
Nadine masih berada di tepi pantai, dia duduk di bebatuan yang ada disana. Beberapa kali dia menghelakan nafas, suasana disana membuatnya sedikit tenang.
"Mulai sekarang aku harus melupakan pria kejam itu."
"Pria bajingan."
"Pria brengsek!"
Nadine melihat jam di tangannya, ternyata sudah jam 12 malam. Dia harus segera pulang, pasti ayahnya akan marah sekali padanya karena pulang kemalaman.
Nadine segera berdiri, dia membalikkan badannya. Nadine terperangah saat melihat ada seseorang berdiri dihadapannya.
"Adam?"
Marvin memang baru tiba disana, matanya berkaca-kaca memandangi Nadine. Sementara nafasnya tak beraturan karena dia mengendarai mobil dengan begitu cepat, dia takut tidak bisa bertemu dengan Nadine lagi.
Marvin berjalan mendekati Nadine, namun dia terkejut melihat Nadine menghindarinya, Nadine berjalan mundur dua langkah.
"Aku sangat membenci kamu, kamu adalah pria yang paling aku benci. Kamu adalah pria paling jahat, pria paling kejam, pria paling brengsek di dunia ini." Nadine mengatakannya dengan mata berkaca-kaca.
"Bencilah aku sesuka hatimu, aku pantas mendapatkannya. Tapi mulai sekarang aku tidak akan pernah melepaskanmu, Nadine Leonardo."
Nadine terperangah mendengarnya, dia tidak mengerti mengapa Marvin berkata seperti itu. Namun dia tidak diberikan kesempatan untuk bicara, pria itu berjalan dengan begitu cepat dan menyambar bibirnya.
Nadine memukul-mukul dada pria itu, namun sayangnya Marvin begitu kuat, dia semakin memperdalam ciumannya, mencium bibir Nadine dengan segala kerinduan yang telah dia pendam selama ini.
Semakin lama ciuman mereka semakin terasa begitu panas, udara dingin malam hari membuat tubuh mereka semakin rapat dan saling mendekap. Nadine tidak bisa membohongi dirinya sendiri, dia juga sangat merindukan pria itu, pria yang seharusnya dia benci, namun rasa cintanya lebih besar dari rasa bencinya.
Ciuman mereka berlanjut di sebuah kamar hotel yang ada di sekitar pantai sana.
__ADS_1
Brakk...
Begitu pintu kamar hotel terbuka, Marvin mencium bibir Nadine kembali dengan begitu ganas, Nadine tidak bisa mengimbangi keganasan pria itu. Marvin menyeretnya ke dinding.
Ciuman Marvin begitu liar. Bibir Nadine dihisapnya secara bergantian meresapi manisnya rasa disetiap sudut bibir manis Nadine. Marvin semakin mengeksporesikan mulutnya dan membelitkan lidahnya dengan nafas memburu.
Marvin semakin merapatkan kedua tubuh mereka, dia mulai memindahkan ciumannya ke leher jenjang Nadine, jemarinya mulai mere-mas-remas bagian dada Nadine yang masih terbungkus kain.
Marvin membuka kancing kemeja Nadine satu persatu.
Marvin hanya membuka beberapa kancing saja agar dia bisa menaikan branya ke atas, dia langsung melahap bagian pucuknya dan memainkan lidahnya disana membuat Nadine mendes-ah kenikmatan dan menekan kepala Marvin semakin terbenam melahap bulatan kenyal itu.
"Akh..."
Marvin menghisap pucuk di dada Nadine dengan begitu rakus seperti bayi yang sudah lama tidak disusui oleh ibunya.
Marvin kembali menghentakan tubuh Nadine ke dinding, lalu dia berjongkok, menyibakan rok selutut yang di pakai Nadine, dia membuka kain di dalamnya, dan langsung membenamkan wajahnya dibawah perut Nadine, dia melahap sumber kenikmatannya, memainkan lidahnya dengan sedikit menengadah.
Nadine nampak kegelian tapi begitu membuatnya melayang. Tanpa Nadine sadari dia membuka kakinya dengan sedikit lebar membuat Marvin lebih leluasa menelusupkan lidahnya ke bagian terdalam, lalu menyesapnya.
"Ahhh....Adam Ahhh..."
Nadine merasakan ada yang tumpah dibawah sana, dia menekan kepala Marvin agar semakin memperdalam lu-ma-tannya. Badannya bergetar seakan tersengat aliran listrik.
Nafas Nadine tersengal-sengal, dia telah sampai ke puncak kenikmatan, membuat keringat dingin membasahi dahinya.
Marvin hanya melepaskan celananya, tanpa melepaskan kemeja putih yang dia pakai.
Sehingga nampak begitu nyata bagaimana perkasanya sang pusaka yang dia punya, banyak wanita yang mendambakan bisa menikmati pusaka tersebut, namun ternyata sang pusaka hanya milik Nadine seorang.
__ADS_1
Sebuah kunci telah menemukan gembok yang tepat, membuatnya tak bisa berpaling, dia hanya menginginkan Nadine.
Marvin membuka seluruh pakaian Nadine, dia semakin merapatkan tubuhnya, dia menekan pinggang Nadine, sehingga tubuh mereka menyatu. Untuk pertama kalinya mereka melakukannya dalam posisi berdiri.
Nadine mencengkram kemeja Marvin, dia melebarkan kakinya sehingga milik Marvin masuk sepenuhnya di bawah perut Nadine.
Marvin mengangkat kaki kiri Nadine, dia menghentakkan miliknya, bergerak liar keluar masuk dengan tempo cepat.
Kemudian mereka berciuman kembali.
Marvin menjeda aktivitas panas mereka. Dia menggendong Nadine ke atas ranjang, lalu menyatukan kembali tubuh mereka, menghentakkan pusakanya lebih dalam.
Malam ini mereka melakukannya dengan penuh rasa cinta, walaupun kata cinta belum terucap dari bibir mereka, namun mereka mengungkapkan rasa cinta mereka dengan bahasa tubuh mereka.
Nadine melepaskan kemeja Marvin yang sedang memompa tubuhnya, dia teringat dengan luka di punggung orang yang sudah menyelamatkannya. Apakah pria itu Marvin atau bukan. Namun dia belum memiliki kesempatan untuk melihat punggung pria itu.
Tangan Nadine meraba-raba punggung Marvin, dia merasakan jemarinya menyentuh sebuah perban di punggung pria itu.
Ternyata Marvin adalah orang yang sudah menyelamatkannya. Tapi kenapa? Bukankah pria ini ingin menghancurkan perusahaan papanya. Tapi kenapa dia harus mengorbankan dirinya untuk melindungi Nadine?
Nadine sama sekali tidak bisa menebak apapun tentang pria itu.
"Ahh..."
Nadine dan Marvin mengerang begitu merasakan mereka telah sampai ke puncak kenikmatan. Membuat milik Nadine menjadi basah karena mereka mengeluarkannya sangat banyak.
Tubuh Marvin ambruk, dia menenggelamkan kepalanya di ceruk leher Nadine, menghirup wanginya aroma wanita itu.
Untuk pertama kalinya Marvin merasa lega karena ternyata Nadine bukanlah adik kandungnya. Walaupun dia tidak tau hubungan apa yang pantas untuk mereka, karena Om Theo melarangnya jatuh cinta. Mungkin Nadine berada dalam bahaya jika Om Theo tau kalau dia mencintai Nadine.
__ADS_1
Namun salahkan jika dia memiliki keinginan untuk mengikat wanita ini? Dia ingin memiliki ikatan yang kuat dengan Nadine, menjadikan Nadine miliknya seutuhnya, setelah semua masalah ini selesai. Walaupun harus membuat Om Theo kecewa. Dia harus siap menghadapinya.