A Dangerous Man ( Balas Dendam Sang Mafia )

A Dangerous Man ( Balas Dendam Sang Mafia )
Kenyataan Tentang Nadine


__ADS_3

Nadine beberapa kali melihat jam di handphonenya, dia sudah lama menunggu kedatangan Marvin. Namun pria itu tak kunjung datang. Bahkan membalas pesannya pun tidak, Marvin hanya membaca pesan darinya saja.


"Maaf Nona, sudah jam 10 malam, cafe ini akan segera tutup." Seorang waitress dengan merasa tidak enak hati menyuruh Nadine untuk pergi dari cafe tersebut, karena cafe akan segera ditutup.


Nadine terpaksa harus keluar dari cafe Star, dia berjalan di tepi pantai di malam hari itu, kemudian mencoba menelpon Marvin. Namun Marvin tidak mengangkat telepon darinya.


"Sepertinya dia tidak akan datang." lirihnya.


Untuk apa juga Marvin harus datang? Dia tak ada artinya untuk pria itu. Marvin hanya memanfaatkan keluguan Nadine, membuat Nadine jatuh cinta kepada pria itu. Membuat dia selalu terbayang kenangan indah mereka saat berada di kapal pesiar. Dan dia sering merasakan hatinya sakit saat Marvin meninggalkannya begitu saja seperti sampah.


Jika seandainya ada obat untuk menghapus ingatan, dia pasti ingin sekali menghapus semua ingatan tentang Marvin. Dia sangat membenci dirinya sendiri karena bisa mencintai dan membenci pria itu dalam waktu bersamaan. Pria yang sudah menghancurkan perusahaan Leon Grup.


"Apakah mungkin bukan dia orang yang menolongku?" Jika mengingat bagaimana sikap Marvin yang nampak acuh padanya saat di acara makan malam tadi. Mungkin karena hatinya terlalu berharap bahwa mungkin saja Adam Alvarez yang telah menolongnya, berharap pria itu memiliki perasaan yang sama dengannya.


Namun ternyata dia cinta sendirian. Dia seperti wanita bodoh mencintai orang yang sudah menculiknya dan sekarang dia sudah menghancurkan Leon Grup. Ada kemungkinan pria itu juga yang mencoba menembaknya.


Nadine menghela nafas panjang, dia berharap perasaan ini menghilang dari hatinya. Dia tidak boleh membiarkan pria itu menyakiti keluarganya. Dia harus pura-pura tidak tau bahwa Adam Alvarez adalah orang yang menghancurkan perusahaan Leon Grup. Dia harus fokus ke tujuan awal, mengikuti sejauh mana permainan pria itu.


...****************...


Ternyata Marvin lebih memilih menemui Sonya, walaupun sebenarnya hatinya ingin sekali bertemu dengan Nadine, namun Marvin terus memperingati hatinya, bahwa dia tidak boleh goyah oleh seorang wanita. Dia harus fokus ke tujuan balas dendamnya.


Sebenarnya tempat yang dia kunjungi pertama kali adalah cafe Star, Marvin hanya memandangi Nadine dari kejauhan, tadinya dia hampir lupa diri, dia ingin memilih bertemu dengan Nadine.


Marvin harus ingat satu hal, Nadine Leonardo adalah adiknya. Anak dari ayahnya. Mereka tidak akan pernah bisa bersama. Dia tidak boleh melupakan kenyataan itu.


Karena itu Marvin segera menjalankan mobilnya untuk menemui Sonya. Dia harus fokus ke misi balas dendamnya, setelah menghancurkan semuanya, dia akan pulang secepatnya ke Australia. Melupakan semuanya tentang Nadine.


Malam ini adalah malam yang paling bahagia untuk Sonya, akhirnya orang yang ditunggu telah datang. Sonya sengaja mengenakan lingerie transparan, dia yakin seorang Adam Alvarez pasti sudah memiliki jam terbang yang banyak di atas ranjang bersama banyak wanita. Sonya sudah membayangkan bagaimana perkasanya pria tersebut.


Marvin duduk di tepi ranjang, dia memperhatikan ranjang yang sudah dihiasi dengan taburan bunga mawar.

__ADS_1


Sonya tersipula malu, "Aku sengaja menaburi bunga mawar disana karena malam ini adalah malam special untuk kita."


Sonya duduk dipangkuan Marvin, di membelai wajah tampan Marvin. Baru kali ini dia merasakan jatuh cinta yang sesungguhnya kepada seorang pria. Tak peduli jika usia mereka terpaut 17 tahun.


Penampilan Sonya sama sekali tak membuat Marvin terangsang, bahkan di Australia pun pernah ada yang telanjang di depannya, dia tidak pernah terangsang oleh wanita manapun. Hanya satu wanita yang bisa membuat pusakanya terbangun, siapa lagi kalau bukan Nadine Leonardo. Terkadang dia merasa muak mengapa harus adiknya yang bisa membangunkan hasratnya.


Marvin pura-pura tersenyum, membiarkan Sonya meraba-raba tubuhnya, namun dia menahan tangan Sonya saat tangan wanita itu hampir saja menyentuh miliknya dari luar.


"Padahal aku ingin sekali menyentuhnya dan melihatnya, apalagi merasakannya." Sonya merengek manja, wanita itu masih duduk di pangkuan Marvin.


"Walaupun usiaku 45 tahun, tapi sangat hot sekali diatas ranjang. Aku bisa memuaskan kamu." Sonya mencondongkan wajahnya untuk mencium bibir Marvin.


Marvin menghalangi bibir mereka dengan tangan, hampir saja bibir mereka bersentuhan. Dia tidak sudi berciuman dengan perempuan itu.


"Bersabarlah!" Marvin mengedipkan matanya.


Marvin mengangkat tubuh Sonya agar Sonya duduk disampingnya, padahal tadinya Sonya hampir saja berseru, dia pikir Marvin akan segera membaringkan tubuhnya di atas ranjang lalu menindih tubuhnya.


Marvin mengajak Sonya bersulang.


Sebenarnya Sonya sedikit kecewa karena dia ingin langsung saja kebagian intinya. Tapi dia harus bersabar, karena mungkin saja Marvin terbiasa minum dulu sebelum melakukan malam panas dengan wanita-wanitanya.


"Aku paling suka dengan wanita yang kuat minum." Marvin mengatakannya dengan tersenyum menggoda. Membuat Sonya dibuat semakin klepek-klepek pada pria itu.


"Oh aku juga jago minum." Padahal aslinya tidak, Sonya gampang sekali mabuk jika meminum beberapa gelas apapun minuman beralkohol itu. Sonya langsung meneguk satu seloki whiskey.


Marvin menuangkan kembali whiskey ke dalam seloki milik Sonya. Terus dia lakukan sampai wanita itu benar-benar teler sambil memberikan banyak pujian padanya agar Sonya semakin bersemangat meminum whiskey yang telah dia berikan. Sementara dirinya tidak minum sedikitpun, hanya pura-pura minum.


Sonya ingin memeluk Marvin, dia sudah mulai mengigau. "Aku sudah tak tahan, kamu membuat aku tergila-gila Adam Alvarez. Ingin sekali aku merasakan bagaimana milikmu masuk ke dalam diriku."


Marvin ingin sekali muntah mendengarnya, lebih baik dia mati dari pada harus tidur dengan wanita gila ini. Dia menahan tubuh Sonya agar tidak memeluknya.

__ADS_1


Tubuh Sonya malah ambruk ke atas ranjang. Dia terus saja menarik-narik tangan Marvin. Namun pria itu begitu kokoh, dia hanya duduk di pinggir ranjang menatap tajam ke arahnya.


"Bagaimana caranya agar aku menjadi CEO di Leon Grup?" tanya Marvin, dia ingin tau mengapa Sonya bisa menjadikan dirinya CEO di Leon Grup.


Sonya malah tertawa renyah. "Gampang, kamu bunuh saja suamiku dan anak tidak tau diri itu. Lalu menikahlah denganku."


Kemudian Sonya menguap, dia terlalu mabuk, membuatnya rasa ngantuk merajainya.


Marvin mengerutkan keningnya, dia paham ada beberapa kasus pasangan suami istri yang saling membunuh demi harta, namun rasanya tidak masuk akal jika ada seorang ibu yang ingin membunuh putrinya sendiri hanya demi sebuah harta.


Apa mungkin kecurigaan dirinya benar, kalau ternyata Nadine bukanlah anaknya Sonya.


"Kenapa kamu ingin membunuh anakmu sendiri?"


Sonya tertawa kembali, dia benar-benar teler, tak bisa mengontrol apa saja yang dia katakan, diluar kesadarannya. "Aku tidak sudi punya anak seperti dia. Aku mandul bagaimana bisa aku hamil haha..."


"Huamm..." Sonya menguap kembali


Marvin terperangah mendengarnya, itu artinya dia dan Nadine tidak memiliki ikatan darah. Nadine bukan adiknya. Apakah kenyataan itu bisa membuat dia bisa memperjuangkan wanita itu? Walaupun mungkin awalnya dia memang tidak ingin jatuh hati kepada wanita manapun.


"Lalu siapa ibu kandung Nadine yang sebenarnya?" Marvin semakin yakin pasti Aline adalah ibu kandungnya Nadine. Namun dia tidak bisa sembarangan menyebutkan nama orang kepada Sonya, terkadang orang yang sedang mabuk akan mengingat apa saja yang dia lakukan, dia katakan, dan dia dengar, setelah dia sadar dari mabuknya.


Marvin tidak ingin Sonya curiga kalau dirinya tau tentang Aline.


Marvin merasa kesal karena Sonya malah tertidur, padahal ada banyak hal yang harus ditanyakan pada wanita itu.


"Shiittt..." Marvin mengumpat.


Bisa saja dia langsung membunuhnya, tapi dia tidak boleh gegabah, karena mereka sedang berada di dalam hotel mewah yang banyak sekali kamera CCTV.


Marvin teringat dengan Nadine, apakah mungkin Nadine masih menunggunya?

__ADS_1


Marvin meraih kunci mobilnya diatas nakas, dia harus segera pergi dari sana, kali ini dia harus mengikuti kata hatinya, dia ingin bertemu dengan Nadine dan memeluknya, dia sangat merindukannya, dan dia tidak ingin membohongi dirinya sendiri bahwa dia telah jatuh cinta kepada wanita itu.


__ADS_2