A Dangerous Man ( Balas Dendam Sang Mafia )

A Dangerous Man ( Balas Dendam Sang Mafia )
Semakin Hancur


__ADS_3

[Om, sekarang aku akan menuju Markas The Bloods.]


Om Theo membaca pesan dari Marvin, kemudian dia meminta Asisten Zack untuk melacak keberadaan Marvin, ternyata sekarang Marvin sedang berada di jalan sukareksa.


"Kerahkan semua anggota Athena yang ada disini untuk menyerang Markas The Bloods!" Om Theo memberikan perintah kepada Asisten Zack.


"Baik, Tuan." Asisten Zack segera pergi dari sana untuk mengerahkan seluruh Anggota Athena Indonesia.


Om Theo sudah lama pensiun dalam peperangan seperti ini, namun demi menyelamatkan putri kandungnya yang belum pernah dia jumpai, dia rela melakukan apa saja demi melindungi Nadine, termasuk mengorbankan nyawanya sendiri.


Om Theo tidak mengatakan tentang Nadine yang sedang disandera oleh musuh kepada Aline, karena Aline baru saja sembuh, dia masih terbaring di atas ranjang.


Om Theo memilih Aline dirawat di mansionnya oleh dokter pribadi.


Om Theo masuk ke kamar Aline, dia ingin melihat wajah Aline sebentar, dia takut bisa saja dia tidak bisa lagi melihat wajah wanita yang selama ini selalu ada dihatinya itu.


Aline sedang menyadarkan dirinya di headboard, dia menatap Om Theo yang baru masuk ke kamarnya.


"Aku akan membawa Nadine kesini, karena itu aku harus pergi." pamit Om Theo.


Aline nampak sumringah mendengarnya, dia sama sekali tidak tau kalau Nadine berada dalam bahaya sekarang, dia menganggukan kepala, tidak sabar ingin segera bertemu dengan Nadine.


Aline kaget tiba-tiba Om Theo memeluknya, "Maafkan aku, Aline. Aku tidak tau selama ini kamu dan Nadine hidup menderita, aku tidak tau bagaimana cara menebus kesalahanku. Aku merasa menjadi pria yang gagal."


Aline membalas pelukan pria itu, "Kamu gak salah, aku yang salah karena aku gak jujur sama kamu tentang kehamilan aku." Aline terisak.


Om Theo menghapus air mata Aline, "Kalau begitu aku harus pergi. Aku pasti akan membawa Nadine kesini."


Setelah berkata begitu, Om Theo segera pergi dari sana.


Aline menatap punggung Om Theo, melihat raut wajah pria itu, entah mengapa dia merasa tidak enak hati. Dia harap Om Theo akan pulang ke mansion membawa Nadine, mereka bisa berkumpul bersama dalam ikatan keluarga.


...****************...


Tuan Rama menghela nafas panjang, dia mengerutkan keningnya begitu dalam, matanya berkaca-kaca, meratapi kepergian sang istri, Sonya telah pergi untuk selamanya.


Padahal masih banyak yang ingin dia tanyakan kepada wanita itu, dengan gampangnya dia mati meninggalkan semua dosa yang belum ditebus olehnya.

__ADS_1


Polisi bilang Sonya di duga mati karena di bunuh oleh seseorang, karena ada bekas luka cekikan di lehernya, namun sayangnya saat itu Erza memakai sarung tangan, sehingga tidak ditemukan sidik jari ketua gang The Bloods itu.


Tuan Rama menaburi bunga-bunga ke makam Sonya, "Kenapa kamu harus mati dengan begitu cepat, Sonya? Padahal masih banyak yang ingin aku tanyakan sama kamu. Kamu belum menebus kesalahanmu padaku!"


Setelah dari pemakaman, Tuan Rama langsung pulang ke mansion. Dia duduk di kursi kebesarannya, kini Leon Grup benar-benar hancur, dia tidak mungkin meminta bantuan kepada Adam Alvarez, karena bagi dia pria itu begitu misterius dan dari tatapannya menyiratkan bahwa Adam seakan membenci dirinya.


Hanya Asisten Dareen yang setia menemaninya.


"Apa kamu sudah menyelidiki tentang Adam Alvarez?" tanya Tuan Rama kepada sang Asisten.


"Sudah, Tuan. Namun saya kesulitan untuk menemukan latar belakangnya. Hanya saja yang saya tahu Adam Alvarez tinggal di Australia saat dia berusia 10 tahun."


Asisten Dareen memberikan data tentang Adam Alvarez, termasuk dimana latar belakang pendidikan seorang Adam, tidak mungkin jika tidak ada yang meliput latar belakang dan biografi mengenai pengusaha terkenal seperti dia.


Dulu Om Theo memang sengaja memalsukan apapun tentang Adam Alvarez, agar tidak sama dengan Marvin. Sehingga tidak ada yang mencurigakan dari semua data tentang pria itu.


Namun Tuan Rama masih penasaran saat mendengar perkataan dari Asisten Dareen bahwa Adam Alvarez tinggal di Australia saat dia berusia 10 tahun.


Mengapa pria itu saat menatap dirinya tatapannya begitu tajam seakan pria itu membencinya?


Sonya bilang Adam adalah pria jahat yang sudah menjebaknya, ada kemungkinan dia juga yang mengirim paket berupa satu keping kaset DVD dan voice recorder kepadanya?


Apa mungkin dialah pahlawan misterius itu?


Jika benar dia itu Adam, ada kemungkinan dia yang menculik Nadine, tapi kenapa harus mengaku-ngaku dirinya Marvin?


"Dareen, tolong kamu cek sekolah Adam Alvarez di Australia saat dia masih kecil, dan aku ingin kamu menyuruh seorang Detektif di Australia, untuk mendapatkan foto Adam saat dia masih anak-anak. Pasti di sekolah itu ada foto Adam Alvarez."


Asisten Dareen mengerutkan keningnya, "Tapi untuk apa, Tuan?"


"Aku harus memastikan sesuatu." Tuan Rama merasa dirinya sudah gila jika seandainya berpikir kalau Adam Alvarez adalah Marvin, putranya. Padahal sudah jelas Marvin Leonardo telah meninggal 18 tahun yang lalu.


"Baik, Tuan."


Asisten Dareen memandangi sebuah amplop yang didalamnya adalah hasil tes DNA Tuan Rama bersama Nadine.


Sepertinya Tuan Rama belum sanggup untuk melihat hasil tes DNA itu.

__ADS_1


"Anda belum melihat hasil tes DNA-nya, Tuan?" tanya Asisten Dareen.


"Nanti saja."


"Kalau begitu, saya saya harus pergi, Tuan. Selamat siang." pamit Asisten Dareen, dia harus pergi melakukan tugasnya yang disuruh oleh Tuannya.


Tuan Rama beberapa kali menghelakan nafas, memandangi amplop di atas meja. Siap tidak siap dia harus mengetahui kebenarannya apakah Nadine putri kandungnya atau bukan?


Dengan tangan gemetaran, Tuan Rama membuka amplop tersebut, hatinya berdebar-debar saat melihat selembar kertas yang sedang dia buka.


Mata Tuan Rama membulat, sampai nafasnya terasa sesak, ternyata hasil tes DNA itu menyatakan bahwa DNA Nadine tidak ada kecocokan dengannya. Nadine bukan putrinya, selama ini dia telah ditipu mentah-mentah oleh Sonya.


"Gak mungkin, gak mungkin Nadine bukan putriku!" Tuan Rama menitikan air matanya.


"Arrrggghhh gak mungkin!"


Tuan Rama seperti kerasukan setan, dia bangkit, merusak barang-barang di ruang kerjanya dengan membabi buta.


Prang...


Prang...


Mungkin jika Sonya masih hidup, dia akan membunuh wanita itu, sayangnya dia tidak bisa melampiaskan amarahnya kepada Sonya. Sehingga barang-barang disana menjadi pelampiasannya.


Perusahaannya telah hancur.


Hidupnya bertambah hancur setelah mengetahui kenyataan bahwa Nadine bukanlah putrinya.


Tuan Rama rela mengusir putra kandungnya dan seorang istri yang selalu setia menemaninya, demi wanita licik seperti Sonya dan seorang anak yang ternyata tidak memiliki hubungan darah sama sekali dengannya.


"Arrrggghhh!"


Prang...


Tuan Rama melempar vas bunga ke dinding, bahkan dia melemparkan semua yang ada di atas meja ke lantai, termasuk laptopnya.


Tuan Rama menangis. "Arrrggghhh Rena, maafkan aku Rena." Dia menjadi teringat dengan mantan istrinya, yang sudah dia sakiti dan dia sia-siakan.

__ADS_1


"Maafkan papa, Marvin!" Tuan Rama semakin terisak, dia mengingat bagaimana dia tega sering melakukan kekerasan kepada putra kandungnya itu.


__ADS_2