A Dangerous Man ( Balas Dendam Sang Mafia )

A Dangerous Man ( Balas Dendam Sang Mafia )
Perasaan Apa Ini?


__ADS_3

Sebuah helikopter mendarat di rooftop rumah sakit, terlihat Marvin keluar dari sana bersama Dewangga.


Marvin memang menyuruh anak buahnya untuk menjemput mereka dengan helikopter, agar mereka segera tiba ke rumah sakit untuk menyelamatkan Aline.


Disana sudah standby beberapa tenaga medis dengan menyediakan brankar, lalu segera memindahkan Aline ke brankar tersebut.


Marvin memiliki kenalan seorang dokter dari Indonesia, kebetulan dokter tersebut adalah pemilik dari rumah sakit yang megah ini. Karena itu Aline akan terjamin keamanannya disana.


Setelah sekian lama Aline ditangani oleh Dokter Aldi di IGD, akhirnya Aline dipindahkan ke ruang ICU, karena kondisinya yang kritis, Aline mengalami luka yang cukup serius di dalam tubuhnya, membuat dia belum bisa sadarkan diri, entah sampai kapan.


Marvin menghela nafas begitu mendengar kondisi Aline yang harus koma seperti itu, padahal ada banyak hal yang ingin dia tanyakan pada Aline. Namun bagaimanapun juga dia masih bersyukur karena Aline sudah berada di dalam perlindungannya. Yang penting Aline harus bisa pulih dulu.


"Aku ingin kamu menangani dia dengan baik, aku akan sering berkunjung kesini. Dan jadikan dia menjadi pasien rahasiamu. Jangan ada satu orang pun yang tau tentang dia." Marvin mempercayai Dokter Aldi, karena mereka kenal cukup lama.


Dokter Aldi pernah menjadi Dokter pribadinya Marvin waktu di Australia. Namun Dokter Aldi memutuskan ingin berpindah ke Indonesia, dia membangun rumah sakit dari hasil pesangon pemberian dari Marvin.


"Tuan Adam tenang saja, aku pasti akan menjaga dan merawat dia dengan baik." Dokter Aldi paham betul tentang dunia mafia, karena itu dia selalu bersikap profesional dengan tidak menanyakan asal usul sang pasien.


"Oke, aku percayakan padamu. Nanti aku kirim anggota Athena untuk menjaga rumah sakit ini."


...****************...


Setelah tiba di Mansion, orang yang pertama ingin Marvin temui siapa lagi kalau bukan Nadine, semenjak Nadine tinggal bersamanya, entah mengapa dia merasa selalu ingin cepat pulang ke mansion. Walaupun dia tidak tau perasaan apa ini pada wanita itu.

__ADS_1


Namun Marvin malah melihat Dami sedang berdiri di depan mansionnya. Tumben sekali ada pengawal yang berani masih berada di sekitar mansion di malam hari.


"Mengapa kamu masih berada di sini? Nadine dimana?"


Dari pertanyaan tuannya, Dami semakin yakin kalau Marvin memiliki perasaan pada wanita yang dia culik itu.


Namun Dami memilih to the point dari pada harus menjawab pertanyaan dari Marvin. "Emm... ada yang ingin saya bicarakan pada Tuan Adam."


"Oke, bicarakan saja!"


Dami nampak ragu untuk mengatakannya, namun dia harus berani bicara. "Saya adalah mata-mata Tuan Theo, mungkin karena Tuan Theo tidak sepenuhnya mempercayai anda dalam menjalankan rencana balas dendam ini. Saya disuruh untuk mengawasi anda. Termasuk siapa wanita yang dekat dengan anda, Tuan Adam."


Sepertinya Dami merasa kasihan pada Nadine, setelah sekian lama mengawasi Nadine di Mansion, mungkin karena faktor sesama wanita. Apalagi Nadine sering mengajaknya bicara, bersikap sok akrab kepadanya.


"Sebenarnya mata-mata disini bukan hanya saya, tapi ada beberapa orang juga. Yang pasti mereka adalah anggota Athena yang lama."


Marvin mengerutkan keningnya, mengapa Om Theo tega sekali padanya. Mungkin perkataan Om Theo benar, terkadang di dunia mafia seperti ini keluarga atau teman pun bisa menjadi musuh. Walaupun dia tidak akan pernah mengkhianati Om Theo.


Dami tidak bisa menjelaskannya secara panjang lebar. "Tuan Theo berencana akan diam-diam datang kesini, Tuan Theo merasa anda tidak akan sanggup membunuh Nadine, karena itu Tuan Theo memutuskan dia yang akan membunuhnya sendiri tanpa meminta izin dulu pada anda." Om Theo ingin secepatnya membuat mental Tuan Rama dan Sonya semakin terganggu dengan melihat mayat anaknya sendiri.


Sementara Marvin, dia tidak ingin bertindak gegabah, sebelum dia beraksi, dia harus tau kebenarannya dulu.


Marvin tercengang mendengar perkataan pengawalnya itu. Entah mengapa rasanya dia tidak rela jika ada orang yang akan menyakiti Nadine, apalagi membunuhnya.

__ADS_1


Setelah berbicara panjang lebar dengan Dami, Marvin masuk ke dalam Mansion, dia mencoba mencari keberadaan Nadine, biasanya Nadine selalu menyambutnya kepulangannya. Namun malam ini tidak.


Marvin tertegun begitu melihat Nadine yang tengah tertidur di kursi sofa.


Mungkin karena Nadine masih kelelahan, Marvin selalu memberikan dia pekerjaan yang berat, apalagi pria itu menggempurnya dari malam sampai pagi.


Marvin menatap sendu, memandangi Nadine yang nampak kelelahan sekali, dia merasa dirinya kejam karena sudah memberikan pekerjaan yang berat untuk Nadine, bahkan menyuruhnya tidur di gudang.


Marvin menggendong tubuh Nadine, membawa wanita itu ke kamar pribadinya. Dia ingin Nadine tidur nyaman disana.


Marvin merebahkan tubuh Nadine ke atas ranjang, kemudian menyelimuti tubuhnya dengan selimut tebal.


Marvin duduk dipinggir ranjang, dia menatap teduh memandangi wanita itu. Kemudian dia menghela nafas.


Perasaan apa ini? Apakah mungkin dia telah jatuh cinta? Dia ingin selalu melihat Nadine dan memikirkannya setiap waktu. Jika apa yang dia rasakan itu cinta, mengapa harus jatuh cinta pada orang yang tidak tepat. Nadine adalah adiknya, hal itu akan membuatnya tersiksa.


Namun Marvin mencoba melawan hatinya sekeras mungkin, tidak mungkin ini cinta. Dia tidak mungkin mencintai wanita itu. Anak dari orang yang telah menyakiti ibunya.


Om Theo benar, ternyata wanita bisa membuatnya menjadi lemah. Seharusnya dari awal dia tidak perlu menculik Nadine dan mengurungnya di Mansion. Seharusnya waktu itu dia langsung membunuhnya saja, lalu mengirim mayatnya pada sang ayah dan Sonya.


Aku tidak tau perasaan apa yang aku rasakan padamu. Tapi aku harap perasaan ini bukan cinta. Aku tidak mungkin mencintaimu.


"Aku tidak tau apa yang harus aku lakukan padamu setelah ini."

__ADS_1


Apa dia harus mengikuti perintah dari Om Theo? Atau harus melindunginya?


__ADS_2