
Nadine sama sekali tidak menyangka, hari ini Marvin membawa Nadine liburan di sebuah kapal pesiar milik Marvin pribadi. Dia pikir pria itu berbohong akan mengajaknya berliburan.
Nadine memandangi birunya air laut, angin sepoy-sepoy menerpa kulit wajahnya, rasanya begitu sangat nyaman, memberikan kesejukan. Dia sedang berdiri di pinggiran kapal pesiar, bersama Marvin, walaupun pria itu dari tadi tidak berbicara sepatah katapun.
Nadine mencoba mengajak Marvin berbicara, "Aku sudah lama tidak naik kapal pesiar, terakhir kali aku naik kapal pesiar itu bersama tunangan aku, empat bulan yang lalu."
Marvin langsung menoleh pada Nadine begitu Nadine membicarakan tunangannya, dia tidak suka jika Nadine membicarakan pria lain dengannya. "Lalu apa yang kalian lakukan disana?"
"Hanya liburan, nonton film, makan bersama, menonton teater, dan apa lagi ya... aku lupa lagi." Dulu Nadine dan Damar liburan di kapal pesiar di Singapura, karena kebetulan mereka dulu liburan ke Singapura.
Sebenarnya Nadine dulu terpaksa liburan bersama Damar, karena Sonya yang memaksanya, Sonya tidak ingin Nadine membuat kecewa calon besannya.
"Apa kalian tidur bersama?"
Nadine langsung menoleh ke arah Marvin, dia menjadi kesal diberi pertanyaan seperti itu, padahal sudah jelas Marvin yang sudah merenggut hal yang paling berharga untuknya.
"Apa kamu lupa? Kamu adalah orang yang sudah membuat aku tidak perawan lagi?"
__ADS_1
Nadine semakin kesal, karena pria itu terlihat biasa saja diberi pertanyaan seperti itu. Mungkin karena Marvin sudah lama tinggal di luar negri, disana nilai keperawanan memang sudah tidak penting lagi. Dan mungkin saja Marvin memang sering bermain dengan banyak wanita.
"Itu juga pertamanya untukku, aku tidak pernah tidur dengan wanita manapun." Marvin mengatakannya dengan nada datar, pandangnya lurus memperhatikan birunya air laut.
Nadine terperangah mendengarnya, dia sama sekali tidak menyangka, bagaimana mungkin seorang Adam Alvarez tidak pernah tidur dengan wanita manapun, sementara pria itu begitu tampan dan nyaris sempurna, pastinya banyak sekali wanita yang datang berusaha mengoda dirinya.
"Kenapa kamu ingin melakukannya denganku? Padahal dulu kamu tidak pernah meniduri wanita manapun, apa pesonaku ini membuat kamu lupa diri?" Nadine mengatakannya dengan nada bercanda.
Jawabannya karena Nadine adalah wanita yang pertama kali membuat hatinya bergetar, membuat jantungnya berdebar-debar, membuat dia gelisah jika dia tidak melihat apa yang dilakukan Nadine di balik rekaman CCTV di mansionnya, dan juga Nadine lah yang membangunkan hasratnya, sesuatu yang tak pernah dia rasakan sebelumya pada wanita lain.
"Kamu sama sekali tidak terlihat menarik untukku." Marvin tidak ingin berterus terang dengan apa yang dia rasakan pada Nadine.
"Kalau begitu, kenapa kamu membawa aku liburan kesini?" Nadine sama sekali tidak bisa membaca pikiran pria itu, dia tidak tau sebenarnya bagaimana perasaan Marvin kepadanya. Pria itu sulit sekali untuk ditebak.
"Karena aku ingin tau rasanya bagaimana berkencan, untuk satu hari saja, aku ingin kamu menjadi teman kencanku." Marvin ingin mengikuti saran dari Dewangga, dia ingin memanfaatkan waktu satu hari ini untuk tau bagaimana rasanya berkencan dengan seorang wanita. Dia ingin satu hari saja melupakan semua misi balas dendamnya kepada siapapun.
Karena hari ini hanya milik dia dengan Nadine, sebelum dia melupakan wanita itu. Karena memang seharusnya mereka tidak boleh bersama.
__ADS_1
Nadine tertawa kecil mendengarnya, rasanya dia tidak percaya ternyata Marvin sama sekali belum pernah berkencan dengan seorang wanita. "Kemana saja kamu selama ini? Ini zaman modern, kamu tinggal di LN, seharusnya kamu menggunakan waktumu sebaik mungkin. Kamu seorang pria normal, pastinya membutuhkan seorang wanita yang selalu ada buat kamu dan menemani hari-harimu."
"Aku tidak memiliki waktu untuk itu semua, biasanya orang yang berkencan itu selalu melakukan apa saja?"
Nadine berpikir sejenak, "Biasanya mereka nonton film bersama, makan bersama, mendengarnya musik yang mereka suka, berciuman, dan...Mmmphh."
Nadine tak melanjutkan perkataannya, dia membulatkan mata karena tiba-tiba saja Marvin mengecup bibirnya.
Kemudian pria itu memandangi kedua bola mata Nadine begitu sangat lekat, "Apa seperti ini?" Marvin bertanya soal ciuman.
Nadine merasakan jantungnya berdebar-debar, dia menganggukan dengan pelan, memang seperti itulah ciuman, tapi seharusnya tidak perlu langsung dipraktekkan. Walaupun sebenarnya apa yang mereka lakukan sudah lebih dari sekedar ciuman.
Marvin melangkahkan kakinya dua langkah, kemudian dia melingkari pinggang Nadine, membuat jarak wanita itu dekat sekali dengannya, dia memandangi mata indahnya wanita itu. "Kalau begitu aku anggap kamu setuju menjadi teman kencanku dalam satu hari."
Nadine belum bisa menjawab, karena pria itu langsung menyatukan bibir mereka. Pria itu semakin merapatkan tubuhnya, memperdalam ciumannya, melu-mat bibir Nadine dengan begitu lembut.
Baru kali ini Nadine merasakan kenyamanan saat Marvin mencium bibirnya, pria itu menciumnya dengan penuh perasaan. Berbeda saat dengan waktu itu, mungkin karena dulu Marvin melakukannya dengan naf-su, dia tidak tau bagaimana caranya berlaku lembut kepada wanita, yang penting hasratnya tersalurkan.
__ADS_1
Namun ciuman kali ini sungguh berbeda, pria itu begitu lembut mencium bibirnya, membuat hati Nadine bergetar, rasanya tidak mungkin dia jatuh cinta kepada pria yang sudah menculiknya. Nadine merasa dirinya tidak waras.