A Dangerous Man ( Balas Dendam Sang Mafia )

A Dangerous Man ( Balas Dendam Sang Mafia )
Kecurigaan Belum Pasti


__ADS_3

Dami sangat setia kepada tuannya, karena itu dia tidak mungkin menyembunyikan kejanggalan atas apa yang telah dia lihat hari ini.


Dami terpaksa memberitahu Om Theo mengenai kecurigaannya pada Nadine dan Marvin.


"Tuan Adam tidak pernah mengizinkan siapapun masuk ke dalam kamarnya, namun pagi-pagi sekali saya melihat Nadine keluar dari kamar Tuan Adam." lapor Dami lewat sebuah panggilan telepon.


Om Theo mengerutkan keningnya, mengapa Marvin bisa mengizinkan Nadine masuk ke dalam kamarnya, apa hubungan persaudaraan mereka kini terjalin dengan baik setelah mereka tinggal bersama.


"Dan..." Dami ingin melaporkan masalah tanda merah di leher Nadine, namun dia nampak ragu, dia takut kalau ternyata tanda merah itu memanglah bekas gigitan nyamuk. Dami sekarang tidak bisa melihatnya dengan jelas, karena Nadine menutup lehernya dengan syal dengan alasan cuaca hari ini dingin sekali. Memang faktanya cuaca hari ini begitu dingin.


"Dan apa?"


"Emm... gak, Tuan. Hanya itu yang saya lihat."


"Apa mereka terlihat akrab?"


"Saya tidak tau, Tuan. Yang saya tau sikap Tuan Adam begitu dingin pada wanita itu. Hanya saja saya merasa curiga sepertinya semalam mungkin mereka tidur bersama." Melihat penampilan Nadine yang berantakan saat keluar dari kamar Marvin, membuat Dami semakin curiga.


"Tidur bersama?" Om Theo menganga mendengarnya, dia sangat tau Marvin bisa bersikap kejam pada siapa saja, tapi dia yakin Marvin bukan binatang yang mau meniduri adiknya sendiri. "Coba selidiki lebih jelas dan akurat lagi, gak mungkin lah Adam meniduri wanita itu."


"Maafkan saya, Tuan. Saya akan mencoba menyelidiki lagi tentang mereka."


"Saya ingin laporan yang pasti, jangan menduga-duga. Mereka tidak mungkin tidur bersama." Om Theo sangat kecewa dengan laporan dari Dami hari ini.

__ADS_1


"Maafkan saya, Tuan. Emm... tapi bagaimana kalau ucapan saya benar?"


Om Theo terdiam sejenak, walaupun rasanya mustahil jika Marvin mencintai adiknya sendiri, namun dia memikirkan bagaimana jika benar itu terjadi. "Sudah saya katakan, saya akan menyingkirkan siapapun yang menjadi kelemahan Adam. Dan wanita itu memang sudah ditakdirkan untuk menjadi target kita, wanita itu memang ditakdirkan untuk mati di usia muda."


"Iya, Tuan." Dami sebenarnya merasa kasihan pada Nadine saat mendengar perkataan tuannya, namun dia adalah seorang pengawal yang sudah mengucapkan janji setia kepada tuannya.


...****************...


Hari ini Nadine makan begitu banyak, mungkin karena tenaganya telah habis terkuras semalaman oleh Marvin, membuat dia lapar sekali.


Nadine menjadi penasaran, Marvin minum obat kuat apa sampai bisa sekuat itu, menggempurnya dari malam sampai pagi.


Nadine menjadi menelan saliva membayangkan betapa gagahnya Marvin yang sedang berada diatasnya.


"Dia memang tampan, kaya, memiliki tubuh yang seksi. Tapi sayangnya dia pria yang sangat jahat. Pastinya aku adalah wanita yang kesekian kalinya yang dia tiduri." Nadine berpikir Marvin adalah pria yang sering bermain dengan banyak wanita, tidak mungkin pria sesempurna Marvin tidak ada satu wanita pun yang menggodanya. Dia pasti memanfaatkan kesempurnaannya itu untuk meniduri banyak wanita.


Nadine menggelengkan kepalanya. "Kalau aku special, mungkin dia tidak akan memperlakukan aku semena-mena, menyuruh aku tidur di gudang."


Nadine melihat Dami yang baru masuk kembali ke dalam Mansion, dia habis berteleponan dengan Om Theo.


"Apa Tuan Adam tidak menyuruh kamu melakukan sesuatu hari ini?" tanya Dami, biasanya Marvin selalu menyuruh Nadine melakukan pekerjaan berat, tapi hari ini wanita itu begitu terlihat santai. Tawanan macam apa yang terlihat duduk santai begitu? Apalagi Nadine sedang makan yang banyak sekali menunya hari ini.


Hari ini Nadine tidak terlihat seperti seorang tawanan, melainkan dia terlihat seperti seorang Nyonya Adam Alvarez.

__ADS_1


Membuat Dami merasa yakin dengan kecurigaannya. Apa mungkin Marvin jatuh cinta kepada Nadine dan mereka memiliki hubungan khusus?


"Oh nggak, kebetulan semalam aku sudah melakukan pekerjaan berat. Sampai aku kelelahan sekali, makanya aku baru beristirahat sekarang setelah selesai membereskan kamar tuanmu itu."


"Pekerjaan berat seperti apa maksudmu?"


"Emm...." Nadine terpaksa berbohong. "Aku disuruh berolahraga, maksudnya berlari maraton dari malam sampai pagi. Kau bisa bayangkan bagaimana kelelahannya aku? Jujur saja aku ingin sekali menghajar tuanmu itu." Nadine mengatakannya dengan nada kesal.


Setelah mendengar perkataan Nadine membuat Dami berpikir, apa mungkin kecurigaannya salah, karena Nadine memang terlihat seperti kelelahan sekali hari ini. Tidak mungkin dia akan kelelahan seperti itu hanya karena bercinta dengan seorang pria. Sangat mustahil ada pria yang kuat menggagahi seorang wanita dari malam sampai pagi.


"Sebelum kamu menghajar tuan kami, kami pasti akan membunuh kamu lebih dulu. Jadi tolong jaga ucapanmu itu." Dami memperingatkan Nadine dengan tatapannya yang dingin.


Namun Nadine sama sekali tidak takut, dia tidak ingin terlihat lemah, agar dia bisa bertahan hidup disini. Dia pura-pura terkekeh, "Astaga, aku hanya bercanda. Mending kamu cobain masakan aku, siapa tau kita bisa jadi best friend."


Dami akui aroma masakan Nadine hampir membuatnya ngiler, namun kesetiaannya pada para tuannya tidak akan mempan oleh hanya sebuah makanan. Lebih baik dia memilih pergi ke luar Mansion, karena hari ini dia tidak perlu mengawasi Nadine, soalnya Nadine sudah dihukum semalam oleh tuannya.


...****************...


Om Theo bersandar di sandaran kursi, beberapa kali dia mengetukan jemarinya di atas meja sambil berpikir.


Bagaimana kalau ternyata ucapan Dami benar? Tapi rasanya tidak mungkin Marvin mencintai adiknya sendiri, lebih masuk akal jika Marvin menyayangi Nadine sebagai kakak ke adiknya.


"Kalau Marvin tidak bisa membunuh adiknya, biar aku saja yang membunuh dia. Akan aku kirimkan potongan tubuhnya pada si berengsek Rama dan Sonya, agar dia tau bagaimana rasanya saat aku melihat mbak Rena yang jasadnya sudah tak terbentuk lagi. Nyawa harus dibayar dengan nyawa. Kalian harus mati semua!"

__ADS_1


Kemudian Om Theo menatap lukisan Aline yang terpanjang di dinding, dia memutuskan untuk meletakkan lukisan itu disana, setelah sekian lama dia simpan di gudang. Itu adalah lukisan wajah Aline waktu masih muda.


Om Theo tidak ingin mengorek apapun tentang Aline dan suaminya, dia takut hatinya akan terluka kembali. Biarlah Aline menjadi bagian kenangan darinya, walaupun wanita itu sudah menyakitinya. Oleh sebab itu dia melarang Marvin untuk tidak jatuh cinta, cinta dan wanita hanya akan membuat Marvin menjadi lemah.


__ADS_2