."


...****************...


Tuan Rama menghela nafas beberapa kali, sepertinya dia telah membuat kecewa Tuan Dafa, padahal dia hanya ingin mencoba menjadi ayah yang baik untuk putrinya.


Dia tidak tau bagaimana nasib perusahaannya nanti, apakah dia harus menerima tawaran Adam Alvarez?


"Tuan maaf, ada kiriman paket untuk Tuan." seorang ART disana memberikan sebuah kiriman paket kepada Tuan Rama.


"Dari siapa?" tanya Tuan Rama.


"Saya tidak tau, Tuan. Tidak ada nama pengirimnya."


Tuan Rama segera mengambil paket, dia membuka bungkusan paket itu, Tuan Rama mengerutkan keningnya, ternyata isinya sebuah satu keping kaset DVD dan juga satu buah voice recorder.

__ADS_1


Tuan Rama tidak mengerti untuk apa ada orang yang mengirimkan kedua benda itu kepadanya.


__ADS_2