A Dangerous Man ( Balas Dendam Sang Mafia )

A Dangerous Man ( Balas Dendam Sang Mafia )
Sampai Pagi


__ADS_3

"Adamhh..." Nadine menengadahkan kepalanya ke atas, badannya terus menggelinjang hebat, merasakan ada yang mendesak ingin keluar dari miliknya. Dia semakin kuat mencengkram rambut Marvin dan menekan kepalanya, membuat lidah Marvin masuk lebih dalam.


Nadine dibuat menggila, Marvin memberikan penyiksaan di bawah perutnya. Sebuah siksaan yang membuat dirinya terombang-ambing dalam sebuah kenikmatan yang tidak ada bandingannya.


Nadine memekik seperti kehilangan arah saat merasakan dibawah sana akan tumpah.


"Owh... ahhh... ahhh..." Nadine mengerang begitu merasakan ada cairan yang keluar dari miliknya, dia semakin mengeratkan cengkramannya pada rambut Marvin.


Marvin masih ingin membuat Nadine tersiksa, dia memegang kedua tangan Nadine, sementara mulutnya menghisap cairan itu sampai habis, diiringi gerakan lidah yang masih menggoda milik Nadine.


"Ahhh... Adam, stop!"


Nadine menggelinjang tak tertahankan, dia bilang stop tapi sangat menikmatinya. Rasanya separuh nyawanya telah ikut terhisap oleh pria itu.


Nadine sudah tak tahan, punggungnya melengkung ke atas, badannya bergetar merasakan dirinya telah mencapai pelepasannya, membuat dadanya naik turun, nafasnya tersengal-sengal, seakan dirinya telah dikuasai oleh gairahnya.


Marvin melihat Nadine yang nampak pasrah, dari bahasa tubuhnya seakan meminta Marvin untuk segera melakukan penyatuan tubuh mereka. Dia tersenyum puas, karena dia tidak perlu merasa berdosa pada wanita itu, yang mereka lakukan suka sama suka, tidak ada yang dirugikan.

__ADS_1


Tak peduli jika mereka masih sedarah, karena Marvin tidak pernah menganggap Nadine adiknya.


Marvin segera membuka seluruh pakaiannya, saat ini posisinya berada diantara kedua pangkal paha Nadine. Dia melebarkan paha wanita itu, lalu melakukan penyatuan.


"Ahhh..." Nadine sedikit meringis merasakan sesuatu yang keras dan panjang itu menerobos masuk memenuhi miliknya.


"Ahhh Nadine!" Marvin mengerang merasakan miliknya dikoyak, dihisap dan dijepit oleh milik Nadine. Begitu terasa kedutan hangat milik Nadine mer3mas-r3mas miliknya. Membuatnya menggila.


Marvin mencium bibir Nadine, dia mulai menggerakkan pinggulnya yang berotot itu, menghentakkannya lebih dalam mencari ke titik kenikmatan yang mulai kian terasa.


Nadine melenguh, disetiap hentakan milik Marvin kepadanya membawakan sebuah kenikmatan.


Berbeda dengan malam sebelumnya, malam ini bahasa tubuh Nadine memperlihatkan bahwa dia begitu sangat menikmati alur permainan yang dilakukan Marvin kepadanya.


Nadine menekan kepala Marvin saat pria itu melahap buah dadanya, mere-mas rambutnya, sungguh jiwanya tak ada lagi disana, dia seakan tersesat di tempat asing yang indah.


Marvin semakin liar bergerak menekan miliknya ke dalam tubuh Nadine. Dia menenggelamkan kepalanya ke ceruk leher Nadine, memberikan gigitan-gigitan kecil di lehernya, kemudian bibirnya menarik put-ing Nadine yang sudah mengeras, lalu menghisapnya dengan rakus.

__ADS_1


"Owh...mmmhhh..." Nadine hanya bisa pasrah, walaupun mulutnya berkata tidak tapi tubuhnya menginginkan sentuhan pria tampan itu. Kenikmatan ini membuat dia kehilangan akal, gesekan dan desakan dibawah perutnya memberikan kenikmatan yang tak bisa diungkapkan dengan kata.


Setelah lama mereka bercinta, akhirnya detik ini mengantarkan mereka menuju puncak pelepasannya.


"Ahhh... ahhh..."


Suara erangan keduanya menggema memenuhi kamar milik Marvin, Marvin menyemburkan benihnya ke milik Nadine. Apalagi Nadine, dia telah dibuat basah berkali-kali oleh pria itu.


Tubuh Marvin ambruk menindih tubuh wanita itu, dia menenggelamkan kepalanya di ceruk leher Nadine, menghirup aroma wangi tubuh wanita itu.


Keduanya terengah-engah merasakan lelah, sampai keringat membasahi tubuh keduanya.


Nadine baru menyadari dia telah kehilangan kesempatan untuk keluar dari sini hanya karena nikmat sesaat yang Marvin berikan, betapa bodohnya dia mengapa tidak bisa menolak dari pesona pria jahat itu.


Nadine memilih untuk pergi dari kamar Marvin, namun pria itu menarik tubuhnya, "Siapa yang mengijinkan kamu pergi? Aku masih mau melakukanya sampai pagi."


Nadine membulatkan matanya, "Apa kau gila? Malamnya tenagaku dikuras habis olehmu, lalu siangnya kamu memberikan pekerjaan berat untukku."

__ADS_1


"Khusus besok, aku tidak akan menyuruh kamu melakukan apapun, karena itu mari melakukannya lagi sampai aku merasa bosan padamu."


Marvin menindih tubuh Nadine kembali, percuma Nadine melawan, pada akhirnya dia akan kalah, bukan hanya kalah, dia malah ikut mendes-ah, dan ikut terhanyut dalam permainan Marvin saat pria itu begitu gagah menggempur tubuhnya.


__ADS_2