A Dangerous Man ( Balas Dendam Sang Mafia )

A Dangerous Man ( Balas Dendam Sang Mafia )
Pertempuran Sengit


__ADS_3

Nadine menutup mulutnya rapat-rapat dengan tangan, di sela-sela lubang kecil dia melihat Erza yang sedang mencari keberadaannya. Pria itu terlihat sangat mengerikan.


Erza tertawa kecil, "Hahaha... kamu tidak akan bisa melarikan diri dari sini, aku tau kamu pasti bersembunyi di sekitar sini, Nadine Leonardo."


Erza mencari keberadaan Nadine di ruang tempat Nadine bersembunyi, dia mengobrak-abrik semua yang ada disana, menendang sebuah meja, kemudian membuka lemari satu persatu yang ada disana.


"Dimana kamu bersembunyi cantik?"


"Rupanya kamu ingin bermian-main dulu denganku, sayang."


Erza berkata seperti itu sambil terkekeh, kemudian dia bersiul.


Nadine sangat ketakutan sekali, badannya gemeteran, sampai keringat dingin bercucuran di dahinya. Dia masih menutup mulutnya dengan tangan, Nadine tidak boleh bersuara sedikitpun.


Jantung Nadine berpacu dengan cepat begitu melihat Erza kini berada di depan lemari tempat dia bersembunyi, dia memejamkan matanya, tamatlah sudah riwayatnya, dia tidak bisa melarikan diri lagi, apalagi tubuhnya masih merasakan sakit akibat kecelakaan.


Ezra memegang gagang pintu lemari, "Apa kamu mungkin didalam lemari ini, nona manis?"


Begitu Erza membuka pintu, Erza terkejut saat merasakan ada sebuah paku besar menusuk perutnya.


Jleb...


"Arrrggghhh!" Erza mengerang kesakitan.


"Betina sialan!" Erza memegang perutnya yang terluka.


Ternyata di dalam lemari itu terdapat banyak paku, entah digunakan untuk apa oleh The Bloods.


Tangan Nadine gemeteran, untuk pertama kalinya dia melukai seseorang, dia segera melarikan diri, namun langkahnya berhenti saat melihat Darko berada dihadapannya.

__ADS_1


Darko menodongkan sebuah pipa besi ke arah Nadine, "Haruskah aku membunuhnya, bos?"


Nadine berusaha untuk melawan Darko, dia lebih memilih berusaha untuk terus melawan walaupun mungkin akhirnya dia akan mati tapi dari pada dia harus berdiam diri tanpa melakukan perlawanan apapun.


Namun Darko adalah pria yang sangat tangguh, dengan keras dia memukul kepala Nadine yang diperban itu dengan pipa besi.


Buukkk...


Nadine merasakan kepalanya pening, sampai ada darah mengalir di kepalanya, dia tidak bisa menjaga keseimbangan tubuhnya, hingga dia ambruk ke lantai.


Zdoor...


Zdoor...


Mereka terkejut saat mendengar suara tembakan, Erza sambil meringis menyumpal perutnya yang terluka dengan tangan, dia mencoba untuk mengecek apa yang terjadi di lantai bawah.


"Brengsek!" Erza mengumpat.


...****************...


Di Markas The Bloods terjadi peperangan hebat antara The Bloods dan Athena, tentu saja Marvin berada disana bersama Om Theo.


Mereka saling menembak, ada juga yang saling bertarung dengan pedang ataupun dengan tangan kosong.


Darahpun telah berceceran dimana-mana, dan banyak mayat yang bergeletakan diantara dua kubu. Keduanya sama-sama kuat, gang Athena memang sering memenangkan perang, namun saat ini yang mereka hadapi adalah tuan rumah, The Bloods memang telah merajai wilayah di negeri ini.


Marvin dan Om Theo mengeluh, ternyata jumlah The Bloods jauh dari perkiraan mereka, mereka seakan tiada habisnya.


"Mereka sangat banyak sekali." keluh Om Theo.

__ADS_1


"Sepertinya The Bloods meminta bantuan ke gang lain, mereka sudah menduga kita pasti akan menyerangnya."


Memang benar, Theo Bloods bekerja sama dengan gang lain di Indonesia, untuk memperbanyak jumlah mereka, tentu saja semua biaya itu Erza dapatkan dari Tuan Dafa.


"Biar om yang cari Nadine, kamu bantu lawan mereka." Sebagai seorang ayah, Om Theo ingin yang terdepan menolong putrinya.


Marvin menganggukkan kepala, walaupun sebenarnya dia juga sangat mengkhawatirkan Nadine.


Namun sebagai ketua Athena, dia yang harus memimpin Athena dalam peperangan ini.


Om Theo segera berlari ke lantai atas, dari kejauhan ada salah satu anggota The Bloods yang sedang membidikan senjata ke arah Om The.


Zdoor...


Marvin segera menebak orang yang akan menembak Om Theo itu.


Bukan hanya satu, ada juga beberapa orang yang akan menembak Om Theo yang sedang berlari melewati anak tangga menuju lantai kedua.


Marvin segera menembak satu persatu diantara mereka.


Zdoor...


Zdoor...


Kemudian dia juga menembak orang yang sedang berdiri dibelakangnya, hampir saja orang itu akan menembak Marvin.


Marvin melihat Dewangga yang baru datang bersama Dami setelah mengurus semua anak panti, mereka datang bersama beberapa anggota yang Athena yang sudah ikut andil dalam mengepung panti.


"Biar aku yang bantu disini, kamu bantu Tuan Theo." Dewangga tau Marvin pasti sangat mengkhawatirkan Nadine.

__ADS_1


Marvin menganggukkan kepala, dia segera berlari ke lantai atas untuk menyusul Om Theo.


__ADS_2