
Dua hari berlalu...
"Jangan!"
"Jangan bawa mobilku!"
Damar mengamuk karena semua harta papanya telah disita, rupanya Tuan Dafa memiliki hutang yang sangat besar, karena itu dia nekad terjun dalam bisnis human trafficking.
Itu semua karena Tuan Dafa terlalu berambisi untuk menjadi seorang pemimpin, dia sampai banyak mengeluarkan uang untuk menarik perhatian masyarakat.
Damar tidak terima semua barang-barang di Mansionya disita, sampai dia terus saja protes dan memaki-maki orang yang bertugas menyita semua harta Tuan Dafa.
Damar diseret oleh mereka agar keluar dari Mansion, lalu di dorong hingga dia terjatuh.
"Pergilah dari sini, semuanya bukanlah milik ayahmu lagi. Ayahmu adalah sampah masyarakat."
...****************...
Kondisi Dami sudah mulai baikan, dan Dewangga selalu setia menjaga Dami di rumah sakit. Bukan hanya menjaga, pria itu pun yang merawat sang pujaan hati.
Dami nampak malu saat Dewangga akan menyuapinya, dia duduk pinggiran brankar menghadap Dewangga yang sedang duduk di kursi. "Biar aku makan sendiri aja!"
"Kondisi kamu belum sepenuhnya pulih, gak apa-apa, biar aku yang suapin kamu ya."
Dami terpaksa mengiyakan, dia membiarkan Dewangga menyuapinya. Setelah selesai makan, Dewangga memberikan segelas air putih untuk Dami.
__ADS_1
Dami meneguk segelas air putih itu, lalu menyimpan gelasnya di atas meja.
"Berkat dirimu, akhirnya kita bisa menyelamatkan anak-anak panti, sekarang mereka sudah ditempatkan di panti asuhan yang sudah jelas terakreditasi."
Dami merasa lega mendengar perkataan dari Dewangga, "Syukurlah." Sebagai anak yang pernah tinggal di panti asuhan, Dami pasti merasakan bagaimana perasaan mereka.
Dewangga ingin mengatakan sesuatu, namun dia malu untuk mengatakannya, karena sebentar lagi dia harus kembali ke Australia, sementara Dami akan menjadi bodyguard Nadine. "Mmm... Dami, bagaimana perasaanmu padaku?"
Dami mengerutkan keningnya, "Maksudnya?"
Dewangga rasa tidak pas bertanya seperti itu pada Dami saat Dami kondisinya belum stabil. Walaupun dulu wanita itu pernah menolak cintanya, tapi berharap Dami memiliki perasaan yang sama dengannya.
"Hmm... ya sudah, lupakan saja. Nanti saja kalau.. mmhh."
Perkataan Dewangga berhenti saat Dami tiba-tiba menempelkan bibir mereka, membuat Dewangga membulatkan matanya.
Dami lebih suka memperlihatkan rasa sukanya dengan sebuah tindakan, daripada dengan ucapan. Dulu dia menolak Dewangga karena tidak tertarik untuk berkencan, namun dia tidak ingin membohongi hatinya kalau dia memang memiliki perasaan pada pria itu.
Dewangga tersenyum manis, Dami telah membuat hatinya berbunga-bunga, kedua tangan Dewangga memegang wajah Dami, memandanginya dengan mata berbinar-binar, kemudian mereka berciuman kembali.
Bibir mereka saling bertautan, saling menyesap, saling membelitkan lidah dengan sempurna. Akhirnya Dewangga tahu bahwa Dami mencintainya. Sebuah kenangan yang tidak akan terlupakan oleh Dewangga.
...****************...
Di rumah sakit yang sama, tepatnya di rumah sakit milik Dokter Aldi. Nadine telah siuman, begitu dia membukakan kedua matanya, dia melihat ada Aline yang sedang duduk di samping brankar.
__ADS_1
Mata Nadine berkaca-kaca melihat wanita yang selama ini menjadi teman chatingannya ternyata dia adalah ibunya, orang yang telah melahirkannya.
Begitu juga Aline, dia menangis penuh haru, akhirnya Nadine telah siuman, "Nadine, anakku. Ini ibumu, nak."
Nadine ikut menangis, dia memeluk Aline dengan erat. "Mama!"
Kedua wanita itu menangis tersendu-sendu, saling memeluk. Pertemuan ibu dan anak yang sudah sekian lama terpisah begitu mengharukan.
Om Theo masuk ke dalam, matanya berkaca-kaca melihat anak dan istrinya menangis dan saling berpelukan.
Kemarin Om Theo sudah menikahi Aline, dia memutuskan untuk tinggal di Indonesia, agar bisa hidup bersama dengan anak dan istrinya. Kemudian dia memeluk Aline dan Nadine secara bersamaan.
Sudah satu jam Om Theo, Nadine, dan Aline saling berbagi cerita bagaimana tentang kehidupan mereka, mereka akan hidup menjadi keluarga, karena itu mereka harus mengetahui banyak hal tentang kepribadian masing-masing.
Kemudian mereka tertawa bersama saat Om Theo bercerita hal yang lucu yang pernah Om Theo alami, cerita Om Theo telah sukses membuat Nadine dan Aline tertawa.
Tawa Nadine memudar begitu menyadari dia belum melihat Marvin, dia sangat merindukan pria itu.
Om Theo tau siapa yang sedang dipikirkan oleh Nadine saat melihat Nadine sedikit-sedikit menatap ke arah pintu, seakan sedang menunggu seseorang datang.
"Hari ini Marvin akan kembali ke Australia. Ada musuh menyerang Markas Athena di Australia, karena itu dia harus membereskannya."
Nadine menganggukkan kepala, dia harus menyembunyikan rasa sedihnya. Sedih karena hubungan dia dengan pria itu tidak ada kejelasan sama sekali, dia tidak tau bagaimana perasaan Marvin padanya.
Padahal dia tau siapa Marvin sebenarnya, namun bagi Nadine dia tetaplah pria misterius, yang tak bisa ditebak bagaimana isi hatinya.
__ADS_1
"Kapan dia akan kembali?"
OM Theo menggelengkan kepala, dia pun tak tau Marvin akan kembali atau tidak.