
"Arrrggghhh!"
"Arrrggghhh!"
Markus terus merintih kesakitan di bagian perut, betis dan kepalanya, apalagi tangan kanannya patah.
Namun tak ada yang menolongnya, dia disekap di ruang bawah tanah yang ada di Markas Athena.
Bahkan dia merasakan lapar dan sangat kehausan sekali.
Siksaan ini begitu membuat dirinya sangat menderita. Jika disuruh memilih, lebih baik dia langsung dibunuh saja dari pada harus menderita merasakan kesakitan seperti ini.
"Marvin, bunuh saja aku!"
"Bukannya kamu ingin membunuhku?"
Markus terus berteriak, suaranya begitu menggema di ruang bawah tanah itu. Sayangnya tak ada satu orang pun yang mendengar teriakannya, apalagi Marvin, dia sudah berada di Mansionnya malam ini.
__ADS_1
"Arrrggghhh!"
Markus merintih kembali, dia merintih dengan begitu keras, berharap ada orang yang mendengar suara rintihan itu.
...****************...
"Markus kemana? Kenapa sampai sekarang dia belum datang ke Markas juga?" tanya Erza kepada anak buahnya, Amar.
"Saya juga gak tau bos, ponselnya susah untuk dihubungi." jawab Amar.
Erza sangat kesal sekali, padahal hari ini ada tiga korban yang harus di eksekusi, karena ada kliennya dari luar negeri yang memesan organ tubuh manusia, terutama jantung.
Dalam pengambilan organ di dalam tubuh manusia pastinya tidak sembarangan, karena itu Erza sangat membutuhkan Markus. Markus dulu seorang dokter ahli bedah, namun dia lebih tertarik bekerjasama dengan Erza karena ta-waran uang yang menggiurkan.
"Kenapa akhir-akhir ini dia selalu gelisah?" Erza merasa ada hal yang disembunyikan oleh Markus dibelakangnya.
Amar pun mengiyakan ucapan bosnnya. "Iya bos, semenjak si peneror itu mengganggu kita. Dia kelihatan gelisah begitu."
__ADS_1
Erza berpikir sejenak, mengapa Markus terlihat gelisah semenjak si peneror yang mengaku dirinya Marvin itu muncul? Dia jadi berpikir yang tidak-tidak, apakah mungkin sebenarnya Marvin masih hidup, makanya Markus terlihat gelisah seperti itu.
Erza segera membicarakan kecurigaannya pada Sonya, bagaimana kalau ternyata Markus membohongi mereka selama ini, bagaimana kalau ternyata sebenarnya Marvin masih hidup.
Sonya malah tertawa renyah mendengar perkataan Erza. "Ya ampun sayang apa gara-gara kamu gak dikasih service sama aku hari ini, makanya kamu bicara ngelantur seperti itu. Gak mungkin lah anak bodoh itu masih hidup."
Erza menghela nafas, padahal dibelakang Sonya, dia sering meniduri banyak wanita. "Hanya berandai-andai saja, bagaimana kalau ternyata sebenarnya Marvin masih hidup? Dia pasti akan membunuh kita."
"Kamu kan ketua gangster, banyak sekali anak buahmu, kenapa harus takut? Kalau misalkan Marvin masih hidup, terus tulang belulang anak kecil di tempat kebakaran itu siapa hm?"
"Nah itu juga yang aku gak ngerti, tapi jika seandainya Markus berani bohongi aku. Aku akan menjadikan dia santapan ikan piranha."
Sonya saat ini sedang tidak ingin memikirkan masalah apapun, karena sekarang ini dia seperti di buat gila, sering memikirkan Adam Alvarez.
Seandainya Adam meminta dia untuk tinggal bersamanya, dia tidak akan menolak, faktanya Adam lebih kaya dari suaminya, dan Adam juga pria yang begitu mempesona. Karena itu dia tidak ingin mengambil pusing masalah ini.
Setelah selesai berteleponan dengan Erza, Sonya melihat ponselnya, dia membaca ulang pesan yang Adam kirim padanya tadi siang.
__ADS_1
"Sedang apa dia sekarang? Pasti dia sekarang lagi sibuk sekali, makanya belum bisa bertemu dengan aku."