
Om Theo segera membaca semua informasi tentang Markus. Saat itu dia masih berada di ruang latihan bersama Marvin dan Asisten Zack. Dan Marvin sudah mengobati luka di lengannya.
Nama: Markus
Kelahiran: 17 Januari 1973
Riwayat Pekerjaan: Ahli Bedah Kardiotoraks di RS JK (2000 - 2004)
Istri: Aline Juliana
Tanggal Lahir Aline : 1 Juli 1976
Anak: -
(Ahli bedah kardiotoraks adalah dokter medis yang mengkhususkan diri dalam prosedur bedah jantung, paru-paru, kerongkongan, dan organ lain di dada.)
Mata Om Theo fokus pada sebuah nama yang tak asing untuknya, mengapa nama istrinya Markus mirip sekali dengan mantan kekasihnya, bahkan tanggal lahirnya juga sama.
"Aline Juliana?" Mata Om Theo berkaca-kaca menyebutkan nama itu. Kemudian dia menatap Asisten Zack, "Apa kamu memiliki foto istrinya Markus?"
"Saya belum menemukan fotonya, biar nanti..."
__ADS_1
Marvin memotong perkataan Asisten Zack, "Untuk apa Om menyelidiki tentang istrinya Markus? Dia tidak tau apa-apa tentang kesalahan suaminya." Marvin memang sengaja tidak memberitahu tentang Aline kepada Om Theo karena takut Om Theo melukai istrinya Markus tersebut, dia sangat tau bagaimana sikap Omnya.
"Apa kamu tau sesuatu tentang dia? Mengapa tidak memberitahuku!" Om Theo bertanya kepada Marvin dengan nada membentak.
"Miss Aline tidak ada hubungannya dengan kesalahan Markus, jadi aku rasa Om tidak perlu mencari dia." Marvin sama sekali tidak tau kalau Aline adalah mantan kekasihnya Om Theo.
Om Theo menghela nafas panjang, kemudian dia mencoba menurunkan emosinya. "Nama dan tanggal lahirnya mirip sekali dengan seseorang yang Om kenal, Om tidak mungkin menyakitinya."
Marvin merasa Om Theo bersungguh-sungguh mengatakan itu, dia memperlihatkan ponselnya pada Om Theo, disana terlihat foto Aline yang sedang terbaring koma di rumah sakit. "Ini adalah foto Miss Aline, saat ini dia sedang terbaring koma di rumah sakit."
Mata Om Theo membulat, ternyata istrinya Markus adalah Aline, mantan kekasihnya. Dia sama sekali tidak menyangka ternyata Aline menikah dengan seorang jagal seperti Markus. Matanya berkaca-kaca melihat foto itu, dadanya tiba-tiba merasa sesak, dan tangannya gemeteran.
Marvin tidak mengerti begitu memperhatikan raut wajah Om Theo yang terlihat sedih sekali, sampai hatinya bertanya-tanya ada hubungan apa antara Om Theo dengan Aline.
Ternyata selama ini dugaan Om Theo salah, dia pikir Aline hidup bahagia bersama anak dan suaminya. Namun ternyata wanita itu hidup menderita, sampai keadaannya koma karena badannya terlalu sakit menahan siksaan demi siksaan yang Markus lakukan kepadanya.
Om Theo mengepalkan tangannya. Seharusnya dia membunuh Markus lebih sadis dari kemarin, seharusnya sebelum tubuhnya dibakar hidup-hidup, dia mematahkan dulu kedua tangannya, tangan yang sudah melukai mantan kekasihnya.
"Apa dari pernikahan mereka memiliki anak?" tanya Om Theo kepada Marvin.
"Kabarnya begitu, sampai sekarang aku lagi mencari informasi tentang anaknya, apa anaknya itu masih hidup atau sudah meninggal. Belum ada info yang pasti tentang anak mereka." jawab Marvin.
__ADS_1
Erza juga bukan orang sembarangan, sama seperti mereka, dia memiliki akses agar identitas Nadine tidak terbongkar.
"Dan sepertinya Aline memiliki rahasia besar yang aku pun tak tau rahasia apa itu. Aline menyamar menjadi Miss A, dia sering berkomunikasi dengan Nadine dari Nadine masih berusia 14 tahun."
Om Theo mengerutkan keningnya, untuk apa Aline mendekati Nadine. "Apa mungkin Nadine sebenarnya anak Aline dan Markus?"
Marvin terperangah mendengarnya, dia sama sekali tidak berpikir kesana, "Jadi maksud Om, Sonya selama ini membohongi Rama Leonardo?"
Jika dugaan Om Theo benar, itu artinya Nadine dan Marvin tidak sedarah. Jika mengingat bagaimana sikap Sonya yang sama sekali tidak mengkhawatirkan Nadine saat Nadine diculik olehnya. Namun Marvin tidak ingin menduga-duga dengan hal yang belum pasti. Kuncinya adalah harus menunggu Aline siuman.
Jika Nadine adalah anaknya Markus dan Aline, rasanya tidak masuk akal juga menurut Marvin, karena saat dia menyiksa Markus, Markus menyebutkan Nadine adalah anak yang malang sambil tertawa. Tidak mungkin ada seorang ayah yang tega mentertawakan kemalangan anaknya sendiri.
Padahal Marvin ingin melupakan nama itu, namun nama Nadine kembali muncul dibenaknya. Membuat hatinya meringis. Tapi dia yakin dia bisa melupakannya dalam waktu yang cepat, dia yakin dia bisa, karena dia dari dulu memang sudah terbiasa hidup tanpa seorang wanita.
...****************...
Om Theo menemui Aline di rumah sakit, matanya berkaca-kaca, dia sangat terpukul melihat kondisi Aline.
Om Theo duduk disamping Aline, dia memegang tangan wanita itu. "Maafkan aku, Aline. Aku pikir kamu hidup bahagia bersama suami pilihanmu. Aku tidak tau ternyata selama ini hidupmu menderita. Kamu harus hidup, mulai sekarang kamu harus jalani hidupmu dengan bahagia, karena aku sudah membunuh orang yang telah membuat kamu menderita. Tidak akan ada yang berani menyakitimu lagi."
Dulu Aline adalah wanita yang sangat ceria dan sangat cantik. Namun sekarang kondisinya memprihatinkan, dia terlihat begitu kurus dan tak terawat, apalagi banyak luka lebam di wajah dan tangannya, membuat Om Theo hampir saja mau menangis melihat keadannya.
__ADS_1
"Aline, apa tujuan kamu mendekati Nadine? Ada hubungan apa diantara kalian?" Om Theo tidak ingin menduga-duga hal yang belum pasti, yang belum terbukti kebenarannya.
"Sebelum aku menyakitinya, kau harus bangun. Aku harus tau dulu ada rahasia apa antara kamu dengan Nadine Leonardo."