A Dangerous Man ( Balas Dendam Sang Mafia )

A Dangerous Man ( Balas Dendam Sang Mafia )
Bertarung Pedang


__ADS_3

Marvin bukan pria yang gampang menangis, dia hanya bisa beberapa kali menghembuskan nafasnya dengan panjang, menahan rasa sesak di dadanya.


Marvin memandangi laptop yang memperlihatkan rekaman CCTV di mansionnya, disana terlihat sepi, biasanya dia selalu memperhatikan pergerakan Nadine melalui rekaman CCTV itu. Terkadang tingkah laku Nadine membuatnya tertawa, kadang membuatnya menjadi gemas.


Marvin menutup laptopnya, dia harus melupakan wanita itu mulai sekarang. Dia meyakinkan hatinya kalau dia tidak pernah jatuh cinta kepada Nadine.


Dewangga masuk ke dalam ruangan tersebut, di Markas Athena. "Kamu baik-baik saja?"


"Tentu saja, aku baik-baik saja."


"Sebenarnya apa yang terjadi diantara kamu dan adikmu? Mengapa kamu ingin sekali melindunginya?"


"Karena dia adikku, makanya aku harus melindunginya."


"Tapi..." Dewangga merasa sepertinya ada yang menjanggal antara Marvin dan Nadine, namun dia tidak ingin ikut campur jika Marvin tak menghendakinya.


"Tuan Theo menyuruhmu untuk datang ke Mansionnya." Dewangga menyampaikan amanat dari Om Theo.


Marvin hanya diam, dia yakin Omnya pasti marah sekali padanya. Dia telah mengkhianati kepercayaan Om Theo.


...****************...


Marvin telah tiba di mansion milik Om Theo, kedatangannya disambut oleh beberapa pelayan disana, kemudian dia bertanya kepada mereka. "Dimana Om Theo?"


"Tuan Theo sedang berada di tempat latihan, Tuan." jawab salah satu pelayan.


Marvin pun pergi ke tempat khusus latihan, yang tempatnya berada di belakang mansion, dia melihat Om Theo yang sedang duduk disana, sepertinya Om Theo sengaja menunggu kedatangan Marvin disana.

__ADS_1


"Om..."


Prang...


Om Theo melemparkan sebuah pedang kepada Marvin.


Dulu memang mereka sering latihan bertarung pedang.


"Bertarunglah denganku!"


Marvin ingin menolak karena dia tau Om Theo terlihat marah sekali padanya. Sepertinya pria itu ingin melampiaskan kekesalannya dengan cara bertarung pedang, Marvin tidak bisa melukainya. "Tapi..."


Belum sempat Marvin meneruskan perkataannya, karena Om Theo tanpa aba-aba menyerang dirinya, menghunuskan pedang ke arahnya.


Dengan cepat Marvin membawa pedang yang tadi dilempar oleh Om Theo, dia menangkis pedang ya hampir mengenai tubuhnya.


Marvin segera berdiri, sementara Om Theo terus menyerang. Om Theo mengayunkan pedang untuk menyerang Marvin, sementara Marvin hanya bisa berusaha untuk menangkis pedang itu, dia tidak berniat untuk melawan Om Theo, hanya berusaha untuk menahan serangan Omnya itu.


Trang!


Trang!


Srettt...


Om Theo berhasil melukai lengan Marvin.


"Shhh....!" Marvin hanya bisa meringis, namun dia tidak mungkin melawan Omnya itu, walaupun sebenarnya mungkin saja tenaganya lebih besar di bandingkan dengan Om Theo, jika dia melawan bisa saja dia menang di dalam pertarungan ini.

__ADS_1


Marvin mencoba menangkis kembali, pergerakannya begitu cepat sampai pedang Om Theo patah, terbagi menjadi dua bagian.


Marvin terengah-engah, dalam keadaan seperti ini seharusnya dia menghunuskan pedang pada Om Theo, namun dia malah menjatuhkan pedangnya ke lantai. Padahal jika Om Theo adalah musuhnya, mungkin dia telah mati di tangan Marvin.


"Ini kelemahanmu, kamu selalu segan padaku. Kamu tidak bisa melawanku. Karena apa? Karena aku adalah Ommu. Karena itu aku meragukanmu, apa kamu bisa menghancurkan ayahmu?" Om Theo mengucapkannya dengan pandangannya yang dingin.


"Aku bisa melakukannya."


"Bahkan pada adikmu sendiri pun kamu tidak bisa."


"Aku memang tidak bisa melukainya."


"Kenapa?"


"Karena dia tidak bersalah."


"Apa dulu ibumu bersalah sampai dia dibunuh secara tragis?"


Marvin terdiam mendengarnya. Memang faktanya ibunya dibunuh tanpa melakukan kesalahan apapun. Dia memegang lengannya yang terluka.


"Kembalilah ke Australia. Disana masih banyak yang harus kamu urus, sekarang ini kamu adalah ketua Athena. Banyak musuh di Australia yang ingin menghancurkan Athena. Biar urusan di Indonesia, Om yang urus."


Marvin menggelengkan kepala, "Gak, Om. Aku tidak akan pulang sebelum aku berhasil menghancurkan mereka."


"Kalau begitu apa kamu sanggup membunuh Nadine Leonardo di hadapanku? Apa akan mempercayaimu jika kamu bisa melakukannya."


Marvin tercengang mendengarnya. Sepertinya Om Theo ingin menguji hatinya, dia mencurigai kalau Marvin memiliki perasaan pada Nadine. Marvin terpaksa menganggupinya. "Aku akan melakukannya, tapi bukan sekarang, karena ada hal yang lebih penting dari itu. Aku akan menghancurkan Leon Grup."

__ADS_1


Pembicaraan mereka terhenti begitu melihat Asisten Zack datang kesana, terlihat dia membawa sebuah berkas tentang Markus. "Tuan, saya sudah menemukan informasi tentang Markus."


Marvin mengkerutkan keningnya, untuk apa Om Theo mencari informasi tentang orang yang sudah mati.


__ADS_2