A Dangerous Man ( Balas Dendam Sang Mafia )

A Dangerous Man ( Balas Dendam Sang Mafia )
Akhir Peperangan


__ADS_3

Marvin melihat bom di rompinya, ternyata sudah menyisakan waktu 4 menit, dia masih memiliki sedikit waktu untuk memberikan pelajaran kepada Erza.


Tak ada pilihan lain, Erza segera menyerang Marvin. Mereka pun berkelahi, saling menyerang.


Sreett...


Erza berhasil melukai lengan Marvin dengan pisau.


"Shhh..." Marvin meringis.


"Hahaha..." Erza tertawa puas, "Sampai kapanpun kamu gak akan bisa melawanku."


Erza ingin melukai Marvin kembali.


Marvin menahan tangan kanan Erza, dia melilitkan tangan itu ke belakang, sehingga pisau itu terjatuh.


krek!


"Arrrggghhh!" Erza menjerit merasakan tangannya dibuat patah oleh Marvin.


Bukan hanya tangan kanan, Marvin juga mematahkan tangan kiri Erza.


"Arrrggghhh... Arrrggghhh!"


Erza meraung-raung kesakitan.


Marvin menendang perut Erza yang terluka, sehingga tubuh Erza tersungkur ke lantai.


"Sudah banyak nyawa yang kamu bunuh, kamu harus tau bagaimana sakitnya ketika kamu dibunuh oleh seseorang. Apa aku harus mematahkan kakimu juga?"


"Ja-jangan!"


Marvin mencengkram pergelangan kaki Erza, kemudian dia mematahkannya juga.


Krek!


"Arrrggghhh!"

__ADS_1


Erza menjerit, dia sudah tidak sanggup berdiri, karena kaki kiri dan kedua tangannya sudah patah. Erza hanya bisa tengkurap di lantai.


Marvin melihat ada anggota The Bloods yang berlarian ke lantai atas untuk menolong Erza, sepertinya mereka sudah berhasil menemukan dan menjinakkan bom di lantai dua.


Marvin segera membuka rompi yang dia pakai. Waktu tersisa 30 detik lagi. Lalu dia memakainya ke badan Erza. Erza ingin berontak, namun dia tidak memiliki kekuatan.


"Hadiah perpisahan untukmu!"


Marvin segera berlari menendang jendela.


Prangg...


Marvin menjatuhkan dirinya ke bawah.


Bom itu pun meledak.


Duarrrr...


"Arrrggghhh!" Tubuh Erza hancur seketika.


Boomm...


Booommm...


Booommm...


Byurrr...


Marin menjatuhkan dirinya ke sungai yang ada di belakang Markas, dia sudah memperhitungkan semuanya, sebelum berani melakukan semua itu.


Marvin muncul ke permukaan air setelah memastikan Markas The Bloods benar-benar sudah hancur.


Marvin memegang lengannya yang terluka, sehingga air disana bercampur dengan warna darah, dia melihat bangunan yang megah itu hancur lebur bersama semua anggota The Bloods, tak ada yang tersisa.


Asap hitam melambung tinggi ke atas menutupi cerahnya awan biru.


The Bloods kini hanyalah tinggal sebuah nama, semoga tidak akan ada lagi penjahat seperti mereka yang tega membunuh orang tidak bersalah dengan begitu sadis, untuk memperkaya dirinya sendiri.

__ADS_1


...****************...


Diwaktu yang bersamaan, hari ini sedang berlangsungnya acara pemilihan umum gubernur. Dan Tuan Dafa menjadi pemenangnya, 70 persen masyarakat di ibu kota ini memilih dirinya.


Tuan Dafa sedang berpidato di atas panggung, yang disiarkan langsung di seluruh channel televisi di negeri ini.


"Terimkasih sudah memilih saya dan mempercayakan saya sebagai gubernur di kota ini, saya janji saya akan menjadi pemimpin yang baik, selalu melindungi rakyat, dan memberantas kemiskinan penduduk yang saya pimpinan. Walaupun sebenarnya saya merasa tidak pantas, masih banyak yang lebih baik dari saya. Tapi saya menjadi gubernur bukan untuk diri saya sendiri, tapi untuk kalian semua."


Prok...


Prok...


Semua orang yang hadir disana bertepuk tangan, memeriahkan kemenangan Tuan Dafa.


"Hidup Tuan Dafa!"


"Hidup Tuan Dafa!"


"5 tahun lagi anda harus menjadi presiden, Tuan Dafa."


Kemeriahan mereka tiba-tiba menjadi bungkam saat ada sekelompok polisi datang ke gedung tersebut, mereka tidak mengerti untuk apa polisi datang kesana.


Salah satu polisi memborgol tangan Tuan Dafa, "Pak Dafa Pratama, anda kami tahan sebagai tersangka atas kasus perdangangan manusia."


Ternyata Marvin menyuruh Dewangga dan Dami untuk menyerahkan semua anak panti ke polisi dan menyerahkan bukti-bukti kejahatan Tuan Dafa. Setelah itu baru mereka segera pergi ke Markas The Bloods.


Seketika suasana disana menjadi ramai kembali, bukan ramai karena sebuah dukungan, tapi ramai umpatan dan cacian.


"Kejam sekali anda Tuan Dafa."


"Ternyata anda manusia berhati iblis."


"Kamu tidak pantas menjadi gubernur!"


Kemudian di salah satu berita sebuah televisi memberitakan kejadian yang menggemparkan.


"Sepertinya para pahlawan misterius telah beraksi kembali, ada banyak anak-anak dari panti asuhan Harapan Bunda dikirim oleh beberapa bus ke kantor polisi, namun sayangnya supir bisa tidak bisa melihat wajah mereka karena wajahnya ditutupi masker, para supir bus hanya disuruh mengantarkan anak-anak ke kantor polisi. Selain itu mereka mengirim bukti-bukti kejahatan yang dilakukan oleh Tuan Dafa Pratama."

__ADS_1


"Ternyata Tuan Dafa Pratama telah menjadi tersangka dalam praktek human trafficking, dan panti asuhan yang didirikan olehnya, itu semua palsu. Dia hanya ingin menampung anak-anak yang terbuang untuk dijual ke sebuah organisasi kejahatan."


__ADS_2