A Dangerous Man ( Balas Dendam Sang Mafia )

A Dangerous Man ( Balas Dendam Sang Mafia )
Mirip Seseorang


__ADS_3

Kapal pesiar berlayar dengan tenang, desiran ombak berlalu lalang, terlihat dua sejoli yang sedang menikmati kebersamaan mereka disana, ternyata Marvin sedang memasak khusus untuk Nadine.


Marvin memang lebih suka menikmati makanan masakannya sendiri, dia sudah belajar mandiri dari dia masih kecil, agar makanan yang dia makan terjamin higienisnya.


Sementara Nadine, wanita itu duduk di kursi sofa, dia tersenyum memperhatikan Marvin yang sedang memasak.


"Boleh aku bantu?" Nadine menawarkan bantuan pada Marvin.


Marvin tak langsung menjawab, dia sedang sibuk mengaduk-aduk masakannya di dalam wajan, begitu tercium wangi aroma masakannya. Kemudian dia menjawab tawaran dari Nadine. "Gak boleh, kamu diam saja disana."


Nadine hanya tersenyum mendengar jawaban dari Marvin, hari ini pria itu sikapnya benar-benar berubah, Marvin sikapnya tidak sekasar biasanya, dia bersikap begitu lembut padanya, walaupun cara menatap Marvin masih sama.


"Aku baru ingat." Nadine memperhatikan Marvin yang sedang memasak.

__ADS_1


"Apanya?" Marvin tidak mengerti dengan apa yang diucapkan Nadine.


"Tatapan matamu itu mengingatkan aku pada seseorang."


Marvin menjadi penasaran, pria mana lagi yang akan diceritakan oleh Nadine kepadanya. Dia membalikkan badan, menatap Nadine yang sedang memandangnya. "Siapa?"


Nadine segera berdiri, dia berjalan mendekati Marvin, wanita itu tak melepaskan pandangannya, terus memandangi kedua bola mata Marvin.


Sampai akhirnya dia berada dihadapan pria itu. "Kamu mirip kakakku."


Jantung Marvin berdebar-debar mendengar perkataan Nadine. Rupanya ada seseorang yang masih mengingat dia, rasanya dia tidak percaya mengapa Nadine bisa mengingat dirinya, padahal dulu mereka hanya bertemu satu kali, saat dia dan ibunya diusir dari Mansion oleh Tuan Rama, 18 tahun yang lalu.


"Setelah aku pehatikan dengan baik, akhirnya aku sadar kamu mirip kakakku yang sudah meninggal, namanya kak Marvin. Kalau dia masih hidup mungkin dia akan tumbuh menjadi pria tampan dan sukses sepertimu."

__ADS_1


Mata Marvin berkaca-kaca, ternyata Nadine menganggap Marvin adalah sosok kakak yang baik, padahal dia selama ini sangat membencinya.


Marvin membalikkan badan kembali, dia membelakangi Nadine, fokus dengan masakannya lagi.


"Menurutmu dia pria seperti apa?"


"Entahlah, aku baru satu kali melihatnya. Jujur saja aku sangat merasa bersalah padanya karena kehadiran aku telah membuat hidupnya menderita." Nadine menjadi teringat dengan foto Marvin yang masih kecil, dia menyimpah foto itu di kamarnya. "Aku baru ingat, aku memiliki fotonya, aku menyimpan foto kakaku di kamar."


Marvin merasa tersentuh mendengarnya, dia mematikan kompor karena masakannya sudah matang, kemudian dia membalikkan badan, memandangi Nadine yang sedang berada di hadapannya. "Untuk apa kamu menyimpan fotonya?"


"Untuk mengingatkan aku kalau aku dulu memiliki seorang kakak, pertanda dia pernah hadir di dunia ini, walaupun hidupnya hanya sebentar, dia meninggal saat berusia 10 tahun. Kak Marvin dan ibunya meninggal secara tragis, rumahnya kebakaran, mereka tidak bisa menyelamatkan diri."


Marvin tersenyum kecut, padahal dirinya masih hidup. Ibunya mati bukan karena kebakaran rumah tapi di bunuh, dan Sonya adalah dalang dibalik kematian ibunya. "Seharusnya kamu bahagia, karena kamu menjadi satu-satunya pewaris di Leon Grup."

__ADS_1


Marvin mengira selama ini Nadine hidup bahagia, diperlakukan seperti seorang putri yang sangat dimanja oleh Sonya dan Tuan Rama.


Nadine terdiam mendengarnya, karena kenyataannya dia tidak hidup bahagia sebagai pewaris Leon Grup. Tidak mungkin dia menjelekan bagaimana sikap mamanya kepadanya. Bagaimanapun Nadine berpikir Sonya adalah ibu kandungnya, orang yang melahirkannya, walaupun wanita itu selalu menyiksanya saat dia masih kecil dan menekannya untuk selalu terlihat menjadi wanita yang sempurna.


__ADS_2