A Dangerous Man ( Balas Dendam Sang Mafia )

A Dangerous Man ( Balas Dendam Sang Mafia )
Menyelamatkan Anak-anak


__ADS_3

Besoknya...


Keberadaan Nadine belum juga ditemukan. Walaupun Dewangga sudah beberapa kali mencoba melacak keberadaan Markas baru gang The Bloods, namun usahanya selalu nihil.


Dewangga baru kali ini merasakan memiliki saingan yang sepadan dengannya.


Tentu saja Om Theo sangat terpukul mendengar kabar tentang putrinya. Sekarang dia telah tiba di Indonesia bersama Aline. Om Theo segera menyuruh pasukan khusus Athena untuk mencari keberadaan Nadine.


Dami dan Dewangga hari ini menyamar menjadi Tuan Gilang dan Nona Manda kembali, mereka harus terlihat seperti sepasang suami-istri lagi, seperti waktu itu.


Mereka sudah menceritakan mengenai kejanggalan di panti asuhan Harapan Bunda kepada Marvin. Walaupun pikiran Marvin sedang kalut karena tidak bisa menemukan keberadaan Nadine, dia harus bersikap profesional di depan anak buahnya, dia menyuruh Dami dan Dewangga untuk menggali lebih dalam tentang panti tersebut.


Walaupun Marvin merasa Tuan Dafa tidak ada kaitannya dengan misi balas dendam, tapi dia ingin gang Athena menyelamatkan anak-anak di panti asuhan itu.


Karena itu Dami dan Dewangga datang lagi ke panti asuhan Harapan Bunda, mereka ingin menyumbangkan mainan kepada anak-anak di panti asuhan tersebut. Namun mereka memiliki permintaan untuk bertemu langsung dengan anak-anak panti disana, mereka ingin mereka lah yang memberikan mainan langsung kepada anak-anak di panti itu.


Bu Lara, sebagai Kepala Pengurus panti asuhan Harapan Bunda, tentu saja dia tidak ingin terlihat ada hal yang mencurigakan di panti, karena itu dia terpaksa mengizinkannya.


Ternyata benar, jumlah anak-anak disana sangat banyak sekali, Dewangga memperkenalkan dirinya bersama Dami.


"Perkenalkan Om adalah Gilang Suptra, dan wanita cantik disamping Om ini adalah Manda Fhelisia. Kami ingin memberikan mainan untuk kalian semua."


Anak-anak di panti berseru, mereka senang sekali mendengarnya, "Hore!"


Sementara mata Dami beredar mencari anak bernama Feri. Namun dia tidak menemukan anak itu hari ini.


Dami segera bertanya kepada Bu Lara, "Apa anak yang bernama Feri itu sudah di adopsi?"


Bu Lara tidak mengerti, mengapa Dami menanyakan Feri kepadanya. "Iya, kemarin sudah ada orang tua angkat yang mengadopsinya."


Dami menghela nafas, sepertinya dia gagal menyelamatkan anak itu.


Ada seorang anak berusia 8 tahun mendengarkan percakapan mereka, "Kak Feri baru saja pergi dibawa tiga om-om. Bukan kak Feri saja yang dibawa pergi, tapi juga ada ka Tari dan kak Dimas."

__ADS_1


Bu Lara panik mendengarnya, dia segera merangkul anak itu. Kemudian dia terkekeh, "Biasalah anak-anak, suka sekali mengarang cerita."


Anak berusia 8 tahun yang bernama Redi itu, dia hanya bisa menengadah ke atas menatap wajah Bu Lara, mungkin karena dia tau Bu Lara sedang berbohong.


Dami sudah tak tahan lagi, dia menarik lengan Bu Lara, lalu menodongkan pistol ke arah kepalanya. "Cepat katakan kepadaku, mereka dibawa kemana?"


Semua anak ketakutan melihatnya, Dewangga mencoba menenangkan anak-anak disana. "Kalian semua disini harus tenang, Om dan tante datang kesini untuk menyelamatkan kalian."


Ada 11 pengurus dan 3 security disana, mereka mencoba untuk menyelamatkan Bu Lara, bahkan security disana ada yang membawa senjata tajam. "Cepat lepaskan Kepala Pengurus kami."


Dewangga menekan earpiece di telinganya, "Cepat kepung panti asuhan ini, jangan biarkan siapapun berlari dari sini."


Ternyata bukan hanya Dewangga dan Dami yang datang kesana, tapi banyak anggota Athena juga yang di utus oleh Marvin.


Dewangga menodongkan pistol ke arah para security dan para pengurus disana, membuat mereka ketakutan. Bahkan security yang membawa senjata tajam segera menjatuhkan senjatanya ke lantai.


Bu Lara mencoba melawan Dami, dia menyiku perut Dami dengan keras, lalu mencoba untuk merebut pistol dari Dami, namun Dami dengan cepat menendang perut Bu Lara, sehingga dia tersungkur ke lantai.


"Arrrggghhh!" Bu Lara meringis, dia ketakutan saat Dami mengarahkan kembali pistol ke arahnya.


"Tolong biarkan saya pergi, saya punya suami yang harus saya rawat. Saya gak boleh mati, saya mohon." Salah satu pengurus disana memohon untuk dilepaskan. Wanita itu bernama Hanum.


"Aku akan membiarkan kamu pergi, asalkan kamu beritahu kami kemana anak-anak itu di bawa pergi." Dewangga memberikan sebuah penawaran.


"Tuan Dafa akan membunuhmu jika kamu mengatakannya." Bu Lara melarang Hanum untuk bicara jujur.


Zdoor...


Dewangga menembakkan peluru ke atas, untuk menakuti semua yang ada disana, sementara anak-anak yang ada di panti asuhan itu dibawa keluar oleh para anggota Athena yang lain.


Kini di dalam panti itu hanya ada 11 pengurus, 3 security, Bu Lara, dan juga Dami beserta Dewangga.


"Mereka akan diserahkan ke Markas The Bloods. Kami tidak tau dimana Markas The Bloods itu, tapi saya melihat mereka mengemudi ke arah jalan Sukareksa." Hanum terpaksa berkata jujur agar dia tidak dibunuh oleh Dewangga dan Dami.

__ADS_1


...****************...


Sampai sekarang Marvin tiada hentinya mencari keberadaan Nadine, dia sudah mengutus anak buahnya untuk mencari dimana letak Markas The Bloods yang baru.


Marvin sedang berada di luar panti, berada di dalam mobilnya, menyadarkan dirinya ke jok mobil. Hati siapa yang tidak tenang jika orang yang sangat dia cintai berada dalam bahaya, bahkan dia mengalami kesulitan untuk menemukannya.


Drrrtt... Drrrtt...


Marvin mendapatkan kabar dari Dewangga.


[Ada tiga anak yang akan dibawa ke Markas The Bloods, mereka mengemudi ke arah jalan Sukareksa.]


Marvin menghela nafas, ternyata niat baik mereka telah memberikan jawabannya. Berniat untuk menyelamatkan anak-anak di panti, mengantarkan dirinya untuk pergi ke tempat Nadine disekap , dan menemukan sebuah fakta bahwa Tuan Dafa benar-benar memiliki bisnis haram dalam praktek human trafficking, bekerjasama dengan The Bloods.


Marvin segera menghubungi Om Theo.


[Om, sekarang aku akan menuju Markas The Bloods.]


Marvin sengaja mengatur ponselnya agar Om Theo bisa melacak keberadaan Marvin, dan mengikutinya menuju Markas Theo Bloods.


Setelah itu, Marvin mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi.


...****************...


Benar saja, ketiga anak itu sangat ketakutan sekali, mereka berada di jok paling belakang. Kaki dan tangan mereka telah diikat, dan mulut mereka ditutupi oleh lakban.


Ckiittt...


Ketiga anggota The Bloods kaget tiba-tiba ada sebuah mobil sport berhenti tepat di depan mereka, membuat mereka terpaksa menghentikan mobil.


"Brengsek, siapa yang mencoba menghalangi jalan kami." salah satu diantara ketiga orang itu mengumpat.


Mereka bertiga segera keluar dari mobil untuk menyerang pemilik mobil sport yang telah menghalangi jalan mereka.

__ADS_1


Mereka bertiga menghentikan langkah, begitu melihat siapa yang keluar dari mobil sport itu.


Siapa yang tidak mengenali sosok Adam Alvarez alias Marvin Leonardo, pria itu kini berdiri dihadapan mereka. Marvin sudah menunjukkan jati dirinya, dia tidak perlu menutupi wajahnya lagi dengan masker.


__ADS_2