A Dangerous Man ( Balas Dendam Sang Mafia )

A Dangerous Man ( Balas Dendam Sang Mafia )
Mengikuti Permainan Sang Mafia


__ADS_3

"Ah sial, aku gak mau hidup miskin. Aku gak mau jadi orang miskin lagi." Sonya berjalan mondar-mandir di depan ruangan tempat suaminya di rawat. Dia seperti cacing yang sedang kepanasan.


Sonya mencoba menelpon Erza, dia ingin memberitahu tentang perusahaan Leon Grup yang sedang diambang kehancuran ini.


Namun sayangnya Erza tidak mengangkat telepon darinya juga, membuat Sonya semakin kesal. "Kenapa telepon aku gak diangkat juga? Apa dia sedang sibuk?"


Sonya melihat Nadine yang sedang berjalan beriringan dengan Asisten Dareen dan tiga bodyguard yang akan menjaga Nadine.


Sonya pura-pura mengkhawatirkan Nadine, begitu mendengarkan cerita dari Asisten Dareen kalau Nadine hampir saja menjadi korban penembakan malam ini.


Sonya memeluk Nadine, "Ya ampun, sayang. Kamu gak apa-apa kan? Gak ada yang terluka kan?"


Walaupun sebenarnya dia tidak peduli Nadine mau terluka ataupun tidak.

__ADS_1


Nadine melepaskan pelukan Sonya, "Aku gak apa-apa, Mah. Tapi..." Nadine sangat mengkhawatirkan pria yang sudah menolongnya, walaupun dia tidak tau siapa pria itu. Pria itu pasti sedang kesakitan sekarang, tapi kenapa dia harus menyembunyikan wajahnya?


Terlihat ada tiga polisi datang ke rumah sakit, Asisten Dareen segera memberikan beberapa pertanyaan kepada mereka.


"Apa tersangkanya sudah tertangkap?"


"Lalu bagaimana dengan orang yang sudah menolong nona Nadine?"


Nadine pun menghampiri ketiga polisi tersebut. "Bagaimana pak? Apa pria yang menolongku sudah ditemukan? Punggungnya terluka parah." Nadine lebih penasaran dengan orang yang sudah menolongnya, dibandingkan terhadap dengan orang yang mencoba membunuhnya. Dia merasa berhutang budi kepada pria itu.


"Lalu bagaimana dengan tersangka penembakan itu?" tanya Asisten Dareen, mengulangi pertanyaannya.


"CCTV di sekitar gedung telah di rusak, kami belum bisa menduga siapa pelaku penembakan itu, kami berjanji akan segera menemukanya dan menangkapnya."

__ADS_1


Sementara tulisan di atas gedung itu sudah di hapus oleh Marvin, sebelum polisi tiba disana.


Nadine merasakan kakinya menjadi lemas setelah mengingat peristiwa yang telah dia alami malam ini, dia duduk di kursi, kemudian menghela nafas panjang, dia sangat mengkhawatirkan pria yang tak sempat dia lihat wajahnya itu.


Mengapa pria itu mengorbankan dirinya untuk melindungi Nadine?


Dia yakin Adam Alvarez adalah salah satu diantaranya, apakah dia yang mencoba nembaknya atau dia adalah orang yang menolongnya?


Punggungnya pria yang menolongnya terluka, dia harus memastikan siapa pria itu. Jika Adam terluka, berarti dialah yang menolongnya, jika punggungnya tidak terluka, mungkin saja dialah orang yang ingin mencoba menembaknya.


Nadine memutuskan untuk mengikuti permainan Adam Alvarez, dia akan masuk ke dalam permainannya. Sambil memastikan apa dia orang yang menolongnya atau ternyata dia orang yang mencoba membunuhnya.


Nadine menatap Sonya, Sonya nampak gelisah dari tadi karena dia takut hidup miskin. "Mah, ayo kita terima penawaran Adam Alvarez. Kita akan bekerjasama dengannya."

__ADS_1


Mata Sonya berbinar-binar mendengarnya, akhirnya dia tidak akan jatuh miskin jika Adam mau menjadi invetor di perusahaan Leon Grup. Dan dia juga bisa melihat kembali wajah tampan itu, atau mungkin Sonya memiliki kesempatan untuk bisa dekat dengannya. "Ya sudah, biar nanti mama yang kabari Adam Alvarez."


Nadine tidak mengerti mengapa Sonya terlihat bersemangat sekali saat menyebutkan nama pria itu.


__ADS_2