A Dangerous Man ( Balas Dendam Sang Mafia )

A Dangerous Man ( Balas Dendam Sang Mafia )
Pertemuan Mengharukan


__ADS_3

Nadine menghirup nafas dalam-dalam, akhirnya dia bisa merasakan udara bebas, dia tersenyum lebar memandangi pemandangan ke bawah sana, bangunan dan pepohonan terlihat kecil seperti miniatur jika dilihat dari helikopter yang sedang dia tumpangi.


Marvin sudah memberitahu Nadine tentang Aline, kalau wanita itu sedang dirawat di rumah sakit, walaupun Nadine tidak tau secara pasti mengapa Aline bisa dirawat seperti itu. Marvin hanya bilang Aline mengalami KDRT oleh suaminya.


"Kenapa kita harus naik helikopter?" tanya Nadine kepada Marvin yang diam dari tadi. Padahal pria itu duduk di sampingnya.


"Agar cepat sampai." jawab Marvin dengan ketus.


"Hmm... bilang saja kalau takut aku kabur." goda Nadine, padahal mungkin dia sebenarnya memiliki kesempatan untuk kabur jika sudah berada di rumah sakit, namun entah mengapa dia merasa berat untuk berpisah dengan Marvin.


Nadine merasa dirinya sudah tidak waras.


"Aku tidak memiliki banyak waktu, setelah dari sini kita akan pergi ke suatu tempat."


"Suatu tempat? Kemana itu?" Nadine menjadi penasaran, Marvin mau membawanya kemana setelah ini.


"Jangan banyak tanya." sikap Marvin sangat dingin sekali.

__ADS_1


Nadine menghela nafas, pria itu memang sangat menyebalkan, padahal tadinya dia sempat senang, dia mengira Marvin mengajaknya liburan ke suatu tempat. Tapi rasanya mustahil pria itu bersikap romantis padanya.


Nadine sadar betul mereka tidak ada hubungan apa-apa, hanya sebatas si penculik dan korban penculikan.


...****************...


Setelah tiba di rumah sakit, Marvin memberikan ruang untuk Nadine, agar dia bisa berduaan dengan Aline. Dia sangat penasaran sekali, sebenarnya ada hal penting apa yang ingin Aline bicarakan pada Nadine.


Sementara itu di dalam ruangan ICU, Nadine memandangi wajah Aline, wanita itu masih terbaring koma dengan dipasang ventilator dan intubasi.


"Hai Miss Aline, aku Nadine, kita sudah sering saling berkomunikasi dan saling berbagi cerita dalam waktu yang cukup lama, sekarang akhirnya aku tau siapa dirimu. Aku tidak tau apa aku harus senang atau sedih, kenapa kita bertemu dengan cara seperti ini."


Nadine memegang lembut tangan Aline, matanya berkaca-kaca, hati Nadine meringis melihat luka lebam di tangan dan wajah wanita itu, betapa bejatnya suami Aline yang telah tega menyiksa Aline seperti itu.


Padahal baru bertemu satu kali, tapi entah mengapa dia merasa sangat terpukul melihat keadaan Aline, sampai tak terasa Nadine menitikan air matanya. Hatinya bergetar melihat wanita itu.


"Pria macam apa yang tega menyakitimu seperti ini, suamimu harus mendapatkan ganjaran atas apa yang dia lakukan padamu. Dia bukan manusia, tapi binatang." Jika Nadine menjadi putrinya Aline, mungkin saja dia akan bernekad membunuh orang yang telah tega menyiksa ibunya seperti ini.

__ADS_1


Padahal Nadine selama satu minggu ini tinggal bersama dengan pria yang kejam, tapi pria itu tidak pernah berani memukulnya. Ternyata baru kali ini dia menyadari Marvin memiliki sisi baiknya, dia tidak berani melakukan kekerasan pada seorang wanita.


"Miss Aline, kau pasti kuat. Kita harus bertemu kembali. Aku merindukan semua nasihat darimu, saat kamu mengirim kata-kata semangat untukku, saat aku susah tidur kamu mengirim musik pengantar tidur padaku, saat aku sedih kamu mengirim kata-kata yang bisa membuat aku tertawa, aku rindu masakanmu yang sering kamu kirimkan padaku. Kita sudah dekat cukup lama, walaupun kita baru bertemu sekarang." Nadine mengatakannya sambil menghapus air matanya yang tiba-tiba saja keluar membasahi pipinya. Dia sangat tidak tega melihat keadaan Aline yang sangat memprihatinkan.


Nadine merasakan kasih sayang dan perhatian yang tulus dari Aline, wanita itu begitu perhatian padanya. Seakan dia mendapatkan kasih sayang dari seorang ibu. Sementara ibunya sendiri, Sonya, wanita itu sangat mengerikan.


Namun, Nadine terkejut saat melihat ada air mata mengalir dari pelupuk mata Aline, ternyata Aline ikut menangis, padahal wanita itu belum bisa bergerak sama sekali, untuk bernafas pun hanya mengandalkan ventilator.


"Miss Aline, ke-kenapa kamu menangis?"


Nadine segera berlari keluar dari ruang ICU tersebut, dia menemui Marvin yang sedang berdiri di depan pintu.


"Adam, aku melihat Miss Aline menangis. Cepat panggil Dokter!"


Marvin mengerutkan keningnya, mengapa Nadine bisa membuat Aline menitikan air matanya, padahal Aline belum sadarkan diri. Sebenarnya ada hubungan apa diantara mereka berdua.


Marvin segera menelpon Dokter Aldi, dia harap Aline akan secepatnya sadar.

__ADS_1


__ADS_2